Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Kepentingan Nasional

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
12/11/2019 05:10
Kepentingan Nasional
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MENARIK ucapan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengenai rencana pengembangan infrastruktur global yang diinisiasi oleh AS, Australia, dan Jepang. Indonesia menyambut baik dan akan ikut terlibat sepanjang memberi manfaat bagi peningkatan investasi di sini.

Kita memang negara yang tidak terikat kepada blok tertentu. Sejak dulu prinsip politik yang kita anut ialah bebas dan aktif. Kita akan ikut serta kepada semua inisiatif yang baik dan bisa memberikan manfaat kepada bangsa kita serta juga bangsa-bangsa dunia. Kepentingan nasional menjadi pegangan dalam setiap langkah yang kita ambil.

Pertarungan perebutan hegemoni antara AS dan Tiongkok memang semakin menarik untuk diperhatikan. Tiongkok hadir lebih dulu dengan inisiatif membangun kembali Jalur Sutra. Anggaran khusus untuk membangun jalur infrastruktur yang menghubungkan Tiongkok dengan Eropa, Asia, dan Afrika disediakan dengan jumlah yang luar biasa.

Dengan kekayaan yang dimiliki, Tiongkok sudah menjadi raksasa besar yang bisa melakukan apa saja dan kini bahkan mengancam hegemoni AS. Apalagi keputusan yang mereka ambil tidak pernah berlama-lama. Tidak usah heran jalur kereta sepanjang 12.000 kilometer untuk mengangkut berbagai produk mereka sudah terbentang sampai Inggris.

Kembali kepada tujuan besar kita untuk bisa menarik investasi, pekerjaan rumah kita tidak terletak pada inisiatif yang digagas AS atau Tiongkok, tetapi pada diri kita sendiri. Orang enggan untuk menanamkan modal ke Indonesia karena tingginya ketidakpastian. Termasuk para pejabat kita yang tidak piawai dalam berkomunikasi.

Misalnya tentang rencana pemindahan ibu kota. Ketika ditanya tentang lahan yang sekarang sudah dikuasai swasta, pejabat kita dengan enteng mengatakan, karena itu lahan milik negara maka nanti kita akan ambil alih. Bagi pengusaha, kata 'ambil alih' itu sangatlah menakutkan karena tiba-tiba saja bisnis mereka diambil oleh negara.

Sebenarnya ada bahasa yang lebih baik dipergunakan. Pemerintah akan membicarakan dengan para pengusaha yang sudah mengembangkan usaha mereka di sana. Kalau memang perlu relokasi, pemerintah akan mengganti dengan lahan di tempat lain.

Banyak pejabat sekarang ini lebih mendahulukan hasil daripada proses. Padahal proses dan hasil merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dalam kasus PT Trans-Pacific Petrochemical Indorama, misalnya, dengan enteng dikatakan, nanti perusahaan itu kita BUMN-kan saja.

Memang, ada perselisihan yang tidak kunjung tuntas di perusahaan tersebut. Akan tetapi, pemerintah tidak bisa begitu saja melakukan pengambilalihan kepemilikan. Pihak yang berselisih harus membawa persoalan ke ranah hukum dan biarkan penegak hukum yang memutuskan.

Sikap bersahabat itulah yang perlu kita perbaiki kalau kita ingin menarik investasi. Hal itu karena seorang pengusaha harus berpikir 10 tahun sampai 20 tahun ke depan kalau mau menanamkan modalnya. Mereka membutuhkan kepastian jangka panjang karena sekali investasi dilakukan, tidak mungkin begitu saja tarik kembali.

Mengapa sekarang ini investasi portofolio lebih besar daripada investasi langsung. Salah satu penyebabnya ialah mereka takut akan masa depan. Dengan investasi portofolio, mereka bisa kapan saja melepas kepemilikan saham dan keluar dari Indonesia.

Belum lagi soal kepastian dalam pengurusan perizinan, dari pengurusan izin administrasi sampai berkaitan dengan pendirian pabrik waktunya lama. Belum lagi seperti kasus di Bekasi, yang banyak pungutan tidak jelas. Untuk kegiatan di desa saja pengusaha diminta untuk memberikan sumbangan.

Kalau pengusaha nasional, mereka sudah paham dengan berbagai sumbangan. Akan tetapi, kalau perusahaan asing, mereka tidak tahu bagaimana harus membukukannya di keuangan perusahaan. Padahal, tata kelola perusahaan merupakan sesuatu yang wajib dipenuhi, dan itu tidak mengenal pengeluaran yang tidak jelas nomenklaturnya.

Pertanyaannya, sampai kapan ketidakjelasan ini bisa kita selesaikan? Ataukah kita akan terus biarkan sebagai bagian dari model berbisnis di Indonesia? Sepanjang kita tidak mampu melakukan perbaikan, jangan harap investasi akan datang ke sini.

Terasa ironis di tengah keinginan untuk menarik investasi, kita tidak berdaya dengan kondisi yang harus kita hadapi. Inilah tantangan sesungguhnya yang harus kita bisa jawab. Kalau tidak maka tidak mungkin kita membuka lapangan pekerjaan bagi begitu banyak sarjana yang lulus setiap tahun.



Berita Lainnya
  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.