Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Diri yang Harum

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Group
24/12/2018 05:30
Diri yang Harum
(MI)

BAGAIMANAKAH mestinya seorang presiden yang terpilih kembali menghormati secara mendalam mantan wakil presidennya?

Jangan membuang waktu mencari jawaban dalam sejarah kepresidenan Republik Indonesia. Kenapa? Karena memang jawabannya tidak dapat ditemukan di masa lalu.

Faktanya belum pernah terjadi presiden yang berkuasa kembali menunjukkan rasa hormat yang mendalam kepada mantan wakil presiden yang sebelumnya mendam­pinginya. Akarnya kuat, presiden ingin dirinya sendiri yang harum.

Yang terjadi di masa lalu ialah perpisahan. Bukan bersama-sama harum. Presiden terpilih kembali tidak lagi membutuhkan mantan wakil presidennya. Hubungan kemudian lebih merupakan hubungan seremonial. Setiap perayaan 17 Agustus dia diundang ke Istana, seperti mantan wakil presiden lainnya.

Sikap macam itu warisan Pak Harto yang berpisah ‘begitu saja’ dengan wakilnya. Punya wakil presiden karena diatur konstitusi. Wapres merupakan kepantesan bernegara.

Bahkan, sekalipun telah menjadi wapres yang bersangkutan tetap dipandang sebagai bawahan. Karena itu tidak akan muncul pertanyaan, bagaimanakah supaya diri sama-sama harum? Bagaimanakah mestinya seorang presiden yang terpilih kembali menghormati secara mendalam mantan wakil presidennya agar sama-sama harum?

Pertanyaan itu juga tidak muncul ketika zaman berubah, ketika pasangan presiden-wakil presiden tidak lagi dipilih MPR, melainkan dipilih langsung oleh rakyat. Bukankah di zaman baru itu cawapres diperhitungkan memberi pengaruh elektoral? Benar, tetapi kemudian ‘terlupakan’.

Terlupakan karena hubungan yang terbangun semata kontrak lima tahun. Habis itu sayonara, goodbye. Maaf, saya kira itulah yang terjadi dalam hubungan SBY-JK.

Sejarah kemudian punya cerita baru. JK digandeng Jokowi, menjadi wakil presiden kembali. Dia satu-satunya wakil presiden dua periode, untuk dua presiden berbeda. JK tidak dapat diusung kembali bersama Jokowi karena konstitusi, bukan karena faktor lainnya. Pekan lalu Jokowi bilang bila ia terpilih kembali menjadi presiden, ia meminta JK tetap membantunya melaksanakan tugas-tugas negara.

Meminta bantuan untuk tugas-tugas negara jelaslah merupakan ekspresi rasa hormat yang mendalam kepada sang wakil. Bukan rasa hormat seremonial. Hubungan Jokowi-JK bukan hubungan kontrak lima tahun, lalu adios amigos. Jokowi ingin dirinya harum bersama. Sebuah contoh keteladanan.

Saya teringat pandangan yang bilang kemenangan pribadi yang berintegritas merupakan fondasi bagi kemenangan publik. Kemenangan Jokowi untuk dua periode juga berkat kepemimpinan berintegritas bersama JK.

Jokowi melihat kepemimpinan sebuah karya yang bersifat saling mengisi, sa­ling memperkuat, bahkan dalam derajat tertentu saling tergantung. Karena itu, ia meminta wakil presidennya itu untuk tetap membantunya melaksanakan tugas-tugas negara bila ia terpilih kembali menjadi presiden. Kiranya itu ajakan agar tetap harum bersama.

Seorang presiden pada akhirnya bukan hanya merupakan sebuah pilihan. Namun, keyakinan bahwa yang terpilih akan meninggalkan jejak yang dalam di ranah kepublikan, serta diri yang harum di hati rakyat yang terdalam karena keteladanannya.



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.