Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Uang

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
19/1/2019 05:10
Uang
()

DEBAT perdana untuk Pemilihan Presiden 2019 sudah digelar. Tema pertama yang dibahas ialah persoalan hukum, hak asasi manusia, korupsi, dan terorisme. Kedua pasangan calon sama-sama memaparkan langkah yang akan ditempuh apabila terpilih nanti.

Meski temanya berkaitan dengan tatanan kehidupan yang akan kita bangun ke depan, tetap saja debat dikaitkan dengan ekonomi.  Terutama pasangan Prabowo-Sandiaga Uno berupaya mengaitkannya dengan isu-isu ekonomi seperti lapangan pekerjaan, investasi, dan bahkan tax ratio. Memang sejak awal pasangan ini menggariskan bahwa tema utama kampanye yang akan mereka usung ialah soal ekonomi.

Tentu tidak salah karena pada akhirnya pemegang kekuasaan mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan kesejahteraan umum. Hanya saja, terlalu menyederhanakan persoalan kalau kemudian semua masalah itu bisa diselesaikan dengan uang.

Seperti masalah korupsi, persoalannya bukan terletak pada masalah gaji. Persoalan itu muncul karena kita terlalu menempatkan kekuasaan sebagai hak istimewa, power is privilege. Akibatnya, yang namanya kewenangan itu dijadikan komoditas. Semua perizinan hanya akan diberikan kalau ada imbalannya.

Semua ini terjadi karena kita tidak bisa membedakan antara kehormatan dan kekayaan. Seorang yang memilih menjadi pejabat negara, maka ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya memilih jalan mencari kehormatan. Rakyat memberikan itu dengan berebut menyalami ketika bertemu, menyapa, dan bahkan memberikan jalur khusus ketika di dalam antrean.

Pejabat yang sudah mendapatkan kehormatan tidak boleh tergoda untuk mengejar kekayaan. Kalau kita mau mengejar kekayaan, jalurnya harus menjadi pengusaha. Korupsi terjadi ketika kehormatan dipakai untuk mencari kekayaan.

Mengapa di Indonesia marak terjadi korupsi? Karena kita keliru dalam memahami yang namanya materi. Seakan orang yang hidupnya bahagia itu  ialah orang yang bergelimang harta. Sudah lama kita terlalu mendewakan materi sehingga ukuran orang yang berhasil di mata kita itu ialah orang yang rumahnya besar dan mobilnya mewah.

Dengan kultur yang seperti ini, gaji yang tinggi bukan jaminan bahwa ia tidak akan korupsi. Pada zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah remunerasi pegawai Kementerian Keuangan dinaikkan berkali lipat agar tidak korupsi. Kenyataannya pegawai pajak seperti Gayus Tambunan tetap melakukan korupsi.

Demikian pula masalah terorisme, tidak cukup persoalannya hanya diselesaikan dengan melengkapi persenjataan polisi dan tentara. Amerika Serikat mengeluarkan miliaran dolar untuk ­memerangi terorisme. Namun, terorisme bukannya punah, melainkan justru semakin menjadi-jadi karena polanya yang berubah.

Oleh karena ini berkaitan dengan ideologi dan pemahaman yang keliru, yang harus ditangani justru pola berpikirnya. Calon wakil presiden Ma’ruf Amin secara tepat menyebutkan bahwa sikap intoleran yang menjadi akar radikalisme dan terorisme itu yang harus kita serius tangani terlebih dahulu.

Kalau uang dipakai sebagai alat untuk menyelesaikan semua persoalan negara, yang akan muncul ialah persoalan baru. Apalagi dalam ekonomi dikatakan, sumber daya itu sangat terbatas. Dalam keterbatasan itu perlu ada pilihan-pilihan agar diperoleh hasil yang paling optimum.

Korea Selatan menjadi negara maju bukan karena mereka kaya raya. Mereka sangat sadar sumber daya alam yang dimiliki sangatlah terbatas. Oleh karena itu, yang mereka bangun manusianya. Tulisan besar yang terpampang ketika kita memasuki area Pohang Steel Company, misalnya, ‘Resources are limited, creativity is unlimited’.

Kalau uang kemudian dianggap sebagai penentu keberhasilan, negara harus mempunyai pendapatan yang besar. Calon presiden Prabowo Subianto mengatakan akan menaikkan tax ratio sebesar 9%. Kalau tax ratio kita sekarang sekitar 11%, penambahan 9% itu kira-kira sama dengan menambah penerimaan pajak Rp1.260 triliun. Siapa lagi warga negara yang akan dikejar untuk membayar pajak sebesar itu?

Debat pertama memberikan gambaran kepada kita bahwa calon pemimpin belum memahami secara detail persoalan bangsa ini. Kita juga belum melihat pemikiran strategis yang akan membawa kita keluar dari persoalan.

Kita tentu berharap ada perbaikan yang dilakukan sebab tantangan yang kita hadapi tidak bisa diselesaikan dengan simplifikasi. Sering pilihan yang dihadapi seorang pemimpin bukanlah antara baik dan buruk, melainkan antara buruk dan kurang buruk. Dalam pilihan yang pelik itu, kita harus tetap bisa maju ke depan.



Berita Lainnya
  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.