Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Mengawal Kejujuran

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
08/4/2019 05:30
Mengawal Kejujuran
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Tiyok)

URUSAN besar kita dalam pilpres ialah perkara ketidakpercayaan. Bahkan, dalam menyongsong Pilpres 2019, sengaja dimunculkan prasangka yang luar biasa.

Ada yang bilang dia harus menang dengan selisih 25% karena suaranya akan dicuri belasan persen. Yang lain bilang kalau kalah, akan ada people power.

Demikianlah jauh hari ruang publik diisi dengan narasi ketidakpercayaan, narasi kecurangan. Narasi itu sejauh ini lebih ditujukan kepada penyelenggara pemilu (KPU), yang kiranya dapat merusak kredibilitas lembaga itu dan karena itu perlu dilawan.

Benar, kecurangan tidak boleh terjadi. Untuk itu cegahlah dan awasilah agar tidak terjadi. Itu bukan imbauan, tapi nyata berwujud pemberdayaan badan negara.

Untuk mengawal suara rakyat, negara sampai perlu membentuk organ pengawas hingga di level terbawah.

Pada pemilu serentak 17 April mendatang, untuk pertama kali dalam sejarah Bawaslu punya organ pengawas sampai di level rakyat, di TPS.

Karena itu, aneh benar jika semakin diawasi malah semakin kencang nyanyian berisi tuduhan bahwa dalam Pilpres 2019 bakal terjadi kecurangan suara yang fantastis, dicuri belasan persen.

Narasi itu sepatutnya lebih membuat mawas diri para pengawas (Bawaslu) yang organnya sampai ke TPS, dan anggarannya naik berlipat-lipat. Bawaslu diberi anggaran Rp8 triliun, hampir dua kali lipat anggaran Kemendagri yang cuma Rp4,5 triliun.

Namun, lebih dari itu, tuduhan kecurangan dalam pilpres mestinya juga pernyataan yang ditujukan kepada diri sendiri, kepada para saksi yang tidak gigih, tidak tangguh melaksanakan tugas agar tidak terjadi kecurangan.

Berpikir positif mungkin tuduhan itu dimaksudkan agar semua pihak tidak lengah. Saya sebagai pendukung Jokowi juga ingin Jokowi menang dengan selisih 25%. Bukan karena curiga suaranya akan dicuri belasan persen. Namun, karena saya percaya Jokowi dipilih rakyat dengan jujur, di pemilu yang diselenggarakan dengan jujur (KPU), dan diawasi pula dengan jujur (Bawaslu), serta disaksikan para saksi yang melaksanakan tugasnya dengan telaten dan saksama.

Hemat saya rasanya perkara besar kita bukan mengawasi kecurangan, tapi mengawal kejujuran, terutama mengawal kejujuran rakyat yang telah memilih presiden-wakil presiden sesuai dengan hati nuraninya. Pertanyaannya,  dari mana datangnya kejujuran itu?

Seeing is believing. Rakyat percaya karena melihat, merasakan sendiri kemajuan negara ini, misalnya dalam hal infrastruktur. Rakyat di daerah perbatasan dengan negara lain kiranya baru sekarang merasa bangga dengan negaranya sendiri. Sebelumnya perbatasan itu cuma patok kayu. Negara tetangga lebih indah jika dibanding dengan negara sendiri.

Kejujuran tidak dapat tegak dengan sendirinya. Seeing is believing, tapi banyak yang ingin membutakan hati nurani rakyat. Karena itu, kejujuran harus ditegakkan dan dikawal habis-habisan.

 



Berita Lainnya
  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.