Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEABAD yang silam, sejarawan sekaligus penulis fiksi ilmiah asal Inggris, Herbert George Wells, telah 'menujum' munculnya pertarungan dalam sejarah manusia. Lewat buku The Outline of History, ia menulis kalimat masyhur: Human history becomes more and more a race between education and catastrophe (sejarah manusia kian menjadi ajang perlombaan antara pendidikan dan malapetaka).
Saat pendidikan bekerja sekuat tenaga, ada saja yang merusaknya dengan melahirkan malapetaka. Ketika 'tangan-tangan' pendidikan tengah memupuk generasi, sang perusak datang silih berganti laiknya tunas-tunas baru yang dipersiapkan setelah induknya mati.
Seperti itu pula gambaran arena adu cepat penganjur toleransi, program deradikalisasi, juga suara riuh pengutuk teror dengan para penebar kebencian, pendidik jihad palsu, serta perusak mental milenial. Bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan aksi seorang teroris menembaki polisi di Markas Besar Polri ialah bentuk nyata bahwa arena seperti gambaran HG Wells itu memang ada.
Karena itu, kutukan terhadap perilaku 'jihad' sesat tersebut tidak cukup. Kutukan umumnya berusia pendek, sedangkan para teroris selalu menanamkan ingatan jahat di pikiran orang-orang dari zaman ke zaman, pula lintas generasi dan lintas gender. Dua aksi kejahatan kemanusiaan terakhir dilakukan dua perempuan, dua-duanya berusia di kisaran 25-an tahun.
Jika pendidikan kerap mendapat halangan saat kemiskinan materi terjadi, terorisme justru tumbuh subur di lahan kemiskinan. Kemiskinan material bisa mendekatkan seseorang pada kekufuran dan kegelapan.
Kemiskinan material, apatah lagi kemiskinan struktural, melahirkan mental yang rapuh. Dalam kerapuhan mental itulah terorisme bekerja. Mental yang rapuh melahirkan sikap yang kerdil, sempit nalar, walhasil menciptakan manusia 'bersumbu pendek'.
Seluruh ruang jiwa mereka disesaki klaim kebenaran dan terlalu sempit untuk bisa menerima perbedaan. Kehadiran yang berbeda dipandang dengan kecurigaan permusuhan yang harus disingkirkan dengan pengucilan, penyerangan, bahkan pemusnahan.
Dalam kekerdilan mental, orang juga akan menutup sisi positif pengalaman hidupnya. Ia akan mengutuki masa lalu, tak bisa melihat kebaikan hari ini. Karena tak bisa melihat kebaikan hari ini, dalam benaknya juga tak ada harapan kebahagiaan hidup mendatang di dunia.
Karena itu, dalam 'dunia tanpa harapan kebahagiaan' itulah, ia berharap bisa meraih kebahagiaan di akhirat dengan segera mengakhiri hidupnya: bunuh diri dengan embel-embel jihad. Orang bermental kerdil memang berani mati, tapi ia takut hidup. Dalam doktrin terorisme, mereka mati untuk menjemput kebahagiaan 'sejati', yakni surga, dengan jalan pintas.
Padahal, tak ada jalan pintas menuju surga. Dalam ajaran agama Islam, misalnya, janji surgawi hanya bisa diraih lewat keberanian hidup, beramal kebajikan, menjadi khairunnas anfauhum linnas (sebaik-baik manusia dengan cara menjadi yang bermanfaat bagi manusia lainnya), mengatasi rintangan dan tantangan zaman.
Kebencian terhadap perbedaan dan jalan pintas menuju surga tadi menyatu dalam aksi teror bom bunuh diri. Mereka meneriakkan kredo 'hidup mulia atau mati syahid'. Namun, faktanya, 'hidup tak mulia, mati pun sia-sia karena menghadirkan malapetaka'.
Kebencian pada hidup membuatnya tak bisa menemukan hidup mulia, sedangkan cara mengakhiri hidup dengan bom bunuh diri juga bukan syahid karena kesyahidan sejati mewariskan kebaikan bagi manusia lainnya. Mati karena berjuang untuk negara melawan penjajah ialah syahid karena ia melahirkan jembatan emas, yakni kemerdekaan negara.
Betapa pun kita benci terorisme, sekali lagi, solusinya tidak cukup sekadar kutukan. Kita perlu menumpas akar terorisme dengan meningkatkan kualitas dan kecerdasan hidup secara berkeadilan.
Sumber-sumber yang memicu kian dekatnya orang pada kekufuran, seperti kemiskinan material, kemiskinan struktural, kemiskinan mental, dan kemiskinan literasi harus diakhiri. Perlombaan harus dimenangi pendidikan agar malapetaka bisa kita enyahkan.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
ADA celetukan sangat viral pada 1980-an dari almarhum Gepeng. Pelawak Srimulat itu berucap, "Untung ada saya."
YAQUT Cholil Qoumas memang telah kembali dijebloskan ke balik jeruji besi rumah tahanan KPK.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved