Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Bukalapak

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group 
17/9/2019 05:10
Bukalapak
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group (MI)

TIDAK ada perusahaan yang kerugiannya semakin besar, namun harga sahamnya semakin meningkat kecuali perusahaan start-up atau perusahaan rintisan. Apalagi jika mereka masuk ke dalam kelompok unicorn atau decacorn. Valuasinya semakin tidak jelas ukurannya.

Namun, atas nama zaman yang berbeda, semua menerimanya. Para pengusaha pun seperti mahfum dengan kondisi yang berbeda itu. Bahkan tidak sedikit pengusaha yang ikut ambil bagian dalam bisnis 'zaman now' ini.

Para pengusaha seperti takut ketinggalan kereta. Mereka berlomba-lomba masuk dan ikut menanamkan modal yang tidak sedikit. Bayangkan, untuk mendapatkan 1% saham Gojek, PT Astra International berani untuk menanamkan modalnya sampai US$100 juta.

Kita tidak bisa menyalahkan Direksi PT Astra International karena kalau mereka tidak masuk, investor dari luar yang masuk. Pengusaha Jepang Masayoshi Son atau pengusaha Tiongkok Jack Ma menyiapkan dana miliaran dolar untuk membeli saham unicorn atau decacorn Indonesia.

Semua tentu tidak mau kecele seperti cerita Apple dulu. Saat Steve Job merintis Apple, banyak yang memandang sebelah mata perusahaan teknologi tersebut. Ternyata kemudian Apple berkembang menjadi perusahaan raksasa dan dianggap sebagai salah satu perusahaan terbaik di dunia.

Indonesia kini setidaknya memiliki empat unicorn dan bahkan decacorn. Selain Gojek, ada Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka. Di belakang empat perusahaan tersebut ada ribuan perusahaan rintisan yang sedang merintis untuk masuk kelompok atas itu.

Kalau empat perusahaan unicorn dan decacorn itu benar-benar ingin menjadi perusahaan kelas dunia, mereka harus bertransformasi. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan kepada valuasi masa mendatang, tetapi harus menjadi perusahaan sehat.

Seperti cerita Apple, mereka harus memiliki bottom-line yang baik dan tumbuh. Tidak bisa terus membiarkan perusahaan terus merugi dan menganggap tidak apa-apa sepanjang valuasi sahamnya terus meningkat. Gelembung itu satu saat akan pecah dan kalau perusahaan itu belum juga sehat, bisa menjadi kiamat besar.

Tidak bisa mereka bersikap too big to fail. Apalagi beranggapan bahwa mereka tidak akan dibiarkan mati karena dampaknya akan terlalu besar. Terlalu mahal risiko ekonomi yang harus ditanggung kalau para pengelola perusahaan rintisan tidak memedulikan kesehatan perusahaan.

Sekarang ini ketika ancaman resesi sedang menghinggapi dunia, kekhawatiran kegagalan ekonomi bukan datang dari sistem perbankan konvensional. Seorang ahli moneter menyebutkan, ancaman itu justru datang dari perusahaan rintisan. Sebab, kita tidak tahu secara pasti berapa besar uang yang mereka kelola dan bagaimana mitigasi krisis yang mereka lakukan.

Atas dasar itulah kita menghargai langkah yang dilakukan Bukalapak untuk melakukan konsolidasi. Mereka melakukan pembenahan internal, termasuk mengurangi jumlah karyawan yang sekarang mencapai 2.600 pegawai.

Langkah itu dilakukan karena Bukalapak ingin menjadi perusahaan sehat. Mereka ingin membuat Bukalapak menjadi perusahaan yang benar-benar bisa membukukan keuntungan. Bukan perusahaan yang terus membesar valuasinya, namun masih membukukan kerugian.

Apabila Bukalapak bisa menjadi perusahaan rintisan pertama yang bisa membukukan keuntungan, pasti valuasinya juga akan semakin meningkat. Bahkan bukan hanya valuasinya yang meningkat, melainkan tingkat keberlanjutannya semakin tinggi.

Era disruption bukan berarti boleh membalikkan kaidah-kaidah perusahaan yang baik. Perusahaan rintisan jangan pernah menjadi business animal, tetapi harus memberikan manfaat lebih besar pada lingkungan. Selain bermanfaat bagi pegawai juga tidak menjadi masalah bagi masyarakat yang lebih besar.

Profesionalisme para pengelola perusahaan rintisan menjadi keharusan. Bahkan seperti perusahaan besar yang lebih dulu ada, mereka harus memimpikan bisa bertahan dalam masa yang panjang. Bukan perusahaan yang sekarang ada dan tidak peduli kemudian.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)