Minggu 20 Juni 2021, 13:59 WIB

Puskapol UI: NasDem Harus Bentuk Koalisi Sebelum Berkonvensi

Andhika Prasetyo | Politik dan Hukum
Puskapol UI: NasDem Harus Bentuk Koalisi Sebelum Berkonvensi

Ilustrasi
Koalisi

 

DIREKTUR Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia Aditya Perdana menilai langkah Partai NasDem dalam menggagas sebuah konvensi untuk mencari calon presiden di 2024 patut diapresiasi.

Upaya tersebut memang harus dilakukan demi melahirkan sosok calon pemimpin yang tidak itu-itu saja.

"Gagasan ini tentu harus disambut positif karena di 2024 kita harus menghadirkan calon presiden yang variatif," ujar Aditya kepada Media Indonesia, Minggu (20/6).

Hanya saja, ia meyakini bahwa jalan yang akan dilalui NasDem tidak akan mulus.

Hampir dapat dipastikan, parpol yang dipimpin Surya Paloh itu harus berkoalisi dengan partai lain dalam kontestasi pemilihan presiden.

Oleh karena itu, sebelum konvensi digelar, NasDem harus sudah terlebih dahulu membentuk koalisi dengan parpol-parpol yang memiliki visi dan misi sejalan.

"Kalau konvensi mau dilakukan tahun depan, koalisi harus sudah terbentuk terlebih dulu. Bentuk dulu koalisi, baru konvensi. Pertanyaannya, apakah ada partai yang mau mengesampingkan ego untuk kemudian dengan legowo menerima hasil konvensi?," ucap Aditya.

Dalam masa-masa kontestasi, tiap-tiap parpol pasti memiliki agenda tersendiri. Meski sudah tergabung dalam koalisi, risiko bubar setelah konvensi digelar, menurutnya, cukup tinggi. Hal itu bisa terjadi bila kandidat yang terpilih bukan berasa dari partai-partai anggota.

Baca juga : Ini Alasan Munculnya Pertanyaan Pancasila atau Al Quran di TWK

"Siapa yang bisa menjamin bahwa partai-partai anggota koalisi itu tidak akan cabut di tengah jalan. Ini betul betul harus dipertimbangkan bagaimana kontrak politiknya," sambung dia.

Gagasan berkonvensi dalam koalisi memang belum pernah dilakukan sepanjang sejarah Indonesia berdiri. Pada 2004, Partai Golkar pernah menyelenggarakan konvensi yang meloloskan Wiranto sebagai capres. Namun itu dilakukan bukan atas nama koalisi, melainkan diri sendiri.

Pada 2014, hal serupa dilakukan Partai Demokrat. Saat itu, Dahlan Iskan terpilih dalam konvensi. Namun partai berlambang mercy itu tidak jadi mengusungnya lantaran gagal memperoleh cukup suara untuk dapat mengusung calon sendiri. Akhirnya, Demokrat memutuskan mendukung pencalonan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Konvensi pun berakhir sia-sia.

Semua pengalaman dari parpol-parpol lain tentu harus menjadi pembelajaran. Membentuk koalisi untuk berkonvensi tentu menjadi tantangan, tetapi di sisi lain, jika berhasil, itu akan menjadi sebuah pencapaian. (OL-2)

 

Baca Juga

MI/Susanto

PMII Apresiasi Kejagung Atas Penetapan 10 Manajer Investasi Sebagai Tersangka Skandal Asabri

👤Mediaindonesia 🕔Sabtu 31 Juli 2021, 04:35 WIB
PB PMII mendesak Kejagung agar benar-benar membongkar skandal Asabri, termasuk dalang...
MI/Susanto

Kejagung Periksa Tiga staf Benny Tjokrosaputro Terkait Asabri

👤Mediaindonesia 🕔Sabtu 31 Juli 2021, 02:55 WIB
Ketiga saksi yang diperiksa tersebut, yakni inisial LA, JI dan...
MI/ Susanto

Sembilan Tersangka Korupsi Asabri Segera Disidang

👤Tri Subarkah 🕔Jumat 30 Juli 2021, 23:52 WIB
Menurut Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Timur, Ardito Muwardi, tim JPU masih menyusun surat...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencari Abdi Negara di Tengah Pandemi

Jumlah pelamar di bawah perkiraan 5 juta orang dan menurun ketimbang perekrutan sebelumnya.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya