Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Sampah Labuan Bajo

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
25/11/2019 05:10
Sampah Labuan Bajo
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SAMPAH Labuan Bajo naik kelas. Persoalan sampah di daerah pariwisata superprioritas itu menjadi perhatian Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas mengenai pengembangan destinasi prioritas pariwisata di Kantor Presiden pada Kamis (21/11). Ironisnya, masyarakat lokal yang termarginalkan dalam pembangunan pariwisata belum tersentuh.

Produksi sampah di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, mencapai 12,8 ton atau 112,4 meter kubik sampah setiap hari. Padahal, tempat pembuangan akhir (TPA) hanya seluas 25--90 meter persegi. Akibatnya, jejak sampah meluber sampai di jantung kota.

Peningkatan produksi sampah pada satu sisi memperlihatkan derasnya arus wisatawan yang datang ke Labuan Bajo. Sebagian dari mereka bukanlah orang beradab yang membuang sampah pada tempatnya. Tapi pada sisi lain, ini yang lebih memperihatinkan, hal itu memperlihatkan otoritas lokal gagap mengurus sampah.

Jika pada 2013, jumlah turis domestik dan mancanegara yang datang ke Labuan Bajo cuma 44.579 orang, enam tahun kemudian jumlahnya sudah 163.237 orang hingga September 2019. Akan tetapi, kunjungan wisatawan itu masih jauh dari target 1,5 juta orang.

Pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab otoritas lokal. Kewenangan pemerintah kabupaten/kota dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah diatur dalam Pasal 9 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Disebutkan, pemerintah daerah melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala setiap enam bulan selama 20 tahun terhadap tempat pemrosesan akhir sampah dengan sistem pembuangan terbuka yang telah ditutup.

Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai lalai melakukan pemantauan dan evaluasi berkala. Sebab, luas TPA di Labuan Bajo tidak sepadan dengan sampah yang dihasilkan per harinya. Saban hari sampah diproduksi 112,4 meter kubik, TPA hanya seluas 25--90 meter persegi.

Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLF) tidak bisa cuci tangan atas persoalan sampah di daerah tujuan wisata. Tidak bisa cuci tangan karena badan itu diberi kewenangan berlimpah mengelola pariwisata Labuan Bajo berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2018. Malah, kewenangan pemerintah daerah atas pariwisata kian berkurang.

Jujur dikatakan bahwa sejauh ini BOPLF yang dibiayai APBN itu hanya membangun pariwisata melalui wacana, belum berbuat nyata. Wacana yang sempat dilontarkan BOPLF ialah wisata halal yang mendapat reaksi keras masyarakat setempat. Dirut BOPL Shana Fatina sempat dinonaktifkan terkait wacana wisata halal.

Setelah kembali aktif, Shana Fatina melontarkan wacana pemilihan aktor pemenang Piala Oscar Leonardo di Caprio menjadi Duta Pariwisata Labuan Bajo. Wacana itu juga menimbulkan pro-kontra karena Labuan Bajo dengan segala isinya sudah menjadi komoditas yang hanya dikuasai segelintir orang, namun dipromosikan uang rakyat.

Siapa pemilik usaha operator wisata dan kapal wisata serta usaha hotel dan restoran di Labuan Bajo? Yang pasti kepemilikan warga lokal bisa dihitung jari, sehingga keuntungan terbesar pariwisata dinikmati kaum pemodal nasional bahkan orang asing.

Kesimpulan studi Baratdwi Wiratmi (2018) berjudul Ekonomi Politik Ekowisata di Labuan Bajo sangat mengejutkan. Disebutkan, dominasi dan kontrol kekuasaan global-nasional telah bernegosiasi dengan kuasa lokal termasuk elite lokal, tokoh adat, tokoh agama,dan pemandu wisata lokal.

Mereka membangun narasi ekowisata, investasi, peluang pekerjaan, dan kemajuan industri pariwisata. Narasi itu hanya menjadi alat penguasaan sumber daya alam dan budaya yang memarginalkan masyarakat lokal secara sistematis dan terencana menggunakan ideologi pembangunan negara dan kuasa kapital global.

Temuan Baratdwi yang dituangkan dalam tesisnya di UGM itu terkonfirmasi melalui fakta empiris. Pariwisata boleh saja terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi gagal meningkatkan kualitas hidup masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Jumlah penduduk miskin di NTT pada Maret 2019 sebesar 1.146,32 ribu orang, meningkat meningkat 4,15 ribu orang jika dibandingkan dengan Maret 2018. NTT masih menempati posisi ketiga termiskin setelah Papua dan Papua Barat.

Kita percaya, sangat percaya, Presiden Joko Widodo memberikan perhatian besar terhadap Labuan Bajo, utamanya kualitas hidup warga lokal. Namun, jujur dikatakan bahwa perhatian Kepala Negara itu tidak mampu diterjemahkan otoritas pengelola pariwisata. Saatnya kinerja otoritas pariwisata dievaluasi, bila perlu pemimpinnya dicopot. Urus sampah saja tidak becus, apalagi mengurus manusia.

Persoalan sampah bukan kebersihan semata. Sampah sejatinya cermin peradaban. Akan tetapi jauh lebih beradab lagi jika pembangunan pariwisata Labuan Bajo tidak menjadikan warga lokal sebagai sampah sehingga harus dipinggirkan.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)