Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Menjaga Tamansari

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
12/3/2019 05:30
Menjaga Tamansari
()

DALAM sebuah penerbangan Semarang-Jakarta, beberapa hari lalu, seorang pejabat tinggi negara bertanya bagaimana pendapat saya tentang keputusan Musyawarah Nasional Ulama NU yang menyarankan mengganti istilah kafir dengan nonmuslim? Saya menjawab itu rekomendasi berani dan tepat menjawab persoalan aktual bangsa ini. Sang pejabat itu sepakat.

Dalam acara yang dihelat akhir bulan lalu,  para ulama NU menilai kata kafir mengandung unsur kekerasan teologis. Mereka bersepakat menggunakan kata muwathinun atau warga negara. Ini upaya agar status nonmuslim setara dengan warga yang lain.

Keputusan itu bukan berarti NU hendak menghapus istilah kafir dalam Alquran maupun hadis. Ini merupakan sikap teologis terhadap kondisi bangsa saat ini, yakni sikap diskriminatif. Sebagai komponen yang ikut mendirikan Republik, wajarlah NU tampil di depan ketika ada hal yang berpotensi merenggangkan tenun kebangsaan.

Ahli tafsir Zainul Majdi memberi tanggapan, kafir ialah istilah akidah,  bukan muamalah berbangsa. Untuk urusan muamalah semestinya berpijak pada semangat persatuan dan persaudaraan. "Menyebut mereka yang beragama lain dengan nonmuslim tidak keliru, bahkan sesuai dengan semangat kita berbangsa," katanya.

Seorang penyiar televisi di Jakarta mengungkapkan perasaan lega atas rekomendasi NU. Sebelumnya sebagai nonmuslim ia merasa tak nyaman mendengar label kafir yang dilekatkan. Namun, ia tak mungkin memprotes secara verbal. Ia pasrah belajar menguatkan diri, meski ada perasaan diperlakukan sebagai liyan (orang lain).

Saya kira ada banyak perasaan serupa (liyan) bagi nonmuslim ketika kata kafir diujarkan di ruang publik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,  kafir ialah orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya. Akan tetapi, ini bisa menimbulkan luka jika diumbar dengan tujuan diskriminasi.

Di waktu yang lalu perbincangan istilah kafir lebih karena semangat kajian ilmiah. Lagi pula perbincangan itu pun lebih berada di kampus. Berbeda hari ini istilah kafir lebih cenderung karena sentimen emosional dan momentum politik daripada kajian ilmiah.

Kita sesungguhnya sudah terbiasa tak pernah menyebut kafir dalam keseharian hidup bersama, tetapi nonmuslim. Simak saja para pendoa dalam banyak acara yang bersifat umum. Mereka umumnya mengatakan, akan berdoa sesuai agama Islam, bagi nonmuslim diharap menyesuaikan diri. Tidak disebut, "Bagi mereka yang kafir diharap menyesuaikan diri." Namun, suasana politik menjelang Pemilu 2019, ada yang menyaringkan istilah kafir.

Di Arab Saudi, petunjuk jalan yang diperuntukkan bagi pemeluk agama Islam atau di luar Islam, memakai kata 'muslim' dan 'nonmuslim'. Bukan 'muslim' dan 'kafir'. Ini pastilah dengan pertimbangan penghormatan pada pemeluk agama lain.

Dalam kaitannya rekomendasi NU, baik juga kita baca disertasi Harifuddin Cawidu (IAIN Alauddin Makassar) yang meneliti soal kafir dalam Alquran. Dalam disertasinya berjudul Konsep Kafir dalam Al-Qur’an Suatu Kajian Teologis dengan Pendekatan Tafsir Tematik (1991), ia mendapati istilah kafir sebanyak 525 di dalam Alquran.

Ada banyak pengertian kafir, tetap dari jumlah itu hanya dua kali Allah memanggil dengan sebutan, "Wahai orang-orang kafir", yakni di surat Al-Kafirun, 109: 1 dan (QS At-Tahrim, 66: 7). Itu pun dalam konteks  mengingatkan karena mereka menyembah berhala.

Rekomendasi munas alim-ulama NU menggunakan istilah nonmuslim dan bukan kafir bagian dari etika sosial, menjaga hubungan bermasyarakat, berbangsa. Namun, secara teologis umumnya kaum muslim memahami makna kafir tidaklah berubah seperti yang dipahami dalam kitab suci.

Bangsa kita yang plural sesungguhnya telah mempunyai mekanisme sosial dan kultural  dalam menghadapi perbedaan. Pancasila itulah 'masterpiece' kesepakatan bangsa, ideologi jalan tengah, untuk menjaga warna-warni tetap dalam sebuah Tamansari Indonesia.  Dan salah satu penjaga terdepan Tamansari negeri ini ialah NU.*
 



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.