Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Martir

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
26/4/2019 05:30
Martir
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Tiyok)

MARI kita rundukkan kepala sedalam-dalamnya bagi para martir demokrasi. Mereka yang gugur dan menderita sakit sebagai baris terdepan pesta demokrasi paling menyita energi, Pemilu 2019 ini. Mereka wafat menjalankan tugas yang tak ringan.

Mereka yang bekerja seusai subuh yang satu hingga pascasubuh berikutnya. Itu semua karena satu hal: tanggung jawab. Merekalah penentu sukses dan gagalnya perhelatan besar hajat politik nasional lima tahunan itu.

Para martir itu, ratusan orang  yang wafat dan sakit ialah bagian dari penyelenggara pemilu di garda paling depan. Merekalah tenaga Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).

Selain kelompok ini yang menjadi korban, juga ada tenaga panitia pengawas (panwas) dan perlindungan masyarakat (linmas). Hingga sepekan sejak hari pencoblosan, 225 orang anggota KPPS wafat. Selain itu, sebanyak 1.470 anggota KPPS dilaporkan sakit.

Jangan bandingkan jumlah mereka yang gugur dengan jumlah tempat pemungutan suara (TPS) yang ada, 810.329 buah. Jangan pula bandingkan dengan seluruh anggota KPPS yang berjumlah 5,6 juta orang. Tentu persentasenya kecil.

Namun, sebuah pesta demokrasi dengan korban jiwa lebih dari 100 orang penyelenggara karena tinggginya beban, sungguh ironis. Inilah pesta demokrasi yang membunuh penyelenggara pestanya sendiri.
Tragedi pesta demokrasi setidaknya menyadarkan dua hal. Pertama, pemilu  lima surat suara di negara yang luas dan tak semuanya mudah dijangkau, mesti dievaluasi.

Bisa juga pemilu legislatif dipisah lagi dari pemilu presiden, atau pemilu legislatif daerah (DPRD kabupaten/kota dan DPRD provinsi) digabung jadi satu penyelenggaraan dan pemilu presiden digabung dengan anggota (DPR RI dan DPD RI).

Kedua, di tengah 'perang opini' yang sengit, hoaks yang merajalela, bahkan hasutan dan provokasi yang semena-mena (menolak hasil pemilu jika Jokowi-Ma’ruf Amin) menang, bisa jadi teror buat kita semua. Ingatlah para martir demokrasi itu. Mestinya para politikus malu dengan para martir itu.

Ingatlah, mereka menyabung nyawa demi suksesnya sebuah pesta demokrasi, demi para puan dan tuan anggota dewan duduk di kursinya masing-masing. Demi tuan presiden dan wakilnya duduk di singgasana.

Kita bayangkan tanpa mereka, penjaga TPS, seperti apa wajah pemilu kita? Tuduhan pemilu curang yang digemakan berulang-ulang memang ditujukan pada penyelenggara (KPU dan Bawaslu).

Ada opini yang dibangun jika pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin menang pasti curang. Bahkan, Prabowo dengan dasar hitung cepat versi internal yang tempatnya disembunyikan sedikitnya telah empat kali melakukan deklarasi kemenangan.

Mereka menegasi beberapa lembaga survei yang angkanya lebih tinggi Jokowi. Namun, syukuran kemenangan di Taman Mini Indonesia Indah tak boleh direkam. Terasa ganjil memang.

Ini memang pemilu dengan perang klaim penuh paradoks paling tinggi sepanjang reformasi. Rasa empati dan duka mendalam pada para korban mestinya bisa menghentikan saling serang dan tuduhan pemilu curang dengan bukti yang minim.

Pemilu mestinya mengakhiri sebuah perbedaan. Dalam pemilu, calon yang baru diseleksi dan yang masih menjabat dievaluasi. Itu esensi sebuah pemilu.

Alangkah banal hati kita ketika duka keluarga para martir belum hilang, tapi tuduhan curang digemakan berulang-ulang. Dengan banyak saksi di TPS dan sistem penghitungan yang terbuka di KPU, kecurangan sesungguhnya sangat mudah diketahui. Nyatanya KPU juga kerap mengoreksi diri sendiri, yakni menunjukkan beberapa kali salah input data secara terbuka. Kalau berhasrat culas, kenapa justru dibuka kepada publik?

Jika pascapemilu para elite dan pendukungnya terus memperpanjang perseteruan, ini artinya kita tengah membunuh demokrasi itu sendiri. Kita pun kehilangan dua hal penting sekaligus: demokrasi dan penyelenggara pesta demokrasi itu sendiri. Kepandiran memang jadi racun paling mematikan.

 



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.