Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMAT militer dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis (LESPERSSI) Beni Sukadis menilai pendekatan militer yang dijalankan pemerintah pusat di Papua tidak akan berhasil menciptakan kedamaian.
Ia melihat program pengiriman pasukan sudah berjalan selama bertahun-tahun, bahkan sejak era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, namun sampai sekarang, kondisi tidak kunjung kondusif.
"Awal mula pengiriman pasukan itu kan karena dulu ada serangan dari kelompok kriminal bersenjata (KKB) kepada pos-pos koramil, patroli TNI dan polisi. Tapi kenyataannya, sampai sekarang tidak bisa meredakan perlawanan. Artinya kebijakan itu terbukti kontraproduktif. Menurut saya sangat tidak kondusif, tidak bisa mendorong kondisi di Papua menjadi damai," ujar Beni kepada Media Indonesia, Minggu (8/11)
Menurut Beni, pemerintah harus mulai membuka ruang dialog dengan kelompok-kelompok politik di Papua seperti Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan yang lain sebagainya.
"Saya tidak bicara KKB, tapi kelompok-kelompok politik. Bagaimanapun, mereka punya pengaruh signifikan terhadap kondisi di Papua. Itu yang harus didekati, diajak dialog, diajak negosiasi damai," tuturnya.
Baca juga : Lagi, Densus 88 Amankan Dua Teroris di Sumbar
Berkaca dari pengalaman yang telah dilakukan dengan Gerakan Aceh Merdeka, ia melihat seharusnya pemerintah tidak akan mengalami kesulitan untuk melakukan hal serupa dengan kelompok-kelompok di Papua.
"Kita sudah pernah berhasil, kenapa tidak dilakukan pendekatan yang sama? Entah nanti bagaimana hasilnya, yang penting pemerintah sudah terlihat memiliki niat, itikad baik untuk itu," ucap Beni
Sedianya, ia memandang berbagai persoalan yang terjadi di Papua bukan seluruhnya kesalahan pemerintah pusat. Melalui kebijakan otonomi khusus, pemerintah telah memberikan ruang gerak yang luas bagi pemerintah daerah setempat untuk mengurus sendiri kepentingan masyarakat setempat.
"Yang menjadi persoalan, korupsi di sana sangat besar. Pemerintah telah menggelontokan dana besar untuk kesejahteraan masyarakat tetapi itu tidak menetes sampai ke bawah. Banyak dikorupsi terutama di tingkat kabupaten," tandasnya. (OL-7)
WAKIL Bupati Jayawijaya Papua, Ronny Elopere mengecam serangan kelompok sparatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Egianus Kogoya yang menembak mati 2 warga sipil.
Indrajaya mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dan menindak tegas pelaku kejahatan, seraya mengatakan pelanggaran tersebut tidak dapat diampuni.
Jalur dialog secara intensif harus dibuka oleh pemerintah karena situasi kekerasan di Bumi Papua terus berlangsung sejak lama.
Evakuasi jenazah korban penyerangan KKB menghadapi kendala berat karena lokasi kejadian berada di area hutan lebat dengan akses transportasi terbatas.
Puan lantas menyatakan bahwa DPR RI, khususnya Komisi I dan III, memiliki wewenang konstitusional untuk mengawasi kebijakan pertahanan, keamanan, serta hukum dan HAM.
DUA jenazah pendulang emas yang tewas dibunuh kelompok kriminal bersenjata atau KKB Papua di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan selesai divisum di RSUD Dekai.
Selama ini, sektor pertanian di Papua terbebani oleh ongkos pengiriman pupuk yang sangat mahal.
POLRES Mamberamo Raya menangani peristiwa kecelakaan lalu lintas sungai yang terjadi di Sungai Mamberamo dan mengakibatkan tiga orang warga dilaporkan hilang terbawa arus, Jumat (16/1).
Ia menilai tidak adanya kecocokan antara kebijakan pusat dan aspirasi lokal membuat masyarakat merasa diabaikan.
Kondisi ini dipicu oleh aktivitas Bibit Siklon Tropis 91W dan penguatan Monsun Asia yang meningkatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang di jalur Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
Sepanjang tahun 2025, Kepolisian Daerah Papua mencatat 104 aksi kekerasan yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), dengan korban 94 orang meninggal dunia.
Papua merupakan tanah yang sarat dengan nilai-nilai kedamaian
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved