Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
APAKAH presiden terpilih Jokowi merasa kesulitan atau merasa tertekan atas permintaan partai terbesar agar diberi kursi menteri terbanyak? Saya yakin tidak.
Kiranya ada yang berpikiran bahwa hak prerogatif presiden seperti tempat tidur Procrustes. Dalam mitologi Yunani inilah tempat tidur jika terlalu pendek dia ditarik, jika terlalu panjang dia dipotong. Hak prerogatif presiden bukan seperti tempat tidur Procrustes.
Jangan salah paham. Berterus terang menginginkan kursi menteri sebanyak-banyaknya atau terbanyak kiranya perkara yang baik daripada menjadi ganjalan politik menahannya. Biarlah keinginan mendapat kursi menteri mengalir sederas-derasnya sehingga tiada dusta di ruang publik.
Perbincangan terbuka menginginkan kursi menteri, bahkan sampai pada jumlah kursi yang diinginkan, menunjukkan betapa partai politik (tertentu) peduli kepada kekuasaan dan kepentingan-kepentingannya sendiri. Manuver macam ini memudahkan publik membacanya, pun kelak memudahkan publik untuk 'niteni' (Jawa) setelah kursi menteri sebanyak-banyaknya atau terbanyak diperoleh dan pemerintahan dijalankan.
Dipandang dari optik konstitusi, kiranya ada desakan bagi hadirnya 'terjemahan baru atas hak prerogatif presiden'. Hak itu ialah hak yang wajib dinegosiasikan kepada partai pengusung presiden terpilih, bahkan didesak secara resmi dan terbuka melalui kongres partai untuk memberi kursi menteri proporsional sesuai kekuatan partai pengusung di DPR. Dalam bahasa yang terang benderang partai pengusung peraih suara terbanyak dalam pileg agar diberi kursi menteri terbanyak.
Kebesaran seorang presiden (terpilih) bukan hanya dalam kecanggihannya bernegosiasi politik. Orang memilih Jokowi karena orang tahu dia tidak akan memilih jalan yang mudah, yakni membagi-bagi kursi menteri seperti membagi-bagi nasi goreng yang memuaskan hasrat dan bikin senang partai pengusung.
Presiden terpilih Jokowi ialah pemimpin yang berani menghadapi tekanan dan mampu mengatasinya. Dia telah menunjukkannya dalam jilid I pemerintahannya. Contohnya, dia berani membubarkan HTI. Kenapa dia berani? Dia berani karena dia tegak di atas konstitusi dan demi konstitusi.
Karena itu, saya percaya bahwa sekalipun muncul manuver 'terjemahan baru hak prerogatif presiden' kiranya tidak bakal membuat presiden Jokowi kehilangan optik orisinal dalam melihat makna hak prerogatif presiden.
Lagi pula sebaiknya orang, termasuk partai pengusung, mengingat kebersyukuran yang utama bahwa Jokowi dipilih rakyat secara langsung. Bukan dipilih partai pengusung yang punya kursi di MPR. Kiranya inilah moralitas politik tertinggi, suara rakyat harus dijaga, dihormati. Bukankah sekalipun banyak partai dan partai terbesar turut mengusung capresnya belum tentu terpilih?
Dalam moralitas politik tertinggi itu sebetulnya kedudukan hak prerogatif presiden jauh lebih kuat karena rakyat langsung memberi hak itu kepada presiden terpilih. Dalam pengertian ini lahirnya 'terjemahan baru hak prerogatif presiden', yakni hak yang dapat dinegosiasikan, bahkan didesakkan sesuai keinginan partai pengusung, justru merupakan pukulan jab bagi demokrasi langsung.
Sekali lagi, hak prerogatif presiden bukan seperti tempat tidur Procrustes, yang menurut partai pengusung terlalu pendek atau terlalu panjang sehingga perlu ditarik atau dipotong. Hak prerogatif presiden ialah hak yang menurut konstitusi pas untuk siapa pun presiden yang dipilih rakyat. Pas, tidak terlalu pendek, tidak terlalu panjang. Pas untuk SBY, pas untuk Jokowi, pas juga untuk Prabowo kalau dia yang terpilih.
Dalam optik hak prerogatif presiden itu sesungguhnya hal yang baik bila ada partai pengusung yang tidak meminta kursi menteri. Juga bukan soal, bukan masalah baginya, bila tidak mendapat kursi di kabinet. Itulah sikap kawan sejati, berkawan di dalam pemerintahan, berkawan pula di luar kabinet.
Pertanyaan yang kerap muncul, apakah ada partai macam itu? Izinkan saya kembali menjawabnya, bukan mustahil Partai NasDem mengambil pilihan itu.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved