Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
BERKALI-KALI upaya pembebasan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir dilakukan, tapi berkali-kali pula urung. Di dalam kabinet sendiri usul dan pembebasan ustaz dari Pondok Pesantren Al-Mukmin, Sukoharjo, Jawa Tengah, itu juga beberapa kali dibahas. Kapolri Jenderal Tito Karnavian, yang juga ahli terorisme, pastilah amat paham makna seorang Ba’asyir.
Namun, baru di awal 2019 inilah pria berusia 80 tahun itu bisa menghirup udara bebas sejak diterungku pada 2011 karena terlibat terorisme. Adalah penasihat hukum Joko Widodo-Maruf Amin, Yusril Ihza Mahendra, yang mematangkan pembebasan itu. Ia menjadi ’penyambung lidah’ pihak Jokowi ke Baa’syir. Alasan kemanusiaan itulah yang memafhumkan kedua pihak.
Memang, apa pun pertimbangannya, pembebasan Basyir sungguh menyentakkan. Wajar pula jika banyak yang bersependapat dan yang mendebat. Yang bersetuju membenarkan alasan kemanusiaan dan bahkan bisa mengurangi tindak kejahatan terorisme. Yang menolak beralasan pembebasan itu akan merusak tatanan hukum kita.
Saya juga termasuk yang terperanjat. Pertama, Ba’asyir menolak mengakui Pancasila sebagai dasar negara sebagai syarat pembebasan. Kedua, dalam debat calon presiden sehari sebelumntya, Jokowi-Amin punya pandangan tegas seperti tak ada kompromi pada terorisme. Mereka akan memberantas terorisme sampai ke akar-akarnya.
Ketiga, Yusril ialah penasihat hukum calon presiden/wakil presiden Joko Widodo-Maruf Amin, terlalu kentara neraca politisnya betapa pun pembebasan itu dimaklumatkan soal kemanusiaan. Keempat, risikonya pasti dikecam banyak negara. Jokowi mengambil risiko itu.
Saat Yusril menyampaikan informasi pembebasan itu kepada Ba’asyir di Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur, Bogor, Jumat (18/1), kekerasan hati Ba’asyir juga mencair. Wajahnya terlihat berseri-seri ia berseloroh, ”Tidak takut teroris?” katanya kepada wartawan yang meliputnya. Ba’asyir mengucapkan syukur ke hadirat Allah dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah mengambil inisiatif pembebasannya.
”Pak Yusril ini saya kenal sejak lama. Beliau ini orang berani sehingga banyak yang memusuhinya. Tetapi, saya tahu, beliau menempuh jalan yang benar,” puji Ba’asyir.
Jokowi memang tipe pemimpin yang kadang naif. Namun, langkahnya kerap tak terduga. Ia kerap menyelesaikan masalah dengan tak sungkan mendatangi lawan. Ketika berlangsung aksi 212 di area Monas, ia putuskan bergabung. Dalam hujan ia berjalan kaki dari Istana ke lokasi aksi. Bersama Jusuf Kalla dan sejumlah menteri, ia salat Jumat bareng mereka.
Yang membuat kita terpana ialah terpilihnya Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden. Pilihan akan ulama nomor satu dari sisi struktural, tak hanya menepis ia antiulama, tapi bahkan bisa bekerja sama. Kita tahu, Maruf dan MUI ialah pemantik lahirnya aksi 212 dengan fatwa penodaan agama. Jokowi ingin memberi pesan, ia punya persamaan dalam beberapa hal dengan Ahok, tetapi juga tak selalu dalam sebuah ’keranjang’.
Dari banyak cerita, Jokowi selalu mendatangi daerah yang dinilai rawan. Salah satu misalnya ialah Kabupaten Nduga, di Papua. Ia pergi lokasi itu meski pihak keamanan tak mengizinkannya. Jokowi seolah ingin mengatakan tak boleh ada daerah di Republik ini yang tak aman. Adalah tugas polisi dan TNI memastikan daerah itu tak rawan.
Kekuatan Jokowi memang pada kesabarannya ’menaklukkan’ lawan. Putar saja ingatan kita ketika jadi Jokowi Wali Kota Solo. Ia tahan berbulan-bulan mengundang makan siang para pedagang kaki lima ke lokasi khsusus. Ia cium tangan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo yang mengatai Jokowi bodoh karena perbedaan dalam sebuah proyek (Saya tak tahu bagaimana kalau kini Bibit bertemu Jokowi).
Akan halnya merapatnya Yusril Ihza ke Jokowi-Amin, pastilah kekuatan lawan berkurang lagi. Panggung Yusril dan (mungkin plus PBB) yang semula redup kini hidup lagi. Namun, Yusril, seperti disebut Ba’asyir, sebagai tokoh yang berani. Ia punya banyak informasi tentang kubu lawan dan Yusril bisa mengungkapkannya dengan terbuka.
Bukti konkret tafsir akan Ba’asyir dan yang lain-lain, salah satunya, ya, 17 April nanti. Pastilah ini jadi penantian yang mendebarkan.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved