Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Pariwisata untuk Semua

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
19/11/2019 05:10
Pariwisata untuk Semua
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SEBUAH pilihan yang tepat apabila pemerintah menegaskan kembali untuk menjadikan pariwisata sebagai prioritas dan menjadi andalan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Setiap orang pasti membutuhkan pariwisata untuk memperkaya hidupnya. Ketika orang sudah tercukupi kebutuhan hidupnya, pasti mereka membutuhkan waktu untuk pergi berwisata. Pergi berlibur tak sekadar untuk membuang uang, tetapi bermanfaat pula untuk menyegarkan pikiran untuk lebih produktif.

Di era gaya hidup seperti sekarang, lebih banyak lagi orang yang ingin pergi berlibur. Apalagi generasi milenial, mereka umumnya bekerja untuk bisa menikmati hidup. Pergi berlibur mereka pakai untuk mendapatkan pengalaman.

Banyak negara yang kemudian menangkap peluang banyaknya orang yang ingin pergi berlibur. Mereka menjual potensi yang ada di negara untuk menjadi pengalaman bagi bangsa-bangsa yang lain. Tidak terkecuali negara maju yang ‘menjual’ kemajuan yang telah diraih untuk menjadi pengalaman bagi para pelancong.

Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Italia, dan Spanyol merupakan negara-negara tujuan wisata utama bangsa-bangsa dunia. Ratusan juta pengunjung setiap tahun datang ke negara-negara tersebut. Miliaran dolar yang bisa mereka dapatkan dari bisnis pariwisata.

Jika dibandingkan dengan industri-industri yang lain, pariwisata tergolong bisnis yang investasinya rendah, tetapi manfaatnya besar. Secara rata-rata hanya diperlukan investasi sekitar US$5.000 untuk satu lapangan pekerjaan yang bisa diciptakan. Kalau ekosistemnya bisa dibangun dengan benar, banyak kelompok usaha kecil dan menengah yang kemudian bisa ikut memanfaatkan bisnis industri pariwisata.

Tantangan paling berat dari pariwisata ialah membangun ekosistem. Bali membutuhkan puluhan tahun untuk menjadi tujuan wisata yang menyenangkan pengunjungnya. Orang bisa dibuat untuk ingin datang kembali ke Bali karena kenangan indah yang bisa diciptakan oleh Pulau Dewata itu.
Kalau pemerintah ingin menciptakan lima Bali yang baru, harus ada upaya keras yang dilakukan.
Pertama-tama ialah menciptakan pemahaman bahwa pariwisata itu untuk semua. Kita tidak bisa memilih-milih siapa yang akan datang. Sepanjang mereka tidak berniat untuk berbuat kejahatan, maka kita harus menyambutnya dengan tangan terbuka.
Di sinilah sering kali persoalan yang kita hadapi.
Banyak pejabat kita yang cara pandangnya sangat sempit. Mereka mencoba menciptakan stereotip yang tidak perlu dan bahkan mengotak-ngotakkan.
Pekan lalu sempat muncul kehebohan ketika dalam jumpa pers perdananya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan pihaknya akan membuat kawasan Danau Toba dan Bali lebih ramah kepada wisatawan yang beragama Islam. Interpretasi yang muncul ialah pemerintah akan membuat peraturan khusus untuk kepentingan itu.

Kebiasaan lama seperti yang sering dikritik Presiden Joko Widodo, pejabat kita senang sekali membuat regulasi yang tidak perlu. Padahal tugas pemerintah cukup menyediakan infrastruktur yang memadai serta mendorong terciptanya kondisi yang aman dan tenteram. Selanjutnya biar pelaku pariwisata sendiri yang membuat bagaimana ekosistem itu tercipta.

Kita harus ingat, mereka yang berwisata ialah orang-orang yang pikirannya terbuka. Mereka bisa mengatur diri dan membedakan mana yang boleh dan tidak boleh. Kalau mereka muslim, pasti mencari makanan yang sesuai dengan tuntutan agamanya.
Oleh karena yang dicari dari pergi berwisata itu pengalaman, maka orang tidak pernah akan pergi ke ekosistem yang sama. Turis dari Timur Tengah, misalnya, tidak akan pergi ke negara-negara Islam, tetapi lebih akan memilih berlibur ke London, Paris, atau New York. Mereka tidak pernah kesulitan mencari makanan atau tempat beribadah karena negara-negara Eropa dan Amerika sudah menyediakan kebutuhan untuk itu.

Sekarang pun banyak orang Indonesia yang pergi berlibur ke Jepang, Korea, atau Tiongkok. Apakah mereka kemudian merasa kesulitan? Sama sekali tidak karena di tempat tujuan wisata di sana mereka bisa mendapatkan semua kebutuhannya. Negara yang ekosistem pariwisatanya baik pasti menyediakan semua kebutuhan dari para wisatawannya. Dengan alat bantu pencari yang tersedia di telepon pintar sekarang ini, kita tidak pernah kesulitan untuk mencari apa yang kita perlukan.



Berita Lainnya
  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.