Sabtu 31 Desember 2022, 14:10 WIB

Penggugat Sistem Proporsional terbuka Tidak Berhak Catut NasDem

Fachri Audhia Hafiez | Politik dan Hukum
Penggugat Sistem Proporsional terbuka Tidak Berhak Catut NasDem

MI/Seno
Ilustrasi

 

KETUA DPP Partai NasDem Willy Aditya mengatakan pemohon uji materi Undang-Undang (UU) tentang Pemilihan Umum (Pemilu), Yuwono Pintadi, tak berhak mencatut NasDem. Sebab gugatan yang dilayangkannya ke Mahkamah Konstitusi (MK) itu bersifat pribadi.

"Yuwono tidak punya hak mengeklaim Partai NasDem dalam gugatan uji materiel ke MK terkait sistem pemilu proporsional terbuka menjadi tertutup," kata Willy melalui keterangan tertulis, hari ini.

Willy mengatakan status keanggotaan Yuwono di Partai NasDem telah berakhir pada 2019. Hal itu terlihat dari tak terdeteksinya Yuwono pada sistem digitalisasi keanggotaan partai.

Dia menjelaskan terkait keanggotaan partai mesti terdigitalisasi telah digerakkan sejak Kongres Partai NasDem ke II pada 2019. Ketentuan itu sudah tertuang dalam surat edaran DPP Partai NasDem terkait migrasi keanggotaan Partai NasDem ke E-KTA (kartu tanda anggota elektronik).

"Dalam surat edaran tersebut diperintahkan semua kader melakukan registrasi ulang di tahun 2019 pada sistem digital keanggotaan Partai NasDem atau E-KTA. Bagi kader yang tidak melakukan registrasi ulang tersebut dianggap mengundurkan diri dan tidak tercatat dalam sistem keanggotaan partai," ujar Willy.

"Artinya Yuwono Pintadi bukan lagi kader NasDem karena tidak patuh terhadap surat edaran tersebut," tambah Willy.

Ia juga menegaskan bahwa NasDem menolak sistem pemilu proporsional tertutup. Sistem pemilu proporsional terbuka yang diterapkan saat ini sejatinya sudah tepat di negara demokrasi.

"Jika ada hal-hal strategis dan politis secara garis partai sudah jelas, kita menolak sistem pemilu proporsional tertutup. Oleh karenanya, jika ada orang yang mencatut Partai NasDem atas kepentingan individu tertentu jelas ini melanggar kebijakan partai," kata Willy.

Sistem proporsional terbuka, kata dia, bentuk kemajuan dalam praktik berdemokrasi. Sistem proporsional terbuka dinilai antitesis dari sistem yang sebelumnya yakni sistem proporsional tertutup.

"Proporsional terbuka memungkinkan beragam latar belakang sosial seseorang untuk bisa terlibat dalam politik elektoral. Dengan sistem semacam ini pula, warga bisa turut mewarnai proses politik dalam tubuh partai,” pungkas Willy.(OL-4)

Baca Juga

MI/Moh Irfan.

Pertemuan Surya Paloh dan Joko Widodo hanya Temu Kangen

👤Sri Utami 🕔Jumat 27 Januari 2023, 15:40 WIB
Dalam pertemuan tersebut tidak ada membahas tentang perombakan...
ANTARA

Moeldoko Ingin Indonesia Keluar dari Zona Nyaman

👤Indriyani Astuti 🕔Jumat 27 Januari 2023, 15:11 WIB
Indonesia, ujarnya, perlu menciptakan area kompetisi antara lain melakukan percepatan, keunggulan, pembeda, dan bisa merebut...
MI/Moh Irfan.

Istana Benarkan Jokowi Bertemu Surya Paloh

👤Indriyani Astuti 🕔Jumat 27 Januari 2023, 14:52 WIB
Kabar pertemuan itu juga dikonfirmasi oleh beberapa petinggi partai NasDem, salah satunya Bendahara Umum DPP Partai NasDem Ahmad...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya