Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Elite Negara dalam Sarkasme

Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
10/10/2019 05:10
Elite Negara dalam Sarkasme
Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI)

MENDUDUKI jabatan publik kiranya seperti mengandung opium. Orang menjadi kecanduan dan terjadilah sirkulasi elite, dalam sarkasme, 'dia lagi, dia lagi'.

Periksalah elite pimpinan DPR atau MPR. Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar ialah Wakil Ketua DPR (2004-2009) hasil Pemilu 2004. Dia kemudian menjadi menteri di masa SBY (2009-2014). Dia sempat 'menganggur'. Berkat perubahan UU MD3 yang memang dibuat oleh DPR hasil Pemilu 2014 untuk memperbanyak kursi pimpinan MPR, dia menjadi Wakil Ketua MPR (2018-2019).

Sekarang Muhaimin Iskandar kembali menjadi Wakil Ketua DPR hasil Pemilu 2019. Semua itu menunjukkan bahwa PKB sebagai salah satu sumber rekrutmen elite negara kiranya 'berhenti' pada diri ketua umumnya yang bernama Muhaimin Iskandar.

Lain lagi 'cerita' dua orang elite negara Hidayat Nur Wahid dan Zulkifli Hasan yang memimpin MPR. Hidayat Nur Wahid dari PKS ialah Ketua MPR (2004-2009), hasil Pemilu 2004. Dia lalu menjadi Wakil Ketua MPR (2014-2019), hasil Pemilu 2014.

Demikianlah, sebelumnya Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid kemudian mau menjadi Wakil Ketua MPR. Memakai pengertian jenjang umumnya, bukankah dalam perkara itu dia 'turun pangkat'?

Perlu pula dicatat dia 'sempat' bertarung untuk menjadi Gubernur Jakarta (2012). Saya sebut 'sempat' karena ketika itu orang bisa ikut pilkada tanpa harus berhenti dari kedudukannya sebagai wakil rakyat.

Sekalipun Hidayat Nur Wahid 'turun' dari Ketua MPR menjadi Wakil Ketua MPR, faktanya ialah dalam kedudukan itu pun dia tidak tergantikan. Sekarang dia kembali menjadi Wakil Ketua MPR, hasil Pemilu 2019. Hal itu juga menunjukkan bahwa PKS sebagai salah satu sumber rekrutmen elite negara yang memimpin MPR kiranya 'berhenti' pada diri mantan presidennya yang bernama Hidayat Nur Wahid.

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan pun tidak ada urusan dengan 'turun pangkat'. Dia Ketua MPR (2014-2019), hasil Pemilu 2014, sekarang menjadi Wakil Ketua MPR, hasil Pemilu 2019.

Zulkifli yang pernah menjadi menteri di masa SBY (2009-2014) itu tentu dapat membela posisinya bahwa ada preseden yang dibuat Hidayat Nur Wahid. 'Turun pangkat' dari Ketua MPR menjadi Wakil Ketua MPR perkara biasa saja. Bukan aib, bukan perbuatan tercela, dan sah menurut undang-undang. Dapat ditambahkan barangkali mereka berpengertian bahwa di jajaran puncak pimpinan MPR tidak dikenal demosi, degradasi, atau relegasi. Di ketinggian kedudukan kepublikan itu, yang berlaku terminologi 'pimpinan', bukan masalah 'ketua' atau 'wakil ketua'. Semuanya 'pimpinan MPR'.

Dalam pengertian itu, juga bukan soal yang menjadi 'pimpinan MPR' itu ialah 'aku lagi, aku lagi', yang dengan sarkastis publik membahasakannya 'dia lagi, dia lagi'.

Fakta 'dia lagi, dia lagi' itu pun menunjukkan bahwa PAN sebagai salah satu sumber rekrutmen elite negara yang memimpin MPR 'berhenti' pada diri ketua umumnya yang bernama Zulkifli Hasan.

Sepertinya di tubuh partai-partai itu tidak ada orang lain, selain elite penentu yang juga menentukan untuk dirinya sendiri. Mereka sudah berada di atas dan mereka mempertahankan posisi di atas itu untuk dirinya, entah sampai kapan.

Bila pemimpin politik masih berurusan dengan dirinya sendiri, masih 'sibuk' menjamin kedudukan untuk dirinya sendiri lengkap dengan imbalannya, maka terbayangkanlah bahwa inilah salah satu penyebab utama kenapa sulit lahir negarawan di negara ini.

Menjadi negarawan ialah menjadi pemimpin yang sangat kaya dalam kebajikan, yang suka memberi dan membagi demi kemaslahatan bangsa dan negara. Dia telah 'melampaui' dirinya sendiri demi orang banyak yang bernama rakyat. Sudah tentu terkandung di dalamnya kemampuan generatif seorang pemimpin.

'Kutukan elite' kiranya bukan hanya karena korupsi, melainkan juga karena mereka tidak selesai dengan diri dan kebutuhannya sendiri. Mereka bertahan di puncak elite negara seakan tidak tergantikan karena merasa paling superior. Mereka pun tidak terganggu dengan sarkasme, 'dia lagi, dia lagi.'

Izinkan saya mengutip pendapat yang saya suka dan mudah-mudahan Anda pun suka. 'Bila tiap orang dapat secara sah superior terhadap orang lain, tidak seorang pun yang superior terhadap semua orang'.



Berita Lainnya
  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.  

  • SP3 Setitik Gadai Prestasi

    29/12/2025 05:00

    IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?