Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Rakyat bukan Pembosan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
21/1/2019 05:30
 Rakyat bukan Pembosan
()

RAKYAT Indonesia bukan tergolong manusia pembosan terhadap presidennya. Sejarah mengatakan kesimpulan itu.

Bung Karno menjadi presiden 20 tahun. Pak Harto duduk di kursi presiden 32 tahun. Bila diukur dengan masa jabatan lima tahun, Bung Karno menjadi presiden empat kali masa jabatan, Pak Harto enam kali masa jabatan.

Bung Karno tidak bikin rakyat bosan karena pidatonya selalu mengandung hal-hal baru. Saban dia berpidato rakyat terpukau mendengarnya melalui RRI.

Pak Harto tidak pandai berpidato. Dia sisi sebaliknya Bung Karno. Dia berwatak tenang. Kenapa rakyat tidak bosan? Ketenangannya seperti menghanyutkan. Jarang tampil berpidato di muka umum menyembunyikan kedatarannya berbicara.

Di atas segalanya ialah keberhasilannya membangun dengan program inpres, yang antara lain menjadikan dirinya presiden yang berbeda dengan Bung Karno yang sibuk dengan revolusi yang belum selesai.

Di era presiden dipilih secara langsung rakyat pun tidak menjadi pembosan terhadap presiden pilihannya. SBY terpilih dua kali. Ia 10 tahun menjadi presiden. Tapi cukup sampai di situ. Perubahan UUD 1945 melarang presiden lebih dua kali.

Rakyat bukan jenis pembosan terhadap presidennya. Namun, 'sebagian' dari rakyat bisa menjadi pemarah terhadap presidennya. Mereka lalu menggerakkan perlawanan terhadap presiden.

Kemarahan itu kiranya lebih karena presiden otoriter. Itulah yang terjadi dengan Bung Karno dan Pak Harto yang diturunkan dari kekuasaannya dengan cara tidak enak.

Bung Karno bahkan sempat digadang-gadang menjadi presiden seumur hidup. Bila itu yang terjadi, soal waktu saja sebagian rakyat marah karena perut rakyat yang lapar tidak dapat dikenyangkan oleh pidato yang paling berapi-api sekalipun.

Bayangkanlah apakah yang terjadi bila setelah Pemilu 1987 atau 1992 Pak Harto berubah menjadi lebih demokratis dan sedikit keras terhadap kolusi, korupsi, dan nepotisme, terlebih terhadap anak-anaknya? Bisa jadi dia terus menjadi presiden sampai meninggal.

Kenyataan bahwa rakyat bukan pembosan kiranya berlawanan dengan ajakan ganti presiden. Ajakan ganti presiden tidak laku dijual kepada mayoritas rakyat yang bukan makhluk pembosan.

Saya pikir psikologi rakyat bukan pembosan merupakan kelebihan yang dimiliki calon presiden petahana. Apalagi, Jokowi memang bukan tipe membosankan.

Jokowi kreatif menciptakan kata-kata yang menjadi perbincangan publik. Contohnya, suatu kali dia bicara 'papa minta saham', kali lain bicara 'gendruwo politik'. Dia tidak monoton.

Humor pun tercipta, misalnya, saban kali Presiden memberi hadiah sepeda kepada warga. Itu juga contoh betapa Jokowi bukan presiden yang membosankan. Di antaranya hadiah sepeda untuk anak sekolah yang bisa menjawab lima nama ikan menjadi hiburan yang berkepanjangan di ruang publik. Maaf, anak itu berulang menyebut ikan 'kon...'. Padahal, yang dia maksud ialah ikan 'tongkol'.

Presiden Jokowi pun membuat rakyat tidak lagi bosan dan menggerutu menempuh pantai utara Jawa. Presiden membuat kita menemukan banyak senja di tol yang membentang 760 kilometer Jakarta-Surabaya.

Apakah yang kiranya bakal terjadi bila rakyat yang bukan pembosan bertemu presiden yang tidak monoton? Terus terang saya berharap sang presiden kembali terpilih untuk kedua kali.

 



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.