Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Angka Lima

06/1/2026 05:00
Angka Lima
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir. Tentu yang saya maksud bukan Pancasila karena usia Pancasila lebih dari satu dekade. Angka lima yang saya maksud ialah capaian pertumbuhan ekonomi kita sejak 2015 hingga 2025. Angka lima seperti sudah cukup menjadi jangkar optimisme perekonomian Indonesia.

Lihatlah, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 5,4%-5,8%. Bank Indonesia memproyeksikan sekitar 5,3%. Ekonom Indef dan kalangan dunia usaha, seperti Apindo, mematok angka yang sedikit lebih rendah, tetapi tetap berada di rentang yang sama, yakni sekitar 5%. Bahkan, lembaga internasional seperti IMF dan OECD, yang cenderung berhati-hati, masih melihat Indonesia tumbuh stabil di kisaran itu.

Perbedaan proyeksi tersebut sesungguhnya tidak mengubah satu kesimpulan penting bahwa Indonesia diperkirakan tetap tumbuh positif pada 2026. Angka 5 menjadi konsensus. Bukan angka spektakuler, melainkan cukup solid di tengah ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih dari ketidakpastian geopolitik, perlambatan perdagangan dunia, dan volatilitas pasar keuangan.

Apalagi, pada akhir pekan lalu, dunia diguncang oleh sebuah serangan 'aneh' Amerika Serikat (AS) ke Venezuela. Presiden Donald Trump mendalilkan serangan itu sebagai upaya mencegah 'teror narkoba' yang 'dipimpin' oleh Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Karena itu, Trump menangkap Maduro dan istrinya untuk dibawa dan diadili di AS. Kurang aneh bagaimana lagi?

Namun, banyak yang meyakini bahwa langkah Trump menyerang Venezuela dan menerungku Maduro itu punya maksud telanjang, bukan sekadar urusan narkoba: menguasai minyak Venezuela. Negeri di Benua Amerika itu merupakan salah satu negara yang memiliki cadangan minyak bumi terbesar di dunia. Jika begitu keadaannya, tantangan perekonomian global yang 'kurang diperhitungkan' bisa memengaruhi perekonomian kita bakal berubah drastis. Karena itu, sikap optimisme yang ditunjukkan pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut bahwa ekonomi kita bisa tumbuh hingga 6% pada tahun ini sepertinya harus dikoreksi.

Optimisme itu memang tidak datang dari ruang hampa. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi mesin utama pertumbuhan, ditopang oleh struktur demografi yang relatif muda. Investasi menunjukkan perbaikan seiring dengan membaiknya iklim usaha pascapandemi. Ekspor masih memberikan kontribusi meskipun tidak sekuat periode lonjakan harga komoditas beberapa tahun lalu. Inflasi relatif terkendali dalam target Bank Indonesia dan surplus neraca perdagangan yang sempat menguat menjelang akhir 2025 memberikan sinyal stabilitas sektor eksternal.

Namun, pertumbuhan di angka 5 juga menyimpan pertanyaan mendasar, yaitu apakah kita sekadar berpuas diri karena mampu bertahan atau berani mengoreksi struktur ekonomi agar bisa melompat lebih tinggi? Selain itu, apakah jalan menuju peningkatan kesejahteraan rakyat cukup disangga oleh angka 5?

Ketergantungan berlebih pada konsumsi domestik, misalnya, membuat perekonomian rentan ketika daya beli tertekan. Konsumsi memang penyangga, tetapi bukan lokomotif transformasi. Di sisi lain, tanda-tanda deindustrialisasi dini, stagnasi produktivitas, serta tekanan terhadap kelas menengah menjadi peringatan bahwa fondasi jangka panjang belum sepenuhnya kukuh. Pertumbuhan yang stabil belum tentu identik dengan pertumbuhan yang berkualitas.

Risiko eksternal juga belum sepenuhnya mereda. Perlambatan ekonomi global, ketegangan perdagangan, dan serangan AS ke Venezuela berpotensi menekan ekspor dan aliran investasi. Dalam konteks itu, proyeksi lembaga internasional yang lebih konservatif seharusnya dibaca bukan sebagai pesimisme, melainkan sebagai pengingat agar Indonesia tidak terlena oleh stabilitas semu.

Karena itu, rekomendasi para ekonom patut dicermati. Reformasi struktural tidak bisa terus menjadi jargon tahunan. Peningkatan produktivitas, penguatan sektor manufaktur, dan perluasan basis investasi, termasuk investasi asing berkualitas, harus menjadi agenda nyata, bukan sekadar target di atas kertas. Pengembangan keterampilan tenaga kerja, pemanfaatan teknologi digital, dan hilirisasi sumber daya alam perlu dijalankan secara konsisten agar nilai tambah benar-benar tinggal di dalam negeri.

Yang tak kalah penting, pertumbuhan ekonomi harus lebih inklusif. Angka makro yang baik akan kehilangan makna jika manfaatnya tidak dirasakan secara merata. Ketimpangan yang melebar justru dapat menjadi penghambat pertumbuhan itu sendiri. Apalagi, sudah dalam kurun satu dekade terakhir, upaya perbaikan pemerataan ekonomi cenderung stagnan. Angka rasio gini yang seperti berhenti menunjukkan bahwa kesenjangan ekonomi masih menjadi pekerjaan yang butuh ikhtiar keras.

Tahun 2026, dengan segala proyeksi dan risikonya, tampaknya akan kembali menempatkan Indonesia pada persimpangan lama, yaitu bertahan nyaman di angka 5 atau berani membenahi struktur untuk menembus batas yang lebih tinggi. Stabilitas sudah kita miliki. Tantangannya kini bukan sekadar tumbuh, melainkan memastikan pertumbuhan itu kuat, adil, dan berkelanjutan.

Bila itu tantangan besarnya, butuh kerja banting tulang bagi pemerintah untuk menaklukkannya. Itu semua mesti terukur secara jelas, tidak cukup dengan pidato berapi-api di atas podium.

 



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.