Sabtu 26 Desember 2020, 01:10 WIB

Kasus Intan Jaya Tuntut Pengadilan Terbuka

Dhoka Kusuma Winata | Politik dan Hukum
Kasus Intan Jaya Tuntut Pengadilan Terbuka

Dok> Amnesty International
Direktur Eksekutif Amnesty International, Usman Hamid.

 

AMNESTY International Indonesia menyayangkan kasus pembunuhan dua warga Kabupaten Intan Jaya, Papua, yakni Luther Zanambani dan Apinus Zanambani. Pelaku harus diadili secara terbuka di pengadilan umum.

Luther dan Apinus diduga dibunuh anggota TNI pada April 2020 setelah menjalani pemeriksaan karena dicurigai sebagai anggota kelompok kriminal bersenjata. Keduanya semarga dengan Pendeta Yeremia Zanambani yang juga diduga tewas ditembak anggota TNI pada September lalu.

Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI-AD telah menetapkan sembilan anggota TNI sebagai tersangka penembakan dua warga Intan Jaya yang sempat diyatakan hilang itu.

Direktur Eksekutif Amnesty International Usman Hamid meminta para pelaku dihukum seadil-adilnya. Menurut dia, impunitas anggota militer harus disudahi. Anggota TNI yang terlibat pelanggaran hukum pidana umum wajib tunduk pada Undang-Undang No 34 Tahun 2004 tentang TNI.

“Jika mereka berkukuh menggunakan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 yang dibuat pada masa Orde Baru, itu sama saja dengan melanjutkan sistem lama yang selama ini menjadi mekanisme impunitas,” ucapnya.

Di kesempatan terpisah, mantan Ketua Tim Investigasi TGPF Intan Jaya Benny Josua mengapresiasi langkah serius TNI Angkatan Darat (AD) dalam menindaklanjuti hasil investigasi empat kasus di Intan Jaya.

TNI-AD membentuk Tim Markas Besar AD (Mabesad) menindaklanjuti temuan TGPF terkait empat kasus, yakni pembakaran ru mah dinas kesehatan di Hitadipa pada 19 September 2020, penembakan di sekitar Bandara Sugapa pada 7 Oktober, hilangnya Luther dan Apinus yang ditahan di Koramil Sugapa pada 21 April, serta kematian Pendeta Yeremia pada 19 September.

Benny berharap penanganan cepat oleh TNI-AD menyuburkan kepercayaan publik, khususnya masyarakat Papua terhadap pemerintah. Ia juga mendorong keluarga korban, termasuk kerabat Pendeta Yeremia, mendukung proses hukumnya.

“Kami berharap agar keluarga Pendeta Yeremia Zanambani memberi izin untuk autopsi karena hal tersebut menjadi bagian dari proses penyidikan.” (Dhk/Cah/P-2)

Baca Juga

MI/Susanto.

Kapolri: Binasakan Polisi yang Terjerat Kasus Narkoba

👤Rahmatul Fajri 🕔Selasa 13 April 2021, 13:32 WIB
Pasalnya, masih banyak anggota Polri yang melakukan sejumlah pelanggaran disiplin hingga pidana. Tapi, dirinya akan terus membawa perubahan...
Ant/Jojon

Kadiv Propam Polri Prihatin, Anggota Bermasalah Bertambah Terus

👤Rahmatul Fajri 🕔Selasa 13 April 2021, 13:26 WIB
KEPALA Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri Irjen Ferdy Sambo mengatakan anggota kepolisian yang bermasalah terus bertambah...
Antara/Setpres/Laily Rachev.

Nama Baru sudah Ada, Kabinet Mungkin Dirombak Pekan Ini

👤Andhika Prasetyo 🕔Selasa 13 April 2021, 13:09 WIB
Ma'ruf Amin sudah diajak berembuk oleh kepala negara menyangkut rencana reshuffle...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Salah Kaprah Salurkan Energi

Kenakalan remaja pada masa lalu hingga masa kini masih ada, bahkan semakin meninggi. Itu terjadi karena remaja sering kali mementingkan solidaritas grup.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya