Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Memaksimalkan Masela

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
19/6/2019 05:30
 Memaksimalkan Masela
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI)

SUDAH sekitar 15 tahun lapangan minyak dan gas abadi di Perairan Maluku diketahui mempunyai cadangan gas yang besar. Namun, kita tidak kunjung sepakat bagaimana mengangkat sumber daya alam itu dari dalam perut Bumi. Sudah hampir ditetapkan untuk diolah di lepas pantai, berubah lagi minta untuk diolah di daratan.

Pihak operator Shell dan Inpex pun ikut dibuat frustrasi. Perubahan tempat pengolahan membuat rencana pengembangan (plan of development POD) pun otomatis harus dirombak lagi dari awal. Otomatis semua perhitungan mulai dari rancang bangun, pembiayaan, hingga rencana produksinya pun harus diubah agar proyek tetap feasible.

Tarik ulur pun terpaksa dilakukan karena waktu terus berjalan. Pihak kontraktor meminta perpanjangan waktu kontrak karena waktu memulai pekerjaan hingga produksi pun menjadi ikut mundur jauh ke belakang.

Pemerintah menyadari bahwa pihaknya harus bersikap terbuka. Apalagi nilai investasi yang diperlukan sangat luar biasa besarnya, lebih dari US$18,5 miliar atau hampir Rp265 triliun. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menyebutnya sebagai investasi terbesar yang pernah dilakukan di Indonesia sejak kita merdeka.

Belum lagi teknologi yang dikembangkan tergolong rumit karena pengeboran dilakukan di laut lepas dengan kedalaman sekitar 600 m di bawah permukaan laut. Pipa yang harus dipasang dari lapangan minyak Abadi ke daratan mencapai 170 km karena harus melewati palung laut yang dalamnya 1.600 m.

Tidak heran apabila semua pihak merasa lega ketika Satuan Kerja Khusus Migas menandatangani head of agreement bersama Inpex di sela-sela Pertemuan Tingkat Menteri G-20 di Karuizawa, Jepang. Mantan Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda tidak henti-hentinya menyampaikan rasa terima atas nama rakyat Jepang kepada Menteri Jonan karena proyek yang begitu lama sudah direncanakan akhirnya bisa direalisasikan.

Pekerjaan rumah selanjutnya, pihak Inpex dan Shell Selasa kemarin menyampaikan POD revisi kepada SKK Migas. Dalam waktu sepekan ini SKK Migas dan Direktorat Jenderal Migas akan mengkaji permohonan agar penyerahan POD resmi bisa dilakukan di hadapan Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Shinzo Abe di tengah Pertemuan Tingkat Tinggi G-20 di Osaka pada 27 Juni yang akan datang.

Mengapa proyek Blok Masela perlu segera dijalankan? Menteri Jonan mengatakan, proyek dengan investasi terbesar ini akan memberikan sinyal yang positif bagi masuknya investasi ke Indonesia, bukan hanya untuk eksplorasi migas, tetapi juga investasi lainnya.

Indonesia berkepentingan agar Blok Masela segera berproduksi karena semakin tingginya kebutuhan energi untuk pembangunan. Ketiga, pembangunan kilang liquified natural gas di Maluku akan menjadi pendorong pembangunan di Indonesia Timur.

Banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika proyek ini mulai dikerjakan 2021 yang akan datang. PT Pertamina sudah mendapat tawaran untuk sejak awal menjadi pemilik dari Blok Masela.

Perusahaan Listrik Negara sudah  merencanakan penggunaan gasnya untuk menggantikan solar sebagai bahan bakar pembangkit listrik yang sekarang mencapai 2,6 juta ton per tahun. Perusahaan rekayasa industri nasional bisa ikut terlibat dalam proyek pembangunan karena pemerintah menetapkan tingkat kandungan dalam negeri.

Sekarang yang perlu dipikirkan bagaimana membuat proyek ini memberikan manfaat yang paling maksimal kepada bangsa ini. Kebiasaan untuk mengambil untung bagi diri sendiri harus dibuang jauh-jauh.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menjelaskan, pihaknya sudah sepakat dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menggunakan lahan milik negara bagi kebutuhan kawasan pengembangan proyek. Ini akan mengurangi potensi munculnya spekulan tanah yang sering membuat biaya menjadi membengkak.

Hal lain yang harus menjadi pemikiran bersama, eksploitasi Blok Masela bukan akhir dari pekerjaan untuk menyediakan kebutuhan energi bagi pembangunan.

Bersamaan dengan proses produksi, tetap harus dilakukan eksplorasi agar produksi minyak tidak terus menurun. Apalagi kita membutuhkan eksplorasi baru di 74 cekungan minyak yang selama ini belum tergarap.

Pemahaman ini harus juga ada pada pejabat di Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Selama ini proses eksplorasi banyak terhambat karena izin penyewaan rig yang panjang. Pengalaman Saka Energi misalnya, mereka membutuhkan waktu sampai 2 tahun untuk bisa membawa masuk penyewaan rig dari luar negeri karena dianggap barang impor yang harus dibayar bea masuknya.

Hal Inilah yang membuat produksi migas kita cenderung menurun. Orang enggan untuk berinvestasi di Indonesia karena panjangnya birokrasi. Padahal ketika produksi menurun dan impor migas meningkat yang paling dipusingkan adalah Kementerian Keuangan sendiri karena neraca transaksi berjalan mengalami defisit.

Kita tentu sangat berharap dimulainya tahapan produksi Blok Masela menjadi momentum baru meningkatnya kegiatan bisnis di Indonesia. Apalagi kita sudah di masa akhir dari semua rangkaian tahapan Pemilihan Umum 2019. Kita harus bergegas untuk mempercepat pembangunan di segala sektor.

Kita harus sadar bahwa negara ini merupakan salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Kita sekarang menjadi negara dengan produk domestik bruto di atas US$ 1 triliun. Ukuran negara besar itu proyek yang digarapnya pun harus besar. Kita sedang memulai proyek besar itu di Blok Masela.

 



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.