Senin 28 Desember 2020, 14:25 WIB

Penyidik Polri Bantah Prasetijo Diopname saat Diperiksa

Tri Subarkah | Politik dan Hukum
Penyidik Polri Bantah Prasetijo Diopname saat Diperiksa

MI/M Irfan
Brigjen Prasetijo Utomo 

 

PENYIDIK Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri, Kombes Totok Suharyanto membantah Brigjen Prasetijo Utomo saat proses penyelidikan dan penyidikan terkait kasus dugaan suap penghapusan nama Joko Tjandra dalam daftar buronan.

Totok mengakui, saat diperiksa, Prasetijo memang mengeluh sakit. Namun ia membantah apabila mantan Kepala Biro Koordinator Pengawas PPNS Bareskrim Polri itu sempat diopname. Ini sekaligus membantah pertanyaan Hakim Ketua Muhammad Damis yang menyinggung keterangan Prasetijo dalam sidang sebelumnya.

"Yang bersangkutan (Prasetijo) pada waktu memberikan keterangan di persidangan ini sebagai saksi, dia mengatakan dia dalam keadaan diopname pada waktu itu, ataukah dalam keadaan sakit, atau terbaring di rumah sakit? Seperti apa kondisi sesungguhnya pada saat itu?" tanya Damis kepada Totok di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (28/12).

"Memang waktu itu ada keluhan sakit Yang Mulia, tapi waktu itu sudah kita panggilkan dokter untuk dilakukan pemeriksaan, dan waktu itu diberi kesempatan untuk yang bersangkutan tetap melanjutkan untuk pemeriksaan," jawab Totok.

Menurut Totok, penyidik telah memberikan kebebasan terhadap Prasetijo saat diambil keterangannya. Hal tersebut terejawantahkan karena pemeriksaan dilakukan di ruang khusus, yakni Aula Dittipikor Mabes Polri. Saat Prasetijo mengeluh pusing, ia juga menjelaskan penyidik langsung menghubungi dokter.

"Kemudian dilakukan pemeriksaan di saat itu juga, kemudian dilakukan tensi, kemudian diberikan obat, dan diberikan kesempatan untuk istirahat di tempat, kemudian pemeriksaan kita hentikan sementara," papar Totok.

Baca juga : Komnas HAM Belum Punya Kesimpulan terkait Peristiwa KM 50

Bahkan saat penyidik bertanya ihwal kelanjutan pemeriksaan, menurut Totok, Prasetijo mengatakan bersedia untuk dilanjutkan. Totok juga menegaskan tidak ada tekanan baik fisik maupun psikis terhadap Prasetijo saat diambil keterangannya.

Dalam kasus tersebut, terpidana kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Joko Tjandra diduga menyuap Prasetijo dan mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Irjen Napoleon Bonaparte untuk menghapus namanya dari daftar buronan agar bisa masuk ke Indonesia. Itu dilakukan agar Joko Tjandra dapat mendaftarkan Peninjauan Kembali kasusnya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Penyuapan dilakukan melalui perantara pengusaha Tommy Sumardi. Berdasarkan kesaksian Tommy, uang sebanyak US$370 ribu dan Sing$200 ribu diberikan kepada Napoleon, sedangkan US$150 ribu untuk Prasetijo. (P-5)

Baca Juga

Dok. DPR Papua

DPR Papua Sambangi Fraksi-fraksi di DPR RI Soal Revisi Otsus

👤Thomas Harming Suwarta 🕔Selasa 22 Juni 2021, 23:45 WIB
Menurut Boy, selama ini banyak opini yang berkembang baik dari pemerintah maupun DPR RI melalui Pansus terkait Revisi UU Otsus yang hanya...
Dok Komnas HAM

Komnas HAM akan Panggil BIN dan BNPT soal Polemik TWK

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Selasa 22 Juni 2021, 22:57 WIB
Anam mengatakan Komnas HAM sudah melayangkan surat undangan permintaan keterangan untuk Badan Intelijen Strategis TNI, BNPT, dan...
Antara

63.950 Benur Selundupan Berhasil Disita Aparat di Jambi

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 22 Juni 2021, 21:30 WIB
Benur yang disita terdiri dari 62.400 ekor jenis pasir dan 577 ekor jenis mutiara serta jurong jenis pasir atau benur yang mulai menghitam...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kereta Api Makassar-Parepare Membangun Ekonomi dan Peradaban

Belanda pernah membuat jalur kereta api Makassar-Takalar, namun sejak Jepang berkuasa jalur itu dibongkar. Dan baru era sekarang, Sulawesi Selatan kembali memiliki jalur  kereta api

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya