Sabtu 27 Februari 2021, 23:43 WIB

Wapres: Ekslusivitas Berlebihan Bisa Ganggu Persatuan

Emir Chairullah | Politik dan Hukum
Wapres: Ekslusivitas Berlebihan Bisa Ganggu Persatuan

Setwapres
Wapres Ma'ruf Amin

 

WAKIL Presiden Ma’ruf Amin mengingatkan masyarakat agar tidak mengaktualisasikan eksistensinya dengan membuat aktivitas maupun ekspose yang menonjolkan hal-hal yang eksklusif. 

Aktivitas yang memperlihatkan karakteristik lokal dan identitas secara berlebihan dikhawatirkan mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa.

“Aktivitas maupun ekspose yang menonjolkan hal-hal yang eksklusif, seperti misalnya karakteristik lokal dan identitas yang dimiliki, yang dilakukan secara berlebihan sangat berpotensi melemahkan persatuan dan kesatuan nasional bagi bangsa yang majemuk seperti negeri yang kita cintai ini," katanya saat menyampaikan Ceramah Umum dengan tema “Politik Kebangsaan dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menuju Indonesia Hebat” pada acara Kongres Ikatan Alumni Universitas Kristen Indonesia (IKA UKI) Ke-6 yang diselenggarakan secara daring, Sabtu (27/2

Wapres mengingatkan agar sebagai generasi penerus, seluruh elemen bangsa saat ini wajib memahami dan menjaga kesepakatan-kesepakatan bangsa yang telah menjadi kerangka dasar dari bangunan kebangsaan dan sistem ketatanegaraan Indonesia di dalam Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan juga Bhineka Tunggal Ika. 

"Caranya tentu tidak cukup hanya dengan menghafal atau mencatatnya sebagai rujukan saja, tetapi dengan mengaplikasikannya dalam berbagai aspek kebijakan maupun sikap dan perilaku bermasyarakat dan bernegara," paparnya.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang sering dijadikan contoh bagaimana kerukunan nasional itu dibangun dan dikembangkan. 

Karena itu, dirinya berharap seluruh masyarakat menjaga kesepakatan yang merupakan dasar kebangsaan dan kenegaraan kita yaitu bingkai politis, yuridis, sosiologis, dan teologis. 

“Karena itu diharapkan kita semua bisa menjaga kesepakatan yang merupakan dasar kebangsaan dan kenegaraan, yang sering saya sebut sebagai 4 bingkai kerukunan nasional," terangnya.

Ia mengakui, derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang menimbulkan disrupsi dalam berbagai bidang membawa tantangan tersendiri bagi masyarakat, budaya, dan pemerintahan. 

Untuk itu, merawat kesepakatan nasional yang telah ditetapkan para pendiri bangsa perlu dilakukan sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi berbagai tantangan globalisasi. 

"Kita patut bersyukur bahwa para pendiri bangsa Indonesia yang memiliki beragam latar belakang budaya, bahasa, dan agama mendirikan NKRI atas dasar kesepakatan-kesepakatan dasar yang kokoh," jelasnya.

Ma’ruf menyebutkan, saat ini tantangan globalisasi bisa menjadi ancaman terhadap rasa kebangsaan dalam suatu negara yang majemuk seperti Indonesia.

"Hal itu dikarenakan adanya ekses dari globalisasi, atau kemajuan pembangunan ekonomi, yang manfaatnya tidak dirasakan oleh kelompok-kelompok masyarakat dan individu tertentu, sehingga merasa termarjinalkan," pungkasnya. (OL-8)

Baca Juga

MI/ANDRI WIDIYANTO

Ombudsman Sarankan Negara Bentuk Badan Khusus Kelola TMII

👤Cahya Mulyana 🕔Senin 12 April 2021, 13:35 WIB
TMII tidak boleh dikelola sembarangan mengingat luas aset negara ini sekitar 150...
ANTARA

Teror Terhadap Novel dan Simbol Berantas Korupsi

👤Cahya Mulyana 🕔Senin 12 April 2021, 13:25 WIB
Kapolri didesak mengakhiri kultur impunitas atas serangan terhadap pembela hak asasi manusia (HAM) di...
MI/SUSANTO

Dugaan Korupsi Mandala Krida, KPK Periksa 10 Saksi

👤Cahya Mulyana 🕔Senin 12 April 2021, 13:15 WIB
Hingga kini KPK belum mengumumkan tersangka dalam kasus dugaan korupsi di lingkungan Perprov DIY...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Modal Bikin Bank Baru kian Besar

 Di ketentuan RPOJK Bank Umum, bagi perbankan yang baru mau berdiri, diwajibkan memenuhi modal inti Rp10 triliun, termasuk untuk pendirian bank digital.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya