Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Anies Klaim Waspadai Covid-19 Jauh Sebelum Pemerintah Pusat

Putri Anisa Yuliani
23/4/2020 21:54
Anies Klaim Waspadai Covid-19 Jauh Sebelum Pemerintah Pusat
Foto Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam spanduk kampanye pencegahan covid-19(MI/ BARY FATAHILAH)

GUBERNUR DKI Jakarta Anies Baswedan memaparkan dirinya sudah mencurigai bahwa virus covid-19 akan mewabah ke seluruh dunia semenjak penyakit dari virus itu masih disebut Pneumonia Wuhan.

Covid-19 diketahui pertama kali merebak di Kota Wuhan, Tiongkok pada Januari lalu. Saat itu penyakit yang timbul umumnya adalah pneumonia berat sehingga disebut dengan Pneumonia Wuhan. Baru pada 12 Februari, WHO memberi nama virus tersebut dengan nama Virus Korona 2019 dan penyakitnya disebut Corona Virus Disease 19 atau Covid-19.

Anies pun sempat heran melihat pemerintah pusat tidak waspada terhadap wabah baru itu pada waktu tersebut. Ia mengaku langsung bergerak memberikan kewaspadaan pada jajaran Pemprov DKI untuk antispasi penyebaran virus itu.

"Ini soal apakah ini masalah dari luar yang harus kita tangkis atau tidak. Kalau kita tidak menangkis, ya kita tunggu dulu sampai muncul masalah di sini, baru kemudian kita susun semua langkah untuk bergerak. Kami tidak," kata Anies dalam konferensi pers virtual bersama LIPI, Rabu (22/4) bertema Relasi Pemerintah Pusat Dan Daerah Dalam Mengatasi Covid-19.

Baca juga: Penerbangan Komersil Setop, Layanan Navigasi Tetap Ada

"Bapak ibu boleh cek seluruh record-nya. Dari mulai awal Januari, awal Januari ada seluruh catatannya bahwa DKI mulai melakukan sosialisasi, Rumah Sakit-Rumah Sakit disiapkan, diberitahu gejalanya. Waktu itu namanya masih Pneumonia Wuhan, belum disebut sebagai Corona, masih Pneumonia Wuhan. Kita langsung kampanyekan. Apa mindset-nya di situ? Bahwa ini bisa terjadi di Indonesia. Tapi kalau mindset kita ini tidak terjadi di kita, maka ya kita santai," paparnya.

Ia pun mengakui punya cara pandang yang berbeda dengan pemerintah pusat dalam menangani covid-19. Ia lebih memilih menyosialisasikan kewaspadaan wabah sedini mungkin untuk pencegahan.

"Jadi kalau boleh saya berpandangan di sini, isunya bukan soal struktur, isunya bukan soal kewenangan, isunya bukan soal pembagian kekuasaan. Isunya adalah soal cara pandang terhadap masalah. Yang disebut sebagai wabah ini bukan demam berdarah yang munculnya lokal. Ini adalah masalah yang munculnya dari internasional ke sini. Karena itu, ketika kemudian kami di Jakarta melihat langkah," ujarnya.

Komunikasi pun terus dibangun dengan pemerintah pusat yakni Dinas Kesehatan dengan Kementerian Kesehatan. Mereka secara rutin sejak Januari-Februari bertukar informasi terus. Namun, melihat perkembangan kasus dan sikap pemerintah pusat yang belum juga menyosialisasikan persoalan membuat ia pun mengambil tindakan sebaliknya dengan bersikap terbuka sejak kasus pertama diumumkan.

"Tapi kami menyaksikan di lapangan. Ini kasusnya berkembang terus, tambahan ini. Tapi tidak pernah keluar di publik nasional, mari hati-hati. Mari waspada. Mari kita lihat gejalanya. Itu yang dibutuhkan. Publik itu harus siap. Nah, kami di Jakarta menyaksikan datanya, di sisi lain itu semua dilaporkan. Kami tidak melihat pesan itu. Karena itu, kami akhirnya pada akhir Februari, awal Maret kami sampaikan kepada masyarakat untuk waspada. Muncullah dua kasus pertama tanggal 3 Maret," tandasnya.(OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya