Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP zaman punya ceritanya sendiri. Setiap hasrat punya siasatnya sendiri. Seperti cerita zaman ini. Cerita ketika Tuhan diklaim punya kelompok tertentu dan yang lain seperti tak boleh memiliki. Hasrat menemukan siasat.
Takbir yang teramat sakral, yang diajarkan para guru mengaji kami dahulu di surau semasa kanak-kanak, mesti diucapkan penuh takzim. Di zaman ini takbir kerap digemakan di jalanan, bahkan kadang bernuansa ancaman. Ancaman pembunuhan. Kenapa Tuhan Yang Maharahman dilibatkan untuk kejahatan?
Dengan takbir pula di kerumunan aksi di depan KPU, Jakarta, Jumat pekan silam, seorang pemuda sesumbar hendak memenggal kepala pemimpin tertinggi negara. “Dari Poso siap penggal kepala Jokowi. Insya Allah. Allahu Akbar.”
Ia ulangi lagi setelah bergerak beberapa langkah ke depan. “Jokowi siap kita penggal kepalanya. Dari Poso. Demi Allah.” Ringan saja ia mengancam. (Tahun lalu seorang remaja bertelanjang dada, seperti kalap, memaki-maki Jokowi, mengancam hendak menembaknya. Ayah anak ini kemudian meminta maaf. Kenapa anak ini begitu benci?)
Poso, Sulawesi Tengah, yang disebut ialah lokus yang punya cerita kekerasan. Sang pemuda itu punya referensi. Adakah nama Jokowi yang disebutkan punya tafsir selain Joko Widodo, sang kepala negara kita? Di mahkamah nanti akan menjadi benderang apa motifnya. Polisi toh telah mencokoknya.
Frasa ‘Demi Allah’, tanda keseriusan hendak melakukan. Dalam video kerumunan itu, dua ibu berhijab dengan riang dan serentak melafalkan takbir tanda setuju kehendak sang pemuda. Memenggal kepala manusia, bahkan kepala negara, seolah hal mulia.
Tak usah dicari jejak yang jauh. Sejak Pilkada Jakarta, dimulai kasus Al-Maidah 51, seruan membunuh Ahok dipimpin pentolan FPI Muhammad Riza Shihab nyaring diteriakkan. Tak aneh jika ada banyak yang mengikuti jejak yang tak jauh itu. Seolah di negeri ini membunuh manusia semudah orang meludah. Inilah pilkada dengan politik identitas yang paling membelah yang terus dibawa ke Pemilu 2019.
Kasus sang pemuda itu menambah panjang senarai serupa itu, takbir untuk laku mungkar. Sebagai muslim saya merasa tak nyaman setiap ada gema takbir sebagai prolog atau epilog laku destruktif. Ada rasa cemas setiap takbir digemakan di jalanan dengan nada jauh dari ketakziman.
Ini bulan Ramadan. Bulan penuh berkah dan ampunan. Bulan ketika muslim dianjurkan menjaga lisan (dan tulisan). Bulan ladang pahala jika puasa dilaksanakan dengan segenap jiwa raga. Seperti kata Imam Al Ghazali, ibadah puasa secara paripurna dengan membersihkan hati dari hal-hal busuk dan menjauhi segala perbuatan buruk.
Baik dan bijak pula anjuran di bulan Ramadan agar kita puasa bermain media sosial. Salah satu yang menganjurkan ialah Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. Istilah yang kini populer ‘puasa jempol’ sebab lewat kuasa jempollah kabar dusta, fitnah, dan kebencian menyebar bagai virus mematikan.
Namun, puasa kali ini mungkin kita hanya mendapat lapar dan dahaga sebab kita belum juga jeda dari aksi saling menjelekkan dan umbaran purbasangka. Tak sekali dua kali mereka yang mengaku ulama menghujat sesama muslim lain, juga terhadap Jokowi. Ada sikap jemawa: Islam mereka lebih sejati.
Menurut Syeikh Imam Nawawi Albantani, beberapa ciri-ciri ulama pewaris nabi antara lain: memiliki iman yang kukuh, istikamah, dan konsisten terhadap kebenaran. Ulama juga memiliki sifat kerasulan: jujur (shiddiq), amanat (amanah), cerdas (fathanah), dan menyampaikan (tablig).
Karena itu, jika ada ulama yang merendahkan (fisik) sesama manusia, menghasut untuk melakukan kekerasan, memaki-maki dengan kata-kata kotor, menebar kabar dusta dan fitnah, sulit saya menaruh hormat kepada mereka. Ulama, orang-orang berilmu itu, harus jadi pencerah umat. Bukan pemecah umat.
Kita percaya, ulama sejati, para pencerah dan pemandu umat itu, tetap setia pada tugas yang mulia. Mereka teguh. Tak gaduh dan riuh. Mereka istikamah dan konsisten menjaga kebenaran. Mereka jadikan kejujuran dan keadilan mahkota hidupnya sebab inilah ‘magnum opus’ ulama yang sesungguhnya. Termasuk tugas besar meluruskan generasi pembenci nan agresif hasil ‘didikan’ para penghasut lewat media sosial.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved