Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Filosofi Bola

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
29/11/2019 05:30
Filosofi Bola
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI)

SEBULAN sudah pemerintahan baru terbentuk. Kita tentu tidak meminta ada hasil yang langsung bisa dirasakan. Membangun itu memerlukan waktu. Kita berharap konsolidasi bisa cepat dilakukan agar kemudian pemerintahan ini bisa segera bekerja.

Kita sengaja gunakan kata konsolidasi karena pemerintahan ini harus berwawasan ke depan. Bukan melihat ke belakang, apalagi hanya mencari-cari kesalahan pemerintahan yang lama. Ibarat klub sepak bola, pelatihnya tetap sama, yang berbeda hanya formasi pemain yang diturunkan.

Kalau kita ibaratkan Liverpool, Presiden Joko Widodo adalah Juergen Klopp. Saat menghadapi Crystal Palace di Liga Premier, Klopp menurunkan Georginio Wijnaldum-Fabinho-Jordan Henderson bermain sebagai gelandang. Ketika menghadapi Napoli di Liga Champions, pelatih Liverpool itu menurunkan formasi James Milner-Fabinho-Henderson.

Meski formasi pemain yang diturunkan berbeda, tujuan yang ingin dicapai Klopp dan Liverpool tidak berubah yakni meraih kemenangan. Milner, misalnya, tidak perlu menilai permainan Wijnaldum yang digantikannya. Yang harus ia fokuskan, bagaimana memberikan kontribusi terbaik agar Liverpool bisa menang.

Begitu pulalah seharusnya pemerintahan sekarang ini. Dengan segala kekurangan dan kelebihan pemerintahan yang lalu, mereka sudah mencoba memberikan yang terbaik kepada pemerintahan dan negara ini. Buktinya, Jokowi bisa terpilih kembali sebagai presiden, salah satunya pasti karena rakyat merasa puas dengan apa yang sudah diraih lima tahun yang kemarin.

Seperti halnya para pendukung Liverpool, rakyat sekarang mengharapkan kabinet yang baru ini bisa bekerja optimal untuk memenuhi harapan seluruh anggota masyarakat. Kabinet ini bekerja sebaik mungkin agar pembangunan negara ini bisa berlanjut dan rakyat bisa lebih sejahtera.

Sayang kalau cara pandang kabinet sekarang ini tidak seperti itu. Mereka melihat kabinet yang lalu sebagai saingan. Akibatnya, mereka hanya mencari-cari kekurangan kabinet lama dan lupa bahwa tantangan yang dihadapi ke depan justru lebih berat.

Tidak salah apabila ada yang mengatakan bangsa ini terjebak dalam pola pikir apa yang dalam bahasa latin disebut dengan bellum omnium contra omnes. Kita seperti berperang dengan semua. Kita seperti tidak tahu lagi mana lawan sebenarnya yang harus dihadapi.

Padahal kita ini tidak sedang bersaing dengan bangsa sendiri. Pesaing kita itu negara-negara lain seperti Vietnam, Malaysia, Singapura, atau Thailand. Kita berlomba dengan negara-negara di sekitar untuk siapa yang paling lebih dulu bisa menyejahterakan kehidupan warganya.

Semua negara di kawasan mencoba untuk bisa lebih unggul. Mereka mencoba memperbaiki iklim usaha di negara masing-masing untuk menarik investasi sebab hanya dengan masuknya investasi akan terbuka lapangan kerja, dan dengan itulah kesejahteraan rakyat bisa ditingkatkan.

Vietnam sekarang merupakan negara yang paling agresif menarik investasi. Dengan sistem sosialis yang dijalankan, mereka terus mempercantik diri. Kemudahan berusaha benar-benar diberikan. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi negara yang baru pada 1975 selesai perang itu melesat pesat.

Kita akan semakin ketinggalan kalau cara pandang masih inward looking seperti sekarang. Kita ini seperti katak dalam tempurung. Yang dilihat hanya orang-orang yang ada di sekitar kita dan mereka dianggap sebagai pesaing, bukan dijadikan partner untuk bersama-sama memajukan negeri.

Presiden sebagai pemimpin tertinggi harus mengingatkan para menterinya untuk tidak terus menebarkan aura negatif, tetapi harus berwawasan ke depan. Bukankah Presiden sudah mencanangkan, target besar yang ingin kita capai ialah mencapai produk domestik bruto US$7 triliun pada 2045.

Kita membutuhkan kemauan dan upaya yang kuat untuk mencapai cita-cita besar itu. Energi yang ada harus dipakai untuk membangun bangsa, bukan malah cakar-cakaran dan sekadar mencari kesalahan. Kita justru harus menyatukan kekuatan yang dimiliki tiap-tiap orang agar menjadi satu energi yang bisa membawa bangsa ini lebih maju.

Jangan lupa, perjalanan ke depan itu penuh dengan rintangan. Tahun depan kondisi ekonomi global tidak semakin mudah. Bahkan, sudah ada yang mengingatkan, pertumbuhan ekonomi kita tahun depan bisa di bawah 5%. Karena itu, janganlah membuang waktu dengan hanya melihat spion yang kecil, tetapi lihatlah kaca depan yang jauh lebih lebar.

 



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)