Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Jihad Membunuh Api

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
18/9/2019 05:10
Jihad Membunuh Api
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI)

'GLOBAL eco-jihad'. Istilah yang saya temukan di tulisan Ramona Aly, jurnalis dan komentator, di Mingguan The Guardian edisi 6 September 2019.

Jihad ekologi global. Begitu kiranya terjemahannya. Maknanya kurang lebih perang global melawan kerusakan dan perusakan lingkungan.

'Jihad' terminologi agama. Hal berbau agama biasanya lekas menggerakkan umat. Diharapkan umat merasa berkewajiban menyelamatkan lingkungan.

Ramona Aly menulis bahwa kitab suci menyebutkan manusia ditunjuk menjadi caretaker of the Earth, khalifah di muka bumi, penjaga bumi.

Nabi, kata Ramona, mengorganisasi penanaman pohon-pohon dan membangun konservasi bernama 'hima'. Yang tak disinggung Ramona ialah bahwa Nabi melarang pasukannya merusak tanaman ketika menaklukkan satu wilayah.

Jihad diperuntukkan buat semua manusia. Agama-agama mestinya punya ajaran tersendiri tentang kepedulian pada lingkungan. Di Tanah Air, jihad ekologis yang mendesak kita lakukan ialah memerangi pembakaran dan kebakaran lahan.

Di Musi Rawas Utara, Sumatra Selatan, Ari Wijaya, petugas pemadam kebakaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dan Kopral Ferly, anggota TNI, bejihad, berjibaku, dan membunuh api yang membakar perkebunan. Mereka, bahkan harus juga berjibaku menghindari beruang. Begitu harian ini memberitakan kemarin.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pusat dan Daerah, plus anggota Polri dan TNI, juga bekerja memadamkan kebakaran lahan dan hutan. Polri menetapkan 85 orang dan 4 korporasi tersangka pembakar lahan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyegel 48 lahan perusahaan yang diduga sengaja membakar lahan. Presiden Jokowi memimpin rapat penanggulangan kebakaran lahan dan langsung datang ke Riau, daerah terparah didera kebakaran lahan.

Lihatlah, semua, dari petugas biasa sampai presiden, berjihad menanggulangi pembakaran dan kebakaran lahan dan hutan. Namun, ada saja yang tak tergerak berjihad menjaga lingkungan. Mereka ialah sejumlah kepala daerah. Mungkin mereka menganggap menanggulangi kebakaran lahan bukan jihad, bukan kewajiban mereka.

Kepala BNPB Doni Monardo mengategorikan tiga tipe kepedulian kepala daerah terhadap kebakaran lahan, yakni peduli, agak peduli, dan tidak peduli.

Yang kayaknya masuk kategori tidak peduli ialah Gubernur Riau Syamsuar dan Wali Kota Pekanbaru Firdaus, sedangkan presiden mendekati lokasi bencana, Gubernur dan Wali Kota malah menjauhinya. Syamsuar ke Thailand ikutan acara Pertumbuhan Segitiga Indonesia-Malaysia-Thailand. Firdaus bertugas ke Kanada, sedangkan warga tersedak asap di kampung halaman, Syamsuar dan Firdaus menghirup udara segar di negeri orang.

Celakanya, yang dipersalahkan pemerintah pusat. Pemerintah dianggap lalai mencegah kebakaran lahan dan hutan. Padahal, pemerintah pusat sudah habis-habisan mencegah dan mengatasinya. Kalau saja kepala daerah peduli, kebakaran lahan bisa diantisipasi. Jangan sampai ketidakpedulian ini karena mereka ada main mata dengan korporasi pembakar lahan.

Diapakan bagusnya kepala daerah yang lalai mencegah dan menanggulangi kebakaran lahan dan hutan? Dipecat Mendagri tidak bisa karena mereka dipilih langsung oleh rakyat. Disuruh ikutan memadamkan api supaya merasakan tersedak asap dan ketemu beruang, harimau, sekalian monyet, pasti ogah.

Jangan pilih lagi kepala daerah yang tak peduli, enggan berjihad, mencegah, dan menanggulangi kebakaran lahan dan hutan di daerahnya. Pilih kepala daerah yang kira-kira tergerak berjihad memerangi kerusakan lingkungan. Kepedulian kepada lingkungan mesti menjadi salah satu ukuran seseorang layak dipilih bukan saja sebagai kepala daerah, melainkan juga sebagai caretaker of the Earth," khalifah di muka bumi.



Berita Lainnya
  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.