Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Rating TVRI

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
22/1/2020 05:10
Rating TVRI
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SLOGAN TVRI, Menjalin Persatuan dan Kesatuan, tak mudah lekang dari ingatan meski kini sudah berganti menjadi Media Pemersatu Bangsa.  Semangat kedua slogan itu sependeritaan-sepenanggungan. TVRI ‘menderita’ karena menanggung tugas berat, tetapi mulia untuk menjadi media yang senantiasa mempersatukan bangsa.

Dewasa ini, di tengah perseteruan yang--mudah-mudahan tidak--tak berkesudahan antara cebong dan kadrun, tugas berat itu menjadi mahaberat.
Celakanya, pada 2013, TVRI menayangkan muktamar Hizbut Tahrir Indonesia, organisasi yang memperjuangkan Indonesia dalam bingkai khilafah, bukan NKRI. TVRI bahkan pernah mendapat petisi untuk menghentikan tayangan Inspirasi Iman yang dinilai menjadi corong doktrin khilafah.

HTI membayar TVRI untuk dapat ditayangkan selama 1 jam. Dalam dunia pertelevisian, ini lazim disebut blocking. Aturan meng­izinkan TVRI mencari sebagian kecil pemasukan karena negara sudah membiayai sebagian besar operasional mereka. Di negara lain, lembaga penyiaran publik haram menerima iklan. Sebagai televisi yang dibiayai negara, TVRI tak tahu diuntung bila menyiarkan kegiatan organisasi yang bercita-cita merongrong keutuhan negara.

TVRI memang tidak boleh mencari untung, tetapi dia juga pantang tak tahu diuntung. Bila mencari untung, TVRI yang merupakan lembaga penyiaran publik serupa lembaga penyiaran swasta, seperti industri.

Dalam ilmu ekonomi media, industri media menyasar dua jenis pasar, yaitu pengiklan dan penonton. HTI termasuk pengiklan. Penonton dalam jagat pertelevisian dihitung melalui instrumen yang disebut rating.

Rating, di dunia pertelevisian, serupa tuhan (dengan huruf t kecil) yang menentukan hidup-matinya industri televisi. Rating adalah jumlah penonton. Bila penonton banyak, iklan berdatangan. Penonton ikut ‘bekerja’ mendatangkan iklan bagi televisi. Dalam persektif Marxis, penonton televisi serupa buruh yang tidak digaji.

Bicara rating, Helmy Yahya, Direktur Utama TVRI yang pekan lalu diberhentikan dewan pengawasnya, memamerkan rating TVRI. Helmy membanggakan rating TVRI yang dulu selalu terjepit di nomor buncit, kini menjulang tinggi. Helmy hendak mengatakan, “Saya tak pantas diberhentikan karena di bawah saya rating TVRI kinclong.”

Saya tidak ingin memperdebatkan apakah tindakan dewan pengawas memecat Helmy tepat atau cacat. Toh, Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Komisi I DPR RI sedang berupaya memediasinya. Saya hanya ingin mendiskusikan argumen rating dari perspektif TVRI sebagai lembaga penyiaran publik yang mengemban visi besar mempertahankan persatuan Indonesia.

Rating TVRI terdongkrak karena program-program sport dan serial drama keluarga yang menurut dewan pengawas diimpor dari luar negeri dengan harga terlalu mahal. Jangan-jangan impor program televisi yang dilakukan TVRI berkontribusi pada defisit neraca perdagangan.

Itu artinya Helmy mendongkrak rating dengan cara kebelet alias instan, dengan membeli program, dengan harga mahal pula, katanya. Mohon maaf, menurut saya, ini tidak hebat karena rating tinggi melalui cara kebelet biasanya berlangsung cuma sekelebat, sesaat, numpang lewat. TVRI hebat bila ratingnya tinggi karena program yang mereka kreasi sendiri.

Pun, rating masih menyisakan persoalan metodologis. Rating diukur melalui alat yang disebut people meter. Bila Anda mampir di saluran TVRI pada pesawat televisi Anda selama minimal 1 menit, people meter bekerja memperhitungkan Anda sebagai penonton. Jumlah seluruh orang seperti Anda yang menonton TVRI akan dikonversi sebagai rating TVRI. Bila, misalnya, Anda singgah di saluran TVRI selama, katakanlah, 30 detik, dan kemudian Anda keluar rumah meninggalkan saluran tersebut dalam keadaan menyala dan ditonton kucing di rumah Anda selama minimal 1 menit, Anda tetap dihitung sebagai penonton atau rating.

Rating menanggung persoalan metodologis karena definisi menonton yang melulu kuantitatif. Oleh karena itu, program yang ratingnya teratas belum tentu berkualitas. Sebaliknya, program berating terpuruk belum tentu buruk. Bila rating tak selamanya berbanding lurus dengan kualitas program, buat apa TVRI membangga-banggakan rating?

Bila rating tinggi, diasumsikan banyak iklan menghampiri. Stasiun televisi berupaya meninggikan rating dengan tujuan menarik pengiklan supaya keuntungan datang. Karena TVRI pantang mencari keuntungan, buat apa repot-repot meninggikan rating, apalagi dengan membeli program instan yang harganya selangit? Rating boleh jadi tuhan untuk televisi swasta, tapi tidak untuk TVRI.

Siapa pun direksi TVRI, mereka pantang melupakan visi besar TVRI sebagai lembaga penyiaran publik yang dibiayai negara, yakni menjaga Indonesia melalui program-program hebat. TVRI pernah punya program hebat seperti Dunia Dalam Berita.
Negara mesti menolong TVRI supaya televisi publik ini bisa bersaing dengan televisi swasta dalam menayangkan program berkualitas karya anak bangsa.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)