Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Orang Gila Mana yang Percaya?

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
01/8/2019 05:00
Orang Gila Mana yang Percaya?
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI)

INDEKS Demokrasi Indonesia secara umum meningkat. Namun, indeks aspek kebebasan sipil turun. Itulah salah satu poin pokok hasil survei Badan Pusat Statistik yang diumumkan Senin (29/7).

Penurunan kebebasan sipil itu tertinggi pada indikator ancaman/penggunaan kekerasan oleh masyarakat yang menghambat kebebasan berkumpul dan berserikat. Apa penyebabnya?

Ditengarai antara lain karena hoaks. Orang percaya berita bohong, percaya ujaran kebencian.

Siapakah yang bahagia hidup dengan hoaks, dengan berita bohong? Mungkin hanya orang gila. Alasannya?

Orang gila tidak berkemampuan membedakan yang bohong dan yang faktual. Dunia ini 'rata' baginya. Karena itu dia tidak berurusan dengan hoaks atau bukan. Emangnye gue pikirin? Orang gila telah kehilangan pikiran.

Orang waras ialah orang yang bisa membedakan mana bohong, mana faktual. Dia berpikir. Benarkah? Tidak dengan sendirinya. Justru orang waraslah yang percaya hoaks, bukan orang gila.

Maaf, dalam hal hoaks sepertinya tipis batas yang waras dan yang gila. Perbedaan yang tersisa ialah orang gila sesungguhnya tidak lagi tinggal di dalam masyarakat. 

Dia tinggal di dalam dirinya sendiri. Dia terputus dengan dunia di luar dirinya. Itu sebabnya dia tidak ada urusan dengan hoaks. Bahkan, dia tidak perlu mandi, terlebih gosok gigi.

Tinggal di dalam masyarakat berarti menjadi 'waras', atau masih 'waras'. Yang waras perlu orang lain, perlu dunia di luar dirinya. Perlu berkomunikasi. 


Karena itu perlu mandi, terlebih gosok gigi. Siapa mau berbincang bertatap muka dengan orang waras yang bau jigong? Maaf, saya tidak sudi.

Orang waras di dunia modern ini pun perlu gadget. Perlu telepon seluler. Terjadilah malapetaka itu, orang waras 'termakan' hoaks yang disebarluaskan melalui media sosial. Kebebasan sipil tergerus.

Hoaks bukan hanya 'memakan' anak bangsa ini yang katanya waras. Hoaks juga 'memakan' anak bangsa lain yang juga katanya waras. Kenapa Donald Trump menang, kenapa Brexit terjadi, karena mereka tidak percaya 'ujaran rasional' maupun 'ujaran faktual'.

Apakah Anda membenci Bulan? Apakah Anda membeci astronaut? Saya harap tidak. Kenapa setelah 50 tahun berlalu, masih ada yang percaya bahwa astronaut Apollo 11 mendarat di bulan ialah hoaks? 

Ada orang waras yang tidak percaya pada 20 Juli 1969 astronaut Neil Armstrong dan Buzz Aldrin menapakkan kakinya di bulan.

Tidak hanya itu. Ada orang waras yang percaya pemanasan global juga hoaks. Mendarat di bulan atau pemanasan global produk teori konspirasi.

Seorang pakar bilang sejak lahir manusia diharuskan untuk menentukan tatanan yang bermakna pada realitas. Hoaks 'memelintir' realitas. Bayangkan bila ada orang waras bilang Jokowi presiden terpilih ialah hoaks. 

Bukan realitas, melainkan semata produk konspirasi partai koalisi pengusungnya dengan Mahkamah Konstitusi. Orang 'gila' mana yang percaya?

Kebebasan sipil harus dipulihkan, ditingkatkan. Baiklah yang waras kembali percaya ujaran rasional, ujaran faktual, bukan hoaks, bukan ujaran kebencian. Caranya? Jadikanlah media utama, media arus besar sebagai rujukan.
 



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)