Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Kesetiaan terhadap Capres

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
28/1/2019 05:30
 Kesetiaan terhadap Capres
()

KEBEBASAN memilih membuka kemungkinan untuk tidak setia. Inilah ketidaksetiaan yang sah dalam berdemokrasi, yaitu pemilih memberikan suara kepada pasangan capres-cawapres yang berbeda dari yang dicalonkan parpol yang mereka dukung.
Lembaga survei Indikator membahasakan perilaku mereka itu dengan sebutan split-ticket voting. Sebutan yang manis, untuk tidak mengatakan perilaku tidak setia.

Pilihan terhadap parpol tidak lurus sejalan dengan pilihan calon presiden yang diusung partai bukan perilaku yang baru. Perilaku itu terjadi pada pemilihan presiden sebelumnya dan kiranya juga bakal terjadi pada Pilpres 2019. Persoalannya ialah seberapa banyak pemilih yang mencong dari pasangan capres-cawapres yang diusung partai pilihan mereka?

Indikator menjawab pertanyaan itu dengan melakukan survei pada 16-26 Desember 2018. Sebanyak 1.220 responden mewakili warga negeri ini yang berhak memilih diwawancara di lapangan. Margin of error 2,9%.

Temuannya tidak ada partai yang punya kursi di DPR sekarang ini yang basis pemilihnya semuanya lurus sejalan juga memilih pasangan calon presiden-wakil presiden yang diusung partai pilihan mereka. Dalam bahasa yang lugas, sesungguhnya dan senyatanya tidak ada partai yang basis pemilihnya 100% setia memilih capres-cawapres yang diusung partai pilihan mereka.

Survei itu mencakup semua partai koalisi dalam Pilpres 2019. Akan tetapi, di kolom ini penulis hanya melihat hasil survei 10 partai yang punya kursi di DPR sekarang ini. Pertama, merekalah yang punya hak untuk mencalonkan pasangan presiden-wakil presiden. Kedua, basis partai itu pernah diuji dalam pemilu legislatif dan lulus ambang batas parlemen.

Dalam hal memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, survei menunjukkan basis partai yang paling setia ialah PDI Perjuangan (90,1%), disusul Partai NasDem (69,6%), Partai Golkar (62,1%), Partai Hanura (59,1%), dan PPP (53,7%). Tampaklah split-ticket voting alias pemilih tidak setia paling banyak terdapat di basis pemilih PPP.

Dalam hal memilih pasangan Prabowo-Sandiaga Uno, survei menunjukkan basis partai yang paling setia ialah Gerindra (81,5%), disusul PKS (73,7%), PAN (71,9%), dan Partai Demokrat (54,1%). Tampaklah split-ticket voting alias pemilih tidak setia paling banyak terdapat di basis pemilih Demokrat.

Temuan lain, sekalipun PDI Perjuangan paling banyak meraih efek ekor jas Jokowi, masih ada 6% dari basis mereka yang memilih Prabowo Sandiaga. Sebaliknya, lebih banyak lagi basis Gerindra yang memilih Jokowi-Ma'ruf Amin, jumlahnya mencapai 14,1%. Padahal, seyogianya Gerindra lebih banyak mendapatkan keuntungan efek ekor jas karena pasangan Prabowo-Sandiaga seutuhnya berasal dari Gerindra.

Menurut Indikator, split-ticket voting mengindikasikan sedikitnya dua hal. Pertama, keberhasilan partai untuk menjaga loyalitas pemilih mereka. Kedua, menunjukkan kekuatan personal pasangan calon presiden-wakil presiden untuk menarik sebanyak mungkin pemilih, bahkan dari basis partai yang tidak mengusung mereka.

Dalam semua cabang kehidupan selalu saja ada orang yang tidak setia. Terlebih dalam kencang dan derasnya politik uang. Sekalipun basis partai tidak mungkin 100% setia, partai perlu bekerja lebih keras lagi untuk menanamkan loyalitas di basis mereka agar split-ticket voting semakin kecil.

Saya sendiri cenderung melihatnya lebih pada kekuatan personal pasangan calon presiden-wakil presiden. Itulah yang terjadi pada Pilpres 2004. Basis PDI Perjuangan lebih besar daripada Partai Demokrat, pengikut mereka pun lebih setia, tetapi SBY yang terpilih menjadi presiden. Kenapa? Kekuatan personal SBY menarik lebih banyak pemilih dari basis partai yang tidak mengusungnya.

Pada Pilpres 2014, Prabowo-Hatta diusung basis partai yang lebih besar daripada basis partai yang mengusung Jokowi-JK. Faktanya yang terpilih Jokowi-JK. Kenapa? Karena kekuatan personal Jokowi-JK memang lebih hebat, lebih mampu menarik lebih banyak pemilih dari basis partai yang tidak mengusung mereka.

Sekarang basis partai pengusung Jokowi-Ma'ruf Amin lebih besar daripada Prabowo-Sandiaga Uno. Sekalipun petahana lebih diuntungkan, ketergerusan basis pemilih bisa terjadi lebih besar lagi.

Seperti telah saya sampaikan di forum ini, saya pendukung Jokowi dan ingin Jokowi memimpin negeri ini 10 tahun. Kali ini dengan terus terang saya perlu bilang agar KH Ma'ruf Amin lebih menunjukkan kekuatan personalnya untuk menarik lebih banyak pemilih.

 



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.