Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
SYAHDAN, ketika Mohammad Natsir menjadi siswa Algemene Middelbare School (AMS=SMU) Bandung, ia dihina gurunya, seorang menir Belanda. Natsir yang lulusan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO=SMP) Padang, Sumatra Barat, sesungguhnya tak buruk-buruk (amat) bahasa Belandanya. Namun, ketika bercakap-cakap, ia memang tak selancar teman-temannya dari MULO di Pulau Jawa.
Natsir yang kelak menjadi perdana menteri di masa Soekarno tak patah arang. Ejekan sang menir membuat ia terus mengasah diri, membaca dan berbicara bahasa Belanda, setiap hari. Ia pun memutuskan ikut lomba deklamasi berbahasa Belanda yang digelar sekolah setiap akhir tahun. Dengan berbusana adat Minangkabau, ia membawakan puisi Multatuli Der Bandjir. Ia menjadi juara pertama di depan gurunya yang merendahkannya itu.
Cerita perlawanan terhadap guru yang rasis di masa itu justru menjadi pupuk yang menyuburkan kebun kebangsaan bernama Indonesia. Natsir tak melawan secara fisik, tetapi secara intelektual yang berdimensi psikologis tinggi. Ia melawan dengan cara cerdas!
Cerita lain lagi soal perlawanan siswa yang penuh keberanian terjadi awal 1981. Dipimpin Ketua OSIS SMA Negeri I Porogo, Jawa Timur, Agus Dwi Naranto, beberapa orang siswa mengadu ke DPR di Jakarta. Mereka membela nasib teman sekolahnya, Agung Suseno, yang tersambar peluru Kopral Warsikun. Agus tak meninggal, tetapi tubuhnya jadi invalid, bicaranya tak tak normal. Mereka menuntut hukum ditegakkan.
Alih-alih diberi penghargaan, kepala sekolah justru ‘merumahkan’ Agus dan kawan-kawan sepulang dari Jakarta. Alasannya, mereka pergi tanpa izin. Atas pelanggaran itu mereka diserahkan kepada orangtua masing-masing untuk ‘dibina’. Siapa sesungguhnya yang perlu dibina? Ini perlawanan para siswa yang terpuji.
Bulan ini kita dihebohkan sebuah perlawanan yang sebaliknya: tercela! Seorang siswa sebuah SMP di Kecamatan Wringinanom, Gresik, Jawa Timur, dengan wajah penuh amarah mencengkeram kerah baju dan kepala sang guru. Siswa berpakaian pramuka itu menantang guru berkelahi. Pasalnya, si murid merokok di dalam kelas dan Nur Khalim, guru itu, menegurnya.
Kita menyaksikan adegan via video dengan rasa sedih yang dalam. Kita prihatin betapa memudar penghargaan terhadap guru. Ruang kelas belum menjadi persemaian yang subur untuk menumbuhkan laku mulia para anak didik kita. Kita sedih justru di era ketika tengah ramai dipercakapkan pendidikan karakter dan revolusi mental.
Namun, kita beryukur, dengan tenang sang guru menghadapi ‘ujian’ itu. Ia bergeming dari tempatnya berdiri menghadapi siswa yang berpotensi brutal. Tak terbayang jika sang guru tersulut emosinya. Mungkin baku pukul terjadi. Jika itu terjadi, kelas tak lagi menjadi lokus pencerahan, tapi menjadi cerita buram yang bisa jadi memantik dendam.
Dalam mediasi yang dihadiri beberapa pihak, Nur Khalim yang statusnya masih honorer dengan besar hati memafkan anak didiknya. Kita bersyukur karena sang guru yang bersahaja memenangi ‘pertandingan moral’ mengalahkan siswa. Sudah sepantasnya tentu, tapi ditantang siswa dengan kata-kata tak pantas, guru yang pendapatannya hanya beberapa ratus ribu rupiah itu tak mudah mengendalikan emosi. Kita puji guru berusia 30 tahun itu.
Kasus di atas bukan cerita tunggal aksi banal siswa di sekolah. Di bulan ini juga lima siswa SMP Negeri 2 Galesong Kota, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, menganiaya petugas kebersihan hingga berdarah seraya menyemburkan kata-kata tak pantas.
Awal tahun lalu, Ahmad Budi Cahyono, guru seni rupa SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, Jawa Timur, dijemput maut karena dianiaya muridnya. Masih di awal tahun lalu di Purbalingga, Jawa Tengah, seorang siswa MTs juga menantang duel guru seraya menanggalkan seragamnya.
Contoh di atas boleh jadi hanya sebagian kecil. Ada banyak contoh lain lagi yang tak terekspos, yang bisa jadi, lebih banyak. Memang persentasenya kecil jika dibandingkan dengan siswa yang berjumlah sekitar 45 juta (SD, SLTP, SLTA). Akan tetapi, kekerasan pada guru tetaplah mencemaskan.
Padahal, survei Global Teacher Status Index 2018 menempatkan Indonesia di posisi kelima sebagai bangsa yang menganggap guru sebagai profesi terhormat setelah Tiongkok, Malaysia, Taiwan, dan Rusia. Namun, berbagai kekerasan pada guru seperti menafikan hasil survei itu.
Seperti yang sudah-sudah, setiap ada kasus kekerasan pada guru, para empunya otoritas di bidang pendidikan sibuk bicara, seraya menekankan, "Ini harus menjadi kasus terakhir." Namun, kekerasan seperti cerita bersambung. Institusi pendidikan, keluarga, dan agama gagal bersinergi secara padan membangun karakter siswa yang penuh etika. Terasa meluruh dari masa ke masa.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved