Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
ISU penarikan uang yang ramai di media sosial memancing pejabat keuangan untuk merespons. Mulai Menteri Keuangan hingga Ketua Otoritas Jasa Keuangan menilai ajakan itu tidak bertanggung jawab. Tindakan itu merugikan kehidupan masyarakat dan mengganggu pembangunan yang kita sedang lakukan. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang suka menganiayai
diri kita sendiri. Pemikiran destruktif harus dibuang jauh-jauh karena banyak saudara kita yang hidup masih kekurangan. Mereka akan semakin menderita kalau kita merusak pembangunan yang sudah kita lakukan.
Ibarat menanam pohon, kita perlu merawat dan menyiraminya setiap hari. Diperlukan kesabaran untuk menunggu pohon itu tumbuh. Perlu bertahun-tahun untuk membuat pohon itu bisa berdiri kuat sehingga memberikan keteduhan. Namun, tidak perlu sampai 5 menit untuk memotong pohon yang susah payah kita tanam. Sekarang ini dunia sedang dihadapkan kepada kondisi yang begitu menekan.
Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral menyebutkan kondisi sekarang sebagai too low (karena pertumbuhan ekonomi yang terlalu rendah), too long (karena sudah sejak krisis global 2008), serta too few (karena hanya segelintir orang yang bisa menikmati kemajuan). Untuk itulah, kita harus bergandengan tangan agar tidak menjadi bangsa yang merugi. Kita masih punya peluang untuk memperbaiki kehidupan kita bersama. Namun, syaratnya kita harus fokus dan bisa merumuskan kebijakan yang tertuju kepada peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat.
Sekarang ini arah kebijakan sering berjalan sendiri-sendiri. Salah satunya bisa dirasakan dalam pengembangan teh. Tanaman ini sudah ada di negeri ini sejak 1684. Bahkan perkebunan teh sudah didirikan pada 1827. Ekspor teh pertama sudah dilakukan pada 1835. Namun, keadaannya sekarang ini terus menurun. Dalam lima tahun terakhir luasan perkebunan teh berkurang 5.000 hektare. Tidak usah heran apabila produksi juga menurun.
Yang lebih menyedihkan, perolehan devisa juga ikut menurun. Padahal, di perkebunan teh setidaknya ada 350 ribu orang yang bekerja. Pada 1960 ketika kita melakukan nasionalisasi perkebunan Belanda, kondisi perkebunan teh pernah porak-peranda. Dengan bantuan Bank Dunia, pemerintah merevitalisasi perkebunan teh pada 1970. Selama 30 tahun teh Indonesia kembali berjaya dan menjadi salah satu andalan penerimaan negara.
Sekarang kondisinya kembali menurun meski tidak separah kondisi pada 1960. Dari sisi produksi, kita berada di peringkat ketujuh dari tujuh produsen besar teh dunia. Pangsa pasar kita hanya 4% dari pasar dunia, jauh di bawah Kenya yang pangsanya mencapai 25%. Sekarang ini pasar lokal justru dibanjiri teh dari Vietnam. Semua itu terjadi karena kementerian pun berpikir sendiri-sendiri. Senin (21/11) lalu ketika diadakan aca ra Forum Ekspor untuk mencari jalan meningkatkan ekspor teh, hanya Kementerian Perdagangan yang hadir.
Para pejabat kementerian lain tidak merasa peduli untuk ikut memikirkan dan mencari jalan keluar bagi revitalisasi industri teh Tanah Air. Kita sering kali merasa iri dengan bangsa lain. Ketika mengikuti kunjungan pejabat Indonesia ke Jepang, misalnya, kita bisa melihat kekompakan dari pejabat di negeri itu. Ketika pejabat Indonesia bertemu dengan para pejabat Jepang, pejabat yang ditemui berikutnya tahu hal-hal yang sudah dibicarakan saat bertemu pejabat sebelumnya.
Tidak kecuali pejabat itu eksekutif atau legislatif, notulensi pertemuan diketahui semua pejabat. Pada kita hasil pertemuan itu seakan rahasia bagi pejabat yang lain. Bahkan informasi hasil kesepakatan yang seharusnya diketahui semua pihak sering kali tidak sampai ke bawah. Tidak usah heran apabila nota kesepahaman pun akhirnya tidak bisa dijalankan. Kesepakatan kita menjadi bangsa merdeka ialah untuk bersama-sama menciptakan kesejahteraan umum. Tanggung jawab itu berada di pundak kita bersama.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved