Selasa 19 November 2019, 05:10 WIB

Pariwisata untuk Semua

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Pariwisata untuk Semua

MI/Ebet
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group.

SEBUAH pilihan yang tepat apabila pemerintah menegaskan kembali untuk menjadikan pariwisata sebagai prioritas dan menjadi andalan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Setiap orang pasti membutuhkan pariwisata untuk memperkaya hidupnya. Ketika orang sudah tercukupi kebutuhan hidupnya, pasti mereka membutuhkan waktu untuk pergi berwisata. Pergi berlibur tak sekadar untuk membuang uang, tetapi bermanfaat pula untuk menyegarkan pikiran untuk lebih produktif.

Di era gaya hidup seperti sekarang, lebih banyak lagi orang yang ingin pergi berlibur. Apalagi generasi milenial, mereka umumnya bekerja untuk bisa menikmati hidup. Pergi berlibur mereka pakai untuk mendapatkan pengalaman.

Banyak negara yang kemudian menangkap peluang banyaknya orang yang ingin pergi berlibur. Mereka menjual potensi yang ada di negara untuk menjadi pengalaman bagi bangsa-bangsa yang lain. Tidak terkecuali negara maju yang ‘menjual’ kemajuan yang telah diraih untuk menjadi pengalaman bagi para pelancong.

Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Italia, dan Spanyol merupakan negara-negara tujuan wisata utama bangsa-bangsa dunia. Ratusan juta pengunjung setiap tahun datang ke negara-negara tersebut. Miliaran dolar yang bisa mereka dapatkan dari bisnis pariwisata.

Jika dibandingkan dengan industri-industri yang lain, pariwisata tergolong bisnis yang investasinya rendah, tetapi manfaatnya besar. Secara rata-rata hanya diperlukan investasi sekitar US$5.000 untuk satu lapangan pekerjaan yang bisa diciptakan. Kalau ekosistemnya bisa dibangun dengan benar, banyak kelompok usaha kecil dan menengah yang kemudian bisa ikut memanfaatkan bisnis industri pariwisata.

Tantangan paling berat dari pariwisata ialah membangun ekosistem. Bali membutuhkan puluhan tahun untuk menjadi tujuan wisata yang menyenangkan pengunjungnya. Orang bisa dibuat untuk ingin datang kembali ke Bali karena kenangan indah yang bisa diciptakan oleh Pulau Dewata itu.
Kalau pemerintah ingin menciptakan lima Bali yang baru, harus ada upaya keras yang dilakukan.
Pertama-tama ialah menciptakan pemahaman bahwa pariwisata itu untuk semua. Kita tidak bisa memilih-milih siapa yang akan datang. Sepanjang mereka tidak berniat untuk berbuat kejahatan, maka kita harus menyambutnya dengan tangan terbuka.
Di sinilah sering kali persoalan yang kita hadapi.
Banyak pejabat kita yang cara pandangnya sangat sempit. Mereka mencoba menciptakan stereotip yang tidak perlu dan bahkan mengotak-ngotakkan.
Pekan lalu sempat muncul kehebohan ketika dalam jumpa pers perdananya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan pihaknya akan membuat kawasan Danau Toba dan Bali lebih ramah kepada wisatawan yang beragama Islam. Interpretasi yang muncul ialah pemerintah akan membuat peraturan khusus untuk kepentingan itu.

Kebiasaan lama seperti yang sering dikritik Presiden Joko Widodo, pejabat kita senang sekali membuat regulasi yang tidak perlu. Padahal tugas pemerintah cukup menyediakan infrastruktur yang memadai serta mendorong terciptanya kondisi yang aman dan tenteram. Selanjutnya biar pelaku pariwisata sendiri yang membuat bagaimana ekosistem itu tercipta.

Kita harus ingat, mereka yang berwisata ialah orang-orang yang pikirannya terbuka. Mereka bisa mengatur diri dan membedakan mana yang boleh dan tidak boleh. Kalau mereka muslim, pasti mencari makanan yang sesuai dengan tuntutan agamanya.
Oleh karena yang dicari dari pergi berwisata itu pengalaman, maka orang tidak pernah akan pergi ke ekosistem yang sama. Turis dari Timur Tengah, misalnya, tidak akan pergi ke negara-negara Islam, tetapi lebih akan memilih berlibur ke London, Paris, atau New York. Mereka tidak pernah kesulitan mencari makanan atau tempat beribadah karena negara-negara Eropa dan Amerika sudah menyediakan kebutuhan untuk itu.

Sekarang pun banyak orang Indonesia yang pergi berlibur ke Jepang, Korea, atau Tiongkok. Apakah mereka kemudian merasa kesulitan? Sama sekali tidak karena di tempat tujuan wisata di sana mereka bisa mendapatkan semua kebutuhannya. Negara yang ekosistem pariwisatanya baik pasti menyediakan semua kebutuhan dari para wisatawannya. Dengan alat bantu pencari yang tersedia di telepon pintar sekarang ini, kita tidak pernah kesulitan untuk mencari apa yang kita perlukan.

Baca Juga

MI/Ebet

Pilih-Pilih Teken UU

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 05:00 WIB
APAKAH boleh presiden tidak meneken undang-undang (UU) yang rancangannya dibahas bersama kemudian disetujui bersama...
Dok.MI/Ebet

Melawan Jiwa Keriput

👤Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 05:00 WIB
ORANG Jepang lebih mengenal Samuel Ullman (1840-1924) ketimbang orang Amerika...
MI/Ebet

Majelis Warga

👤Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 05:00 WIB
DIKTATOR konstitusional adalah gejala pembuatan undang-undang yang tidak melibatkan publik sama...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya