Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Pulang

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
16/7/2019 05:10
Pulang
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BAGI yang pergi umumnya punya hasrat tak terperi untuk kembali. Itu sebabnya, bagi orang rantau, pulang ialah sebuah kerinduan yang tak tertahankan. Soalnya ialah ada yang pergi tapi sulit kembali karena tabiatnya sendiri.

Pulang, itulah fokus obrolan kami dengan beberapa kawan, Jumat malam lalu. Kami berbincang di sebuah kedai kopi di pojok jalan Jakarta yang terbuka dan tingkat polusi udara amat berbahaya. Namun, kami tak bermasker seperti anjuran seorang peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional yang saya dengar di radio. Apa enaknya berbincang dengan mulut bertirai?

Mestinya di era ini tak ada warga negara yang tak bisa pulang-kembali, kata kawan saya. Namun, virus yang 'mereka' bawa, juga berbahaya. 'Mereka' itu, puluhan bahkan mungkin ratusan orang Indonesia, keluarga gerombolan Negara Islam Irak dan Suriah (IS), terutama di Al-Hawl, Suriah. Mereka, terutama ibu-ibu dan anak-anak, hidup di mandala berbahaya. Bukan surga seperti harapan mereka. Kini mereka rindu Indonesia.

Ada yang bersetuju dan sebaliknya menerima mereka. Yang pro, beralasan demi kemanusiaan. Dua tahun lalu toh pemerintah Indonesia menerima belasan bekas anggota IS. Yang kontra, karena mereka berbahaya. Mereka menghujat Indonesia negeri thoghut. Terlebih dari banyak survei radikalisme di negeri kita kian meluas.

Ada pandangan lain, biarlah mereka diadili terlebih dahulu dengan sistem hukum yang berlaku di Irak dan Suriah. Laporan Amnesty International, misalnya, penyiksaan kerap terjadi terhadap mereka sebagai orang rantau. Tegakah kita?

Eropa, misalnya, seperti Jerman, Inggris, Prancis, dan Belanda, menerapkan kebijakan tegas. Tak ada tempat bagi mereka yang pernah bergabung dengan gerombolan IS. Mereka tak bisa kembali ke negerinya. Kalaupun menerima, syaratnya amat ketat.

Di masa silam, kita juga punya sejarah pahit tentang saudara sebangsa yang tak bisa pulang. Mereka para eksil, yang tak bisa pulang karena pergolakan politik 1965. Terutama mereka yang berada di beberapa negara Eropa. Banyak pula yang tetap ingin mengembuskan napas terakhir di Tanah Airnya semula: Indonesia.

Padahal, kepergian mereka banyak tak berkait dengan perihal politik. Misalnya, tugas belajar atau tugas negara. Kita bisa membayangkan kepedihan mereka. Bertahun-tahun tanpa kewarganegaraan, walau akhirnya dengan terpaksa menjadi warga negara tertentu. Mereka baru bisa pulang setelah Soeharto tumbang.

Di masa Uni Soviet ketika komunisme berkuasa, tak sedikit yang tak bisa kembali. Pujangga besar Alexander Isayevich Solzhenitsyn, yang tak henti mengkritik pemerintahan totaliter, pernah 'menikmati' penjara Gulag. Pemenang Hadiah Nobel Sastra 1970 ini diasingkan karena karya-karyanya yang tajam mengkritik pemerintahan, seperti buku Kepulauan Gulag (1974). Ia musuh Stalin di garis depan meski terus diburu polisi rahasia.

Kepulangannya pada 1994 disambut sebagai pahlawan. Ia pulang ke negerinya setelah komunisme bangkrut dan Uni Soviet bermekaran menjadi banyak negara. Pemimpin Uni Soviet terakhir, Mikhail Gorbachev, memuji, Solzhenitsyn ikut mengubah pandangan jutaan orang lewat tulisan-tulisannya tentang rezim yang lalim. Pujangga ini berjuang sampai akhir dan membuahkan demokrasi Rusia.

Presiden Rusia Vladimir Putin pun menganugerahi Solzhenitsyn Bintang Negara. Penghargaan tertinggi Rusia bagi warganya yang penuh pengabdian kepada tanah airnya. Pujanggga itu wafat pada pada 2008 di usia 89 tahun.

"Lalu, bagaimana pentolan FPI, Muhammad Rizieq Shihab, yang ingin kembali?"

Di negeri demokrasi semua warga negara berhak untuk kembali. Tanah Air mestinya harus menjadi rumahnya yang paling nyaman, kecuali ia punya persoalaan karena tabiatnya sendiri. "Datang tak berjemput, pulang tak berhantar." Mungkin peribahasa ini tepat dan wajar?



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.