Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Destruktif

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
23/11/2016 05:31
Destruktif
(ANTARA FOTO/Irfan Anshori)

ISU penarikan uang yang ramai di media sosial memancing pejabat keuangan untuk merespons. Mulai Menteri Keuangan hingga Ketua Otoritas Jasa Keuangan menilai ajakan itu tidak bertanggung jawab. Tindakan itu merugikan kehidupan masyarakat dan mengganggu pembangunan yang kita sedang lakukan. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang suka menganiayai
diri kita sendiri. Pemikiran destruktif harus dibuang jauh-jauh karena banyak saudara kita yang hidup masih kekurangan. Mereka akan semakin menderita kalau kita merusak pembangunan yang sudah kita lakukan.

Ibarat menanam pohon, kita perlu merawat dan menyiraminya setiap hari. Diperlukan kesabaran untuk menunggu pohon itu tumbuh. Perlu bertahun-tahun untuk membuat pohon itu bisa berdiri kuat sehingga memberikan keteduhan. Namun, tidak perlu sampai 5 menit untuk memotong pohon yang susah payah kita tanam. Sekarang ini dunia sedang dihadapkan kepada kondisi yang begitu menekan.

Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral menyebutkan kondisi sekarang sebagai too low (karena pertumbuhan ekonomi yang terlalu rendah), too long (karena sudah sejak krisis global 2008), serta too few (karena hanya segelintir orang yang bisa menikmati kemajuan). Untuk itulah, kita harus bergandengan tangan agar tidak menjadi bangsa yang merugi. Kita masih punya peluang untuk memperbaiki kehidupan kita bersama. Namun, syaratnya kita harus fokus dan bisa merumuskan kebijakan yang tertuju kepada peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat.

Sekarang ini arah kebijakan sering berjalan sendiri-sendiri. Salah satunya bisa dirasakan dalam pengembangan teh. Tanaman ini sudah ada di negeri ini sejak 1684. Bahkan perkebunan teh sudah didirikan pada 1827. Ekspor teh pertama sudah dilakukan pada 1835. Namun, keadaannya sekarang ini terus menurun. Dalam lima tahun terakhir luasan perkebunan teh berkurang 5.000 hektare. Tidak usah heran apabila produksi juga menurun.

Yang lebih menyedihkan, perolehan devisa juga ikut menurun. Padahal, di perkebunan teh setidaknya ada 350 ribu orang yang bekerja. Pada 1960 ketika kita melakukan nasionalisasi perkebunan Belanda, kondisi perkebunan teh pernah porak-peranda. Dengan bantuan Bank Dunia, pemerintah merevitalisasi perkebunan teh pada 1970. Selama 30 tahun teh Indonesia kembali berjaya dan menjadi salah satu andalan penerimaan negara.

Sekarang kondisinya kembali menurun meski tidak separah kondisi pada 1960. Dari sisi produksi, kita berada di peringkat ketujuh dari tujuh produsen besar teh dunia. Pangsa pasar kita hanya 4% dari pasar dunia, jauh di bawah Kenya yang pangsanya mencapai 25%. Sekarang ini pasar lokal justru dibanjiri teh dari Vietnam. Semua itu terjadi karena kementerian pun berpikir sendiri-sendiri. Senin (21/11) lalu ketika diadakan aca ra Forum Ekspor untuk mencari jalan meningkatkan ekspor teh, hanya Kementerian Perdagangan yang hadir.

Para pejabat kementerian lain tidak merasa peduli untuk ikut memikirkan dan mencari jalan keluar bagi revitalisasi industri teh Tanah Air. Kita sering kali merasa iri dengan bangsa lain. Ketika mengikuti kunjungan pejabat Indonesia ke Jepang, misalnya, kita bisa melihat kekompakan dari pejabat di negeri itu. Ketika pejabat Indonesia bertemu dengan para pejabat Jepang, pejabat yang ditemui berikutnya tahu hal-hal yang sudah dibicarakan saat bertemu pejabat sebelumnya.

Tidak kecuali pejabat itu eksekutif atau legislatif, notulensi pertemuan diketahui semua pejabat. Pada kita hasil pertemuan itu seakan rahasia bagi pejabat yang lain. Bahkan informasi hasil kesepakatan yang seharusnya diketahui semua pihak sering kali tidak sampai ke bawah. Tidak usah heran apabila nota kesepahaman pun akhirnya tidak bisa dijalankan. Kesepakatan kita menjadi bangsa merdeka ialah untuk bersama-sama menciptakan kesejahteraan umum. Tanggung jawab itu berada di pundak kita bersama.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan