Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Angin dari Depan

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
18/5/2019 05:30
Angin dari Depan
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI)

TEKANAN dalam negeri membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengalihkan isu ke luar negeri. Dua negara yang dijadikan ajang konfrontasi yaitu Tiongkok dan Iran. Dengan Tiongkok, perang dagang yang sudah sempat mereda kembali dihidupkan, sedangkan Iran harus menghadapi sanksi ekonomi secara sepihak.

Serangan ekonomi Trump itu tentu mengganggu perekonomian kedua negara. Presiden Tiongkok Xi Jinping merespons kebijakan Washington dengan melakukan pembalasan pengenaan tarif terhadap produk-produk AS. Di Teheran, Presiden Hassan Rouhani mengajak seluruh warga Iran untuk bersatu padu menghadapi apa yang disebutnya sebagai 'kejahatan kemanusiaan'.

Ketegangan baru ini sekarang mengimbas ke seluruh dunia. Blokade militer terhadap wilayah laut Iran dipastikan akan mendorong harga minyak dunia. Semua negara mulai menghitung dampak terburuk yang kemudian akan terjadi.

Tidak terkecuali kita di Indonesia pun sudah merasakan dampak perang ekonomi yang dilancarkan Trump. Ekspor Indonesia bulan April menurun sangat tajam. Tidak usah heran apabila defisit neraca Perdagangan bulan lalu naik ke angka US$2,5 miliar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, untuk sementara waktu ekspor tidak bisa dijadikan andalan pendorong ekonomi. Kita harus fokus untuk memanfaatkan kekuatan ekonomi dalam negeri. Konsumsi rumah tangga menjadi harapan untuk menyerap produk-produk industri dalam negeri.

Perekonomian kembali harus menghadapi headwind atau angin dari depan. Namun kita tidak perlu berkecil hati karena sejak 2015 perekonomian global terterpa oleh kuatnya angin dari depan. Bahkan tahun lalu turbulensinya sangat kuat akibat kebijakan normalisasi yang dilakukan Bank Sentral AS.

Turbulensi itu bahkan 'memakan' pembuatnya sendiri. Perekonomian AS yang sedang bertumbuh kembali mengalami tekanan akibat kebijakan penaikan tingkat suku yang terlalu berlebihan. Presiden Trump mengecam keras kebijakan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell.

Pengalaman lima tahun terakhir sebenarnya membuat kita terbiasa menghadapi angin dari depan. Dan ternyata perekonomian terbukti begitu resilient karena tetap bisa bertumbuh di angka 5%. Kuartal pertama tahun ini pun kita masih tumbuh dengan 5,07%.

Memang ada ekonom yang mengatakan, tingkat pertumbuhan yang bisa kita capai dalam lima tahun terakhir masih terlalu rendah. Namun, di tengah tekanan yang begitu kuat, pencapaian yang bisa kita raih tidak bisa dikatakan buruk. Apalagi kalau kita lihat pertumbuhan itu disumbangkan investasi sebesar 6,9% dan konsumsi rumah tangga sekitar 5%.

Apa artinya? Perekonomian kita lebih banyak ditopang investasi. Di tengah masih banyaknya aturan yang menghambat, minat investasi ke Indonesia tetap tinggi. Ini memberi peluang bagi para lulusan baru untuk mendapatkan lapangan pekerjaan.

Sekarang yang kita butuhkan, bagaimana terus menghidupkan rasa optimistis itu. Kita tidak boleh larut oleh ketidakberdayaan dan kesulitan yang dihadapi, tetapi bagaimana sama-sama mencari peluang yang masih ada untuk tetap berinvestasi dan menggerakkan perekonomian di dalam negeri.

Kita perlu meminjam ajakan Presiden Iran Rouhani untuk bagaimana sama-sama memperkuat kebersamaan menghadapi tantangan global sekarang ini. Tidak mungkin kita akan bisa menjadi pemenang dalam era persaingan apabila kita lebih banyak berkelahi di antara kita sendiri.

Sekarang ini kita sedang menghadapi hari-hari penentuan hasil Pemilihan Umum 17 April lalu. Setelah kita memberikan suara seharusnya kita memberi kesempatan kepada wasit yaitu Komisi Pemilihan Umum bekerja menjumlahkan suara dan menentukan pemenangnya.

Tidak perlu lagi di antara kita mengklaim sebagai pemenang. Dalam sebuah kompetisi pasti akan ada yang kalah dan ada yang menang. Dalam demokrasi tidak dikenal yang namanya pemaksaan pemenang. Siapa pun yang memilih untuk berkompetisi harus siap untuk menang dan siap untuk kalah.

Sikap 'pokoknya harus menang' bukan hanya mencederai demokrasi, tetapi merusak iklim besar kita yang ingin maju dan hidup sejahtera. Sekarang ini orang dibuat tidak tenang dalam menjalankan kehidupan dan berupaya menyejahterakan kehidupan keluarga karena politik pemaksaan yang terlalu menonjol. Padahal demokrasi tujuan utama bukan untuk kekuasaan, tetapi bagaimana menjadi alat untuk membuat masyarakat memiliki harapan yang lebih baik untuk hidup lebih makmur dan sejahtera.

 



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.