Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJAK akhir 1980-an ahli ekonomi asal Peru, Hernando de Soto, mengingatkan ketimpangan ekonomi akibat globalisasi. Segelintir elite yang paham soal hukum mampu melegalkan aset yang dimiliki sehingga bisa memberi nilai ekonomi yang tinggi. Sementara itu, miliaran penduduk dunia yang lain hanya bisa ‘membiarkan’ asetnya menjadi tidak bernilai.
Aset yang dimaksud oleh De Soto ialah properti termasuk lahan. Nilai aset yang ‘mati’ di seluruh dunia karena tidak ditopang data administrasi yang kuat mencapai US$10 triliun atau sekitar Rp140 ribu triliun. Sebuah nilai yang sangat fantastis!
Oleh karena itu, antara 1988 hingga 1995, Institut Kebebasan dan Demokrasi yang dipimpin De Soto membantu pemerintah Peru melakukan reformasi. Sekitar 1,2 juta rakyat dan 380 ribu perusahaan mendapatkan sertifikasi atas aset yang dimilikinya. Dengan itu, perekonomian Peru yang berada di ‘ruang gelap’ mampu dibawa masuk ekonomi formal.
Apa lalu manfaatnya bagi masyarakat? Mereka bisa lebih tenang dan leluasa untuk mengelola aset yang dimiliki. Mereka bisa pergi ke bank untuk mendapatkan pinjaman. Sementara itu, bagi pemerintah, perekonomian nasional bisa lebih akurat dihitung dan bahkan bisa ditarik pajaknya secara lebih adil.
Pemikiran De Soto seperti itulah yang sekarang dilaksanakan oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil. Upaya pemerintah melakukan sertifikasi tanah milik masyarakat ditujukan agar administrasi kepemilikan lahan menjadi jelas dan aset masyarakat bisa dioptimalkan.
Sekitar 5 juta sertifikasi tanah yang ditargetkan memang bukan perkara mudah. Banyak tanah yang dimiliki masyarakat tidak jelas asal-usulnya. Akibatnya, terjadi tumpang-tindih kepemilikan dan akhirnya menjadi sengketa.
Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) yang dijalankan pemerintah bukan dimaksudkan untuk menyelesaikan sengketa yang ada. Namun, bagi mereka yang tidak lagi menghadapi konflik tanah, pemerintah langsung memberikan sertifikat agar tidak menimbulkan sengketa baru.
Begitu banyak sengketa tanah yang ada sekarang ini baik antaranggota masyarakat maupun antarperusahaan. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan karena akan menguras energi dan berpotensi menjadi konflik sosial. Bahkan lebih dari itu, konflik membuat aset-aset itu menjadi tidak produktif.
Penataan dan pendataan lahan dan properti merupakan sesuatu yang perlu kita lakukan agar kita bisa membangun ekonomi yang formal. Bahkan dengan data yang akurat, perencanaan pembangunan ekonomi bisa dirancang dengan lebih baik.
Sekarang ini kita tidak memiliki data akurat tentang luasan lahan yang kita miliki. Berapa dari jumlah lahan yang ada merupakan hutan alam dan berapa luasan lahan produktif? Bahkan ada sebuah satire, berapa jumlah luasan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, hanya Tuhan yang tahu.
Sebagai negara yang akan menjadi kekuatan ekonomi keempat terbesar di dunia, maka administrasi properti harus bisa dikelola dengan lebih baik. Dengan itulah aset-aset baik yang dimiliki masyarakat maupun negara bisa dibuat menjadi lebih produktif.
Negara-negara maju bisa memiliki ekonomi yang kuat karena mereka mampu mengapitalisasikan semua aset yang dimiliki. Dengan memiliki surat-surat yang sah, maka semua aset yang mereka miliki bisa dijadikan modal yang produktif.
Tentu dibutuhkan kecerdasan juga untuk bisa membuat aset-aset itu menjadi produktif. Tugas kita bersama untuk mendidik masyarakat agar tidak mudah menjaminkan sertifikat yang dimiliki. Harus jelas tujuan yang hendak mereka capai.
Tantangan terbesar pada kita ialah mereka yang selama ini bermain di ‘ruang gelap’. Program PTSL masih diganggu oleh mereka yang selama ini memburu rente. Prinsip ‘kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah’ masih ada di tengah kita.
Namun, kita tidak perlu berkecil hati. Langkah awal ini membutuhkan konsistensi dalam pelaksanaannya. Ketika semua pendataan bisa dilakukan, penataan penggunaan lahan akan bisa dilakukan dengan lebih baik dan dengan modal itulah kita akan bisa semakin maju.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved