Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Presiden

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
02/3/2019 05:30
Presiden
()

POLITIK dan bangsa Amerika Serikat terguncang. Michael Cohen, mantan pengacara pribadi Presiden Donald Trump, ‘melemparkan bom’ ketika memberikan testimoni di depan Komite Pengawasan Kongres AS. Ia menilai Presiden Trump sebagai pemimpin yang rasis, penipu, dan pembohong.

Selama enam jam, Rabu lalu, Cohen melampirkan bukti-bukti yang menguatkan pernyataannya itu. Anggota Kongres dari Partai Republik mencoba mematahkan tuduhan Cohen dengan berbagai pertanyaan yang berupaya menggambarkan bahwa mantan pengacara Trump itu sebagai orang yang tidak pantas dipercaya. Namun, Cohen mampu  mematahkan tuduhan itu dan mengatakan, “Saya memang pernah berbohong, tetapi saya bukan pembohong. Saya pernah berbuat buruk, tetapi saya bukanlah ‘bad man’,” kilah Cohen.

Orang yang pernah 13 tahun mendampingi dan bekerja untuk kepentingan Trump, masih akan dua kali lagi memberikan testimoni di depan Kongres. Kemarin malam ia diminta memberikan keterangan di depan Komite Intelijen Kongres.

Cohen membuka semua kebohongan yang pernah dilakukan Trump. Mulai soal hubungannya dengan Rusia, soal pembocoran e-mail Hillary Clinton, penggelapan pajak, affairs-nya dengan bintang film porno, hingga sikap rasis kepada kelompok kulit hitam. Trump dinilai bukan bekerja untuk kepentingan membangun Amerika yang hebat, melainkan sekadar untuk kepentingan kekuasaan dan kekayaan pribadinya.

Pengakuan Cohen pasti akan berdampak kepada perpolitikan AS. Orang mulai mengaitkan dengan apa yang dulu dihadapi Presiden Richard Nixon. Ketika itu Nixon terlibat dalam kasus pembobolan kantor Partai Demokrat. Kasus Watergate itu membawa Nixon mundur dari jabatannya.  

Cohen tidak memikirkan langkah politik yang akan dilakukan politisi AS. Ia hanya mengingatkan pentingnya rakyat Amerika untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pemimpin jangan hanya dilihat dari penampilan luar yang seakan-akan peduli kepada kepentingan negara, tetapi sebenarnya kekuasaan itu hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri.

Pernyataan penutup Cohen pantas untuk menjadi kesadaran kita semua yang sekitar 50 hari lagi akan memilih pemimpin. Kita harus melihat rekam jejak dari para calon pemimpin dan melihat apa yang selama ini pernah mereka kerjakan untuk bangsa dan negara.

Kita tidak pernah bosan untuk mengingatkan, demokrasi yang kita sedang bangun bukan untuk mengejar kekuasaan semata. Demokrasi itu alat untuk menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tanggung jawab pemimpin untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan segenap warga bangsa bisa melakukan kegiatan yang produktif. Ada jaminan bagi warga untuk bisa melakukan kegiatan usaha, ada kemudahan untuk mendapat dukungan pendanaan, ada infrastruktur yang memadai untuk membawa masuk dan keluar produk, serta ada sistem pasar yang adil.

Tugas pemimpin membuat aturan main yang berlaku sama untuk setiap warga. Tidak boleh ada yang namanya nepotisme, apalagi yang namanya kolusi dan korupsi. Negara ini sudah ditetapkan untuk dijalankan dengan sistem ekonomi kekeluargaan, bukan untuk kepentingan keluarga-keluarga pemegang kekuasaan saja.

Kita sudah merasakan kondisi yang lebih baik sekarang ini. Indonesia sudah masuk kelompok negara ‘layak investasi’. Pengakuan yang diberikan perusahaan pemeringkat membuat ‘risiko negara’ kita semakin menurun. Akibatnya, biaya uang untuk berinvestasi bisa lebih murah dari masa sebelum ini.

Menariknya ekonomi Indonesia tecermin dari tingginya aliran modal masuk ke negeri kita. Dalam dua bulan terakhir ini setidaknya lebih dari Rp50 triliun aliran modal dari luar negeri masuk Indonesia. Ini tentunya bisa menjadi modal bagi kita untuk maju.

Beberapa kali kita sampaikan, Indonesia akan bisa menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa karena modal sosial dan ekonomi yang kita miliki begitu luar biasa. Bonus demografi membuat jumlah orang produktif di Indonesia jauh lebih tinggi dari yang tidak produktif. Kelas menengah Indonesia juga memiliki daya beli yang besar.

Apabila kita melihat Pulau Jawa, kita pantas takjub dengan potensi ekonomi yang kita miliki. Dengan produk domestik bruto sekitar US$600 miliar, ekonomi Jawa lebih besar dari Taiwan ataupun Argentina. Sementara itu, dengan PDB sekitar US$250 miliar di Jabodetabek, ekonomi di wilayah ini sama besarnya dengan negara Cile, dan bahkan lebih besar dari Finlandia atau Vietnam.

Untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik, kita tidak boleh asal memilih pemimpin. Kita harus memilih presiden yang sungguh-sungguh mau berkorban untuk membangun bangsa dan negara ini. Kita butuh pemimpin yang asketis karena ia pasti tidak akan silap oleh silaunya harta dan menggodanya kekuasaan itu. Mari kita belajar dari kesalahan bangsa Amerika.



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.