Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
LEGAL dan aktual kiranya dua hal yang kita tunggu mengenai hasil pemilu. Namun, keduanya tidak dapat dihasilkan bersamaan.
Untuk mendapatkan hasil pemilu yang legal orang harus menunggu dengan kesabaran yang panjang. Mencoblos 17 April 2019, hasilnya yang legal baru diumumkan 22 Mei. Sesungguhnya orang telah kehilangan aktualitas.
Dalam rentang waktu yang panjang itu, tepatnya 35 hari, bisa terjadi macam-macam 'keanehan'. Misalnya, input C1 diperlambat dan di tengah pelambatan itu terjadi upaya mencurangi hasil pemilu.
Untunglah ada Bawaslu yang tanggap dan tangkas yang mengeluarkan instruksi agar setiap PPS mengumumkan hasil C1 di kelurahan. Bahkan diingatkan PPS wajib mengumumkan salinan sertifikat hasil penghitungan suara dari seluruh TPS di wilayah kerjanya. Tidak mengumumkannya bisa dipidana.
Undang-Undang Pemilu memang sarat dengan ancaman pidana. Itu pertanda sulitnya menegakkan kejujuran.
Hemat saya, pileg (bukan pilpres) yang baru kita lalui yang hasilnya legal belum kita ketahui kian menegaskan betapa kita telah kehilangan kepercayaan untuk jujur. Yang terjadi di tingkat warga ialah pertandingan top up, yaitu adu besar memberi tambahan 'wuwur', tambahan politik uang agar warga memilih sang caleg
Saya pernah menulis di Podium ini, andainya benar, lebih banyak anak bangsa ini memilih status daripada integritas, kiranya masa depan negeri ini benar-benar tanpa harapan. Pada Pemilu 2019, frasa 'andainya benar' itu sudah tidak berlaku lagi. Kenapa?
Pemilu legislatif (juga pemilu kepala daerah) merupakan pemilu yang semakin jorok karena dahsyatnya politik uang. Dalam dua pemilu itu sesungguhnya dan senyatanya demokrasi telah kehilangan masa depan.
Karena itu, kiranya perlu keberanian untuk melakukan bermacam-macam evaluasi, dalam makna yang keras, yaitu menyaring dan membuang. Pertama, barangkali orang cukup memilih partai saja. Tidak ada nama caleg dalam surat suara. Daftar caleg cukup diumumkan di TPS dan penentuan yang duduk di parlemen diserahkan kepada partai.
Harapannya partai yang tidak dipercaya, yang calegnya tidak bermutu, tidak dipilih rakyat. Kiranya adu besarnya 'wuwur', adu top up uang yang dilakukan caleg lenyap.
Kedua, cara penggunaan hak pilih secara manual, dilanjutkan penghitungan suara pun secara manual dan dilakukan berjenjang perlu digantikan dengan cara elektronik yang real time. Pencoblosan dan penghitungan suara secara manual tidak saja punya banyak celah untuk terjadinya kecurangan, tetapi juga kehilangan aktualitas karena panjangnya jarak waktu hari pencoblosan dengan hari pengumuman hasil pemilu (real count).
Untunglah ada metode hitung cepat yang dikerjakan lembaga-lembaga survei tepercaya. Hasilnya aktual memuaskan rasa ingin tahu publik akan hasil pemilu.
Ketiga, pilpres serentak dengan pileg terasa benar merepotkan rakyat dalam memilih dan membikin petugas amat keletihan. Yang juga pokok ialah pilpres menggeser makna pileg. Padahal, pileg juga penting karena di situlah rakyat di satu pihak menyaring dan menyingkirkan partai, atau di lain pihak memperkuat dan membesarkan partai yang baik dan patut diberi kepercayaan untuk mendapat kursi di parlemen.
Sepertinya tidak ada partai baru yang lolos ambang batas parlemen. Partai lama pun ada yang terbuang dari kumpulannya. Terjadi penyaringan dan penyingkiran. Ada harapan penyederhanaan jumlah partai bakal terjadi dua atau tiga pemilu lagi sehingga tinggal tujuh partai saja.
Yang jelas dengan terpilihnya Jokowi akan ada kesinambungan kepemimpinan beserta seluruh hasil kerjanya.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved