Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
AKHIRNYA Jokowi dan Prabowo ketemuan dalam suasana take it easy, be happy. Bertemu dengan sukacita (ketemuan, yuk), bukan dengan keruwetan (rekonsiliasi).
Dalam ‘ketemuan, yuk’ itu tidak ada ego, gengsi, formalitas. Yang ada ialah orang yang merdeka batinnya, yang saling menghargai, lalu memberi salam kehangatan.
Semua pandangan itu saya ambil dari tulisan saya sebelumnya di forum ini pekan lalu (8/7). Itulah sebabnya tulisan ini diberi judul ‘Ketemuan, Yuk! (2)’ atau ‘Ketemuan Jilid 2’.
Bertemu di kereta api, lalu bersantap di restoran, gamblang mengekspresikan suasana kebatinan yang rileks. Lihatlah kostum yang mereka kenakan, sama-sama berkemeja putih. Seperti biasa Jokowi berlengan panjang, Prabowo berlengan pendek. Bukan batik, bukan pula jas.
Gaya kasual kedua pemimpin pun terekspresikan di sepatu. Jokowi dan Prabowo tidak bersepatu pantofel, sepatu formal. Sepatu Jokowi tampak nyata sepatu kets anak milenial. Nyatalah bahwa suasana setelah pilpres bisa dipandang ruwet, bisa pula sederhana. Yang memandang ruwet menawarkan solusi yang juga ruwet, yaitu rekonsiliasi. Kenapa ruwet? Karena mengira di tubuh bangsa dan negara terjadi keretakan di tingkat warga, di tingkat akar rumput. Indonesia kiamat kalau Jokowi dan Prabowo tidak bertemu dalam makna rekonsiliasi.
Yang memandang suasana setelah pilpres sederhana berangkat dari pemahaman bahwa dalam sebuah pertandingan ada yang menang, ada yang kalah. Sebuah kewajaran belaka. Dalam pandangan itu rekonsiliasi perkara yang dibesar-besarkan. Cukup dengan ajakan “Ketemuan, yuk!” Tidak ada yang ruwet. Waktu ketemuan disetujui Sabtu (13/7), akhir pekan.
Tempat ketemuan pun disepakati di kereta api, dilanjutkan bersantap bareng di restoran. Ternyata Jokowi dan Prabowo bisa saling bilang ‘ketemuan, yuk’, dan dalam bahasa anak milenial menutup ajakan itu dengan kalimat superpendek, “C u...” (See you, sampai jumpa). Keduanya tidak memandang dunia ini dengan ruwet, tapi rileks.
Anak bangsa seyogianya bersukacita Jokowi dan Prabowo bisa ‘ketemuan, yuk’ dalam suasana kebatinan yang membawa kita berpikir positif ke depan. Kita tidak perlu menutup mata di media sosial ada warga yang ‘mencak-mencak’ menghakimi pertemuan itu sebagai pengkhianatan. Terhadap penghakiman itu, bukan saja biarlah anjing menggonggong kafilah berlalu, tetapi juga berilah waktu buat mereka ‘move on’.
Ada yang menyoal kepada saya, bukankah tidak ada makan siang gratis? Prabowo minta apa, Jokowi kasih apa? Saya jawab jangan rendahkan pemimpin yang satu sebagai peminta-minta dan pemimpin yang satu lagi ditinggikan sebagai penderma. Jangan, sekali lagi jangan!
‘Ketemuan, yuk’ itu kiranya bermakna Prabowo tetap oposisi yang terhormat, yang mengontrol kekuasaan Jokowi yang harus dijalankan juga dengan rasa hormat kepada rakyat yang memberi mandat. Titik berdiri berbeda, sudut pandang berbeda, pertemuan itu kiranya saling memperkaya demi Indonesia.
Yang menang itu demokrasi, bukan 01 atau 02 yang sudah selesai, sudah tutup buku.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved