Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Ibunya Imajinasi

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
02/12/2019 05:10
Ibunya Imajinasi
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PADA mulanya dongeng yang melahirkan imajinasi dan kreativitas. Imajinasi, kata ilmuwan Albert Einstein, lebih penting daripada pengetahuan. Penting karena imajinasi seluas bumi dan langit, sedangkan ilmu pengetahuan sangatlah terbatas.

Jika filsuf Prancis Simone Weil menganggap imajinasi telah membentuk lebih dari tiga perempat kehidupan nyata manusia, bagaimana dengan dongeng? Dongeng itu sejatinya ialah ibu imajinasi. Elok nian bila dongeng itu diperkenalkan kepada anak-anak agar imajinasi tumbuh subur dalam diri mereka.

Teknik tutur mendongeng disertai intonasi suara dan gerak tubuh justru menjadi bahan peledak untuk mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas anak. Imajinasi itu tertanam kuat, sangat kuat, dalam alam bawah sadar anak.

Sayangnya, di era teknologi komunikasi ini, anak-anak tidak lagi diperkenalkan dengan dongeng. Sebuah survei di Inggris menyebutkan tinggal 33% orangtua yang masih sempat mendongeng untuk anak. Karena itulah, Mendikbud Nadiem Makarim mengajak para orangtua meluangkan waktu membacakan dongeng.

"Jadi, mohon kepada orangtua untuk membacakan dongeng kepada anak-anak. Mohon dilakukan setiap malam kepada anak. Tak hanya ibunya, bapaknya juga harus ikutan berpartisipasi," ujar Nadiem saat memberikan sambutan pada acara Hari Mendongeng Nasional di Jakarta, Selasa (26/11).

Nadiem sang pendiri Gojek yang menjalani hidup sebagian besar di luar negeri itu justru masih suka membacakan cerita dongeng untuk anak-anak mereka di rumah. Kata Nadiem, dengan mendongeng, anak-anak dapat mencintai cerita dalam buku. "Karena dari cerita-cerita itulah, kita menciptakan imajinasi dalam otak kita dan dari situlah kita berlatih menjadi kreatif."

Si raja dongeng Kusumo Priyono dalam bukunya berjudul Terampil Mendongeng menyebut tujuan mendongeng antara lain merangsang dan menumbuhkan imajinasi dan daya fantasi anak secara wajar.

Mendongeng, menurut Priyono, menstimulasi imajinasi dan kreativitas anak. Karena dongeng yang diceritakan kepada anak akan membentuk wujud, suara, warna, dan detail di dalam pikiran anak tersebut sehingga imajinasi mereka akan berkembang. Jauh lebih penting lagi, mendongeng mampu mendekatkan emosial anak dengan orangtua mereka.

Pendongeng lainnya, Andi Yudha Asfandiyar yang menulis buku Cara Pintar Mendongeng, menyebut dongeng merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan aspek-aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), sosial, dan aspek konatif (penghayatan) anak-anak.

Pemimpin yang berhasil pada umumnya suka dongeng pada saat kecil. Bukankah pemimpin itu orang yang memiliki visi, punya kemampuan melihat jauh ke depan? Pemimpin visioner memiliki kemampuan berimajinasi yang tinggi.

Presiden Jokowi sewaktu kecil juga sering mendengar dongeng. Kecintaannya terhadap dongeng itu bermula dari kebiasaan kakeknya yang kerap membacakan cerita-cerita mitos ataupun fiksi kepadanya. Kecintaannya terhadap dongeng dikisahkan Jokowi kepada ratusan murid SD dan SMP di halaman istana pada 17 Mei 2017.

Dongeng juga menumbuhkan minat baca. Cara yang paling mudah untuk mendongeng ialah membacakan buku cerita kepada anak-anak. Ketika tertarik pada dongeng, mereka menjadi lebih tertarik pada buku-buku cerita bergambar. Dengan sendirinya, minat baca mereka juga meningkat.

Bisa jadi, rendahnya minat baca di negeri ini bertalian dengan dongeng yang tergusur oleh telepon pintar. UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Ironisnya, ini yang membuat kita mengurut dada, berdasarkan hasil penelitian bahwa orang Indonesia urutan teratas dalam hal paling lama nangkring di internet, bahkan khusus media sosial disebut paling cerewet. Rata-rata 50% lebih penduduk Indonesia aktif menggunakan media sosial.

Telepon pintar yang beredar di negeri ini sudah melampaui jumlah penduduk. Telepon pintar itu jarang digunakan untuk membaca, apalagi membacakan dongeng yang diambil dari internet. Studi yang dilakukan lembaga riset independen DEKA menyebutkan penggunaan smartphone paling besar untuk menyimpan kenangan. Sebanyak 93% pengguna ponsel mengakses fitur kamera untuk foto, dan 63% menggunakan untuk merekam video.

Terang benderanglah sudah, smartphone tidak bisa menggantikan dongeng untuk membangkitkan imajinasi dan kreativitas anak. Saatnya negara terus-menerus mendorong orangtua membiasakan mendongeng. Dongeng ialah salah satu tradisi pengajaran tertua dan dongeng menjadi sebab munculnya minat membaca.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)