Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Tak Putus Dirundung Dusta

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
04/1/2019 05:30
Tak Putus Dirundung Dusta
()

BAGI para kesatria, alih tahun dimaknai dengan segenap harapan. Sebaliknya, bagi penebar kecemasan, tahun baru berarti dusta baru sebab dari kabar lancung yang sudah-sudah memang mudah menghunjam dalam ingatan kita yang pendek. Publik resah, aparat sibuk, dan pengamat semangat membincangkannya. Bisa jadi para 'pemain dusta' tertawa-tawa menghitung 'laba'.

Inilah bangsa yang tak putus dirundung dusta, yang para perundungnya orang-orang yang pandai. "Orang pandai yang tak punya hati nurani. Orang-orang terhormat yang kehilangan martabat," kata seorang aparat Polri yang diwawancarai sebuah stasiun radio terkait dengan berita bohong tujuh kontainer surat suara dari Tiongkok tercoblos untuk pasangan calon presiden-wakil presiden nomor urut 01.

Ada nada geram suaranya. Politik seperti itu telah mematikan akal sehat sebab surat suara pemilu baru selesai dicetak Maret nanti. Selama dua

tahun belakangan, katanya, bangsa ini dikepung dusta yang bersimaharajalela. Kian terasa ada kenekatan di atas rata-rata para penebarnya. Mereka lihai memainkan isu, mereka juga cakap keluar dari 'kepungan'.

Itulah ujian demokrasi masa awal yang kerap dianalogikan berada di pusaran atau persimpangan jalan. Kita butuh pemimpin yang punya visi untuk keluar dari situasi yang menjengkelkan itu. Masyarakat sipil juga harus keras menolak terseret dalam permainan merusak bangsa sendiri.

Cina, asing, aseng, PKI, anti-Islam, memang telah dikemas dalam paket jualan politik sejak Pilpres 2014. Ia telah menjadi penanda yang diasumsikan bisa membuat sentimen sampai ke ubun-ubun untuk membela capres idolanya seraya menafikan capres yang lain. Meski sudah ada yang menyadari itu permainan usang, masih ada yang memercayainya.

Tujuh kontainer berisi surat suara tercoblos capres nomor 01. Satu kontainer konon 10 juta surat suara, tujuh kontainer sudah 70 juta surat suara. Artinya, di hari pencoblosan nanti, hajatan politik yang paling ditunggu itu sudah kelar. Inilah kebatilan yang harus ditertibkan.

Sudah benar Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengadukan pembuat dan penyebar berita dusta ke penegak hukum. Harapan KPU agar mereka jera. Para penebar dusta tak akan jera. Kalau jera, sejak dua redaktur Obor Rakyat dipenjara, informasi dusta mestinya selesai.

Faktanya, mereka 'pantang surut ke belakang'. Politik telah melupakan dan membutakannya sebab kebatilan yang kali lain dikutuk, kali ini dipeluk.

Sejak kampanye pemilihan presiden dibuka beberapa bulan lalu, publik belum mendapat apa-apa, selain kegaduhan dan kecemasan. Belum ada pertukaran ide, pertukaran gagasan, dan menambah pengetahuan. Politik yang mulia yang penuh noda.

Bayangkan, kita belum lupa hoaks Ratna Sarumpaet dengan kenekatan yang tak terperi. Sosok pekerja seni, aktivis HAM, pembela kaum marginal--begitu predikat yang kerap dilekatkan padanya--lalu berubah jadi penebar hoaks nomor wahid di negeri ini.

Hingga kini saya belum paham kenapa Ratna menjadi penebar hoaks berkelas, dingin, dan membius. Saya juga belum mafhum bagaimana 'deretan tokoh hebat, bahkan ada yang berpredikat ulama' tanpa visum dokter sebab Ratna ogah lapor polisi, tak menggunakan akal sehat mereka.

Respons mereka seragam, menuding penguasa di balik kejahatan yang mem-vermak wajah sutradara Satu Merah Panggung itu. Mereka masih nyaring juga bicara, seolah tanpa noda.

Para penebar hoaks dan pendukungnya tak peduli. "Siapa pun yang ceroboh dengan kebenaran dalam hal-hal kecil tidak dapat dipercaya dalam hal-hal penting," kata Albert Einstain. Dalam era politik yang bengis ini, kebenaran justru tengah diolok-olok oleh para 'pemain dusta'. Mungkin mereka tengah menyusun dusta berikutnya. Res publica (urusan publik) pun seperti tengah dibelokkan ke arah res privata (urusan privat).

Terserah siapa presidennya nanti, tapi menebar berita dusta ialah kebatilan. Ia merapuhkan kita. Harus dikobarkan terus 'jihad' melawan para penebar dusta. Agar asa bangsa ini terus meninggi, supaya tak suram masa depannya seperti digambarkan para pendusta.



Berita Lainnya
  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.