Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
SEHARI menjelang perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1941, anak bungsu kami yang kuliah di Bali mengirim gambar pawai ogoh-ogoh. Di tengah keramaian jalan raya Denpasar, pawai itu mendapat antusiasme masyarakat. Bali terasa arkais tapi juga kekinian. Itulah salah satu pesona Pulau Dewata.
Si bungsu memberi kabar ia hendak menginap di sebuah tempat. Ia ingin menikmati udara yang bersih tanpa polusi dan jalan raya tanpa kebisingan kendaraan bermesin. "Internet juga enggak hidup," tulisnya.
Saya membayangkan jika libur internet diperluas secara nasional, alangkah media sosial sepi dari saling serang para pendukung calon presiden 01 versus 02. Sepi juga dari kabar dusta yang merajalela; dari fitnah yang tak kenal lelah.
Selain Nyepi bagi umat Hindu di hari Kamis, 6 Maret ialah Rabu Abu. Bagi umat Katolik, Rabu Abu awal dimulainya puasa dan pantang hingga Jumat Suci 20 April 2019. Adapun hajatan politik nasional bernama pemilu (pemilihan legislatif dan pemilihan presiden/wakil presiden) digelar 17 April.
Suasana politik yang panas dengan bersimaharajalelanya kabar dusta dan fitnah, saling caci menjurus benci, hari-hari keagamaan menjadi amat berarti. Kenapa pemilu tak dilakukan di puasa Ramadan? Agar kabar dusta dan kebencian jadi melisut, meski tak jadi enyah!
Kini perbedaan politik telah melahirkan tabiat saling hujat. Banyak 'pemain' media sosial, jika terkait dengan politik, menjadi manusia-manusia garang, tega mengorbankan persaudaraan-kebangsaan.
Jari-jemari para politikus yang gagal berjuang di parlemen, seperti kesetanan memainkan media sosial. Yang mengherankan, beberapa yang menyebut diri ustaz, pendakwah, yang mestinya jadi pencerah justru punya semangat memecah belah.
Di berbagai grup WA keluarga, banyak teman mengungkapkan merasa lelah mengingatkan betapa bahayanya kabar dusta alias hoaks. Saya juga. Berkali-kali kabar dusta ditulis/dibagikan, berkali-kali dibantah dengan kabar yang berfakta, tapi kabar dusta tak 'mati-mati'. Padahal, sudah beberapa orang dibui karena menyebarkan dusta.
Saya kerap tak paham, justru mereka yang lebih tua dan yang kerap bicara agama yang tak bisa mengendalikan diri. Apa pun materinya, yang penting sesuai dengan kelompoknya, paslon yang dipuja, mereka bagikan saja. Mereka tak risih, tak merasa bersalah. Tak ada maaf dimohonkan ketika ada bantahan fakta yang sesungguhnya. Mereka memang sudah 'mabuk politik'.
Bahkan, seorang ibu di kampung yang mengaku setahun tak melihat televisi, apalagi baca surat kabar, dan buku-buku, tapi paling rajin mengopi paste kabar dusta. Ia 'membutakan' dan 'menulikan' diri jika ada yang meluruskan. Ia tak peduli jika NU dan Muhammadiyah berpandangan politik merupakan masalah muamalah bukan akidah; meski ia anggota salah satu ormas itu.
Puncak hoaks di Indonesia, untuk sementara, saya kira yang dilakukan Ratna Sarumpaet. Ia mengaku wajahnya babak belur karena dianiaya, padahal operasi plastik. Jika Ratna yang terpelajar, 'pejuang' HAM, melakukan dusta secara telanjang, apa lagi yang lain? Dari sini dusta-dusta lain pasti akan susul menyusul.
Jadi, tak mengagetkan hoaks tujuh kontainer surat suara dari Tiongkok yang sudah dicoblos. Tak mengherankan tiga ibu di Karawang membual, jika paslon 01 menang, tak akan ada lagi suara azan, tak ada lagi yang pakai kerudung. Perempuan dan perempuan bisa menikah; laki-laki dan laki-laki bisa menikah. Begitu katanya.
Tak mengherankan jika di Sulawesi Selatan seorang ibu berdusta mengajak memilih paslon 02, jika tidak, kurikulum agama akan ditiadakan dan pesantren akan dienyahkan. Bukankah Hari Santri yang mencanangkan Jokowi?
Dalam kenekatan (dan kepandiran) mereka yang berhoaks-berfitnah, hari penting keagamaan seperti Nyepi, Rabu Abu, Puasa Ramadan, yang amat menekankan pengendalian diri jadi amat berarti.
Namun, saya heran, kenapa di mimbar-mimbar khotbah dan tausiah, sepi dari ajakan dan peringatan bahayanya menyebar kabar dusta dan fitnah. Padahal, kitab suci jelas-jelas menegaskan menyebar kabar dusta ialah dosa besar. Kenapa suara serupa ini sepi?
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved