Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Cahaya Akihito

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
14/2/2019 05:30
Cahaya Akihito
()

SESUNGGUHNYA bukan perkara aneh bila orang tidak mengenal dirinya sendiri. Sejujurnya, saya pun belum benar mengenal diri sendiri.

Manakah lebih mudah mengenal diri sendiri atau mengenal diri orang lain? Orang biasa menjawab pertanyaan itu dalam bahasa tubuh. Mengarahkan jari telunjuk ke luar diri lebih mudah daripada mengarahkannya ke dalam diri.

Jawaban itu mungkin belum memuaskan jiwa orang yang dahaga. Akan tetapi, siapa pun yang dahaga jiwanya tidak perlu khawatir karena di dunia ini ada orang bijak yang punya jawaban atas pertanyaan pelik. Jumlahnya sedikit untuk orang biasa yang jumlahnya amat jauh lebih banyak. Belum pernah dalam sejarah manusia terjadi lebih banyak orang bijak ketimbang orang biasa. Entah di akhir zaman nanti yang saya tidak tahu bagaimana persisnya.

Kata seorang bijak yang langka itu, mengenal orang lain ialah kearifan. Mengenal diri sendiri ialah pencerahan. (Knowing others is wisdom. Knowing the self is enlightenment). Siapakah yang punya dua kualitas itu?

Seorang pemimpin bangsa dan negara diharapkan punya dua kualitas itu.  Dalam kenyataan tidak demikian. Mengenal diri sendiri kiranya dapat tertutupi atau terkalahkan karena tidak mengenal orang lain. Sebaliknya, seperti mengenal orang lain ternyata tidak mengenal diri sendiri.

Jika harus memilih, kembali ke substansi pertanyaan awal, manakah lebih baik bagi seseorang, terlebih bagi pemimpin mengenal diri sendiri atau mengenal orang lain?

Kaisar Akihito memberi jawaban bahwa lebih baik mengenal diri sendiri. Hal itu diperlihatkan melalui keputusannya turun takhta sebagai Kaisar Jepang. Tahun lalu niat itu disampaikannya ke publik, sekarang dia mengingatkan publik Jepang dan juga publik dunia, bahwa sebentar lagi 30 April 2019 niat itu menjadi kenyataan.

Dalam kesehatan yang merosot, sebetulnya kaisar tetaplah seorang kaisar yang berkuasa. Terbaring di tempat tidur dalam sakit sekalipun kaisar tetaplah kaisar yang bertakhta. Batasnya ialah kematiannya. Namun, Kaisar Akihito yang berkuasa 30 tahun menggantikan ayahnya yang wafat, tidak menunggu batas itu tiba. Apa energi batin yang menghidupi niatnya yang hebat itu? Karena dia mengenal dirinya.

Dalam usia 85 tahun dengan kesehatan yang memburuk tidak memungkinkan dirinya untuk sepenuhnya mengabdi bagi rakyatnya.

Memutuskan diri sendiri turun takhta karena mengenal diri sendiri kiranya memberi pencerahan bagi dunia. Itulah cahaya Akihito. Tidak terkecuali seandainya itu terjadi pada Pak Harto.

Mengenal diri orang lain ialah bijak. Pemimpin yang mengenal diri rakyatnya, pemimpin yang bijak. Sampai saat ini saya sulit mengerti kenapa Pak Harto memercayai suara yang menyatakan rakyat masih menginginkan dirinya bertakhta.

Dirinya akhirnya dijatuhkan dari takhta. Itu terjadi 20 tahun lalu. Namun hingga saat ini, sekalipun muncul pelajaran dari Kaisar Akihito, kita tidak punya bayangan tentang pemimpin yang berkemampuan mengundurkan diri dari takhta karena sepenuhnya mengenal dirinya dan diri rakyatnya.

Yang tampak nyata ialah pemimpin yang tidak kenal diri dan tidak kenal rakyat sepertinya ada di mana-mana di negeri ini, terlebih dalam Pilpres 2019.



Berita Lainnya
  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.