Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
'GLOBAL eco-jihad'. Istilah yang saya temukan di tulisan Ramona Aly, jurnalis dan komentator, di Mingguan The Guardian edisi 6 September 2019.
Jihad ekologi global. Begitu kiranya terjemahannya. Maknanya kurang lebih perang global melawan kerusakan dan perusakan lingkungan.
'Jihad' terminologi agama. Hal berbau agama biasanya lekas menggerakkan umat. Diharapkan umat merasa berkewajiban menyelamatkan lingkungan.
Ramona Aly menulis bahwa kitab suci menyebutkan manusia ditunjuk menjadi caretaker of the Earth, khalifah di muka bumi, penjaga bumi.
Nabi, kata Ramona, mengorganisasi penanaman pohon-pohon dan membangun konservasi bernama 'hima'. Yang tak disinggung Ramona ialah bahwa Nabi melarang pasukannya merusak tanaman ketika menaklukkan satu wilayah.
Jihad diperuntukkan buat semua manusia. Agama-agama mestinya punya ajaran tersendiri tentang kepedulian pada lingkungan. Di Tanah Air, jihad ekologis yang mendesak kita lakukan ialah memerangi pembakaran dan kebakaran lahan.
Di Musi Rawas Utara, Sumatra Selatan, Ari Wijaya, petugas pemadam kebakaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dan Kopral Ferly, anggota TNI, bejihad, berjibaku, dan membunuh api yang membakar perkebunan. Mereka, bahkan harus juga berjibaku menghindari beruang. Begitu harian ini memberitakan kemarin.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pusat dan Daerah, plus anggota Polri dan TNI, juga bekerja memadamkan kebakaran lahan dan hutan. Polri menetapkan 85 orang dan 4 korporasi tersangka pembakar lahan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyegel 48 lahan perusahaan yang diduga sengaja membakar lahan. Presiden Jokowi memimpin rapat penanggulangan kebakaran lahan dan langsung datang ke Riau, daerah terparah didera kebakaran lahan.
Lihatlah, semua, dari petugas biasa sampai presiden, berjihad menanggulangi pembakaran dan kebakaran lahan dan hutan. Namun, ada saja yang tak tergerak berjihad menjaga lingkungan. Mereka ialah sejumlah kepala daerah. Mungkin mereka menganggap menanggulangi kebakaran lahan bukan jihad, bukan kewajiban mereka.
Kepala BNPB Doni Monardo mengategorikan tiga tipe kepedulian kepala daerah terhadap kebakaran lahan, yakni peduli, agak peduli, dan tidak peduli.
Yang kayaknya masuk kategori tidak peduli ialah Gubernur Riau Syamsuar dan Wali Kota Pekanbaru Firdaus, sedangkan presiden mendekati lokasi bencana, Gubernur dan Wali Kota malah menjauhinya. Syamsuar ke Thailand ikutan acara Pertumbuhan Segitiga Indonesia-Malaysia-Thailand. Firdaus bertugas ke Kanada, sedangkan warga tersedak asap di kampung halaman, Syamsuar dan Firdaus menghirup udara segar di negeri orang.
Celakanya, yang dipersalahkan pemerintah pusat. Pemerintah dianggap lalai mencegah kebakaran lahan dan hutan. Padahal, pemerintah pusat sudah habis-habisan mencegah dan mengatasinya. Kalau saja kepala daerah peduli, kebakaran lahan bisa diantisipasi. Jangan sampai ketidakpedulian ini karena mereka ada main mata dengan korporasi pembakar lahan.
Diapakan bagusnya kepala daerah yang lalai mencegah dan menanggulangi kebakaran lahan dan hutan? Dipecat Mendagri tidak bisa karena mereka dipilih langsung oleh rakyat. Disuruh ikutan memadamkan api supaya merasakan tersedak asap dan ketemu beruang, harimau, sekalian monyet, pasti ogah.
Jangan pilih lagi kepala daerah yang tak peduli, enggan berjihad, mencegah, dan menanggulangi kebakaran lahan dan hutan di daerahnya. Pilih kepala daerah yang kira-kira tergerak berjihad memerangi kerusakan lingkungan. Kepedulian kepada lingkungan mesti menjadi salah satu ukuran seseorang layak dipilih bukan saja sebagai kepala daerah, melainkan juga sebagai caretaker of the Earth," khalifah di muka bumi.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved