Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Mengejar Devisa

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
19/12/2018 05:30
Mengejar Devisa
()

BERBAGAI upaya sudah dilakukan pemerintah untuk mendorong ekspor. Namun, laporan Badan Pusat Statistik menyebutkan defisit perdagangan November lalu justru meningkat menjadi US$2,05 miliar. Defisit perdagangan terbesar sepanjang 2018 ini membawa defisit perdagangan sepanjang 11 bulan tercatat sebesar US$12,67 miliar.

Turunnya harga komoditas menjadi penyebab nilai ekspor tidak seperti yang kita harapkan. Defisit sektor migas pada November menyumbangkan US$1,46 miliar, sedangkan sektor nonmigas mengalami defisit sebesar US$0,58 miliar.

Pertanyaannya, bagaimana langkah kita memperbaiki defisit ini? Tanpa ada langkah yang khusus, angka defisit ini bisa semakin membesar. Yang kemudian dikhawatirkan ialah membengkaknya defisit neraca transaksi berjalan. Kita tahu peningkatan defisit neraca transaksi berjalan berdampak kepada persepsi terhadap kemampuan pengelolaan anggaran negara, yang kalau dibiarkan akan menekan nilai tukar rupiah yang sudah susah payah dijaga oleh Bank Indonesia.

Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, menyebut dua langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk menekan angka defisit, yakni memberikan insentif ekspor dan menggenjot pariwisata. Yang kedua ini bahkan bisa segera dilakukan karena di zaman sekarang ini banyak orang senang bepergian. Indonesia mempunyai semua hal, mulai budaya, alam, hingga kuliner yang membuat orang datang ke negeri ini.

Mengapa lalu pariwisata tidak bisa menjadi andalan untuk menghasilkan devisa? Karena kita bekerja sendiri-sendiri. Pemerintah pusat sering kali tidak sinkron dengan pemerintah daerah untuk menggarap pariwisata sebagai kekuatan. Akibatnya, kecuali ke Bali, turis merasa kecewa ketika berlibur ke Indonesia karena tidak bersih, tidak nyaman, dan tidak menyenangkan.

Demikian pula antara operator penerbangan, penyedia jasa akomodasi, dan pemerintah sering kali tidak kompak. Pihak Garuda Indonesia misalnya, merasa kesal karena sudah susah payah membuka penerbangan langsung internasional ke Bandara Silangit. Namun, hingga kini tidak cukup daya tarik yang dibuat pemerintah daerah untuk membuat orang mau datang lagi ke Danau Toba.

Mari kita lihat negara lain yang menjadikan pariwisata sebagai andalannya. Hong Kong misalnya, luasan wilayahnya hanya sekitar 1.100 km persegi. Jumlah penduduknya tidak lebih dari 10 juta. Akan tetapi, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke negara itu bisa mencapai 60 juta orang.

Kita bisa melihat juga bagaimana Thailand menggarap pariwisata. ‘Negeri Gajah Putih’ itu menjadi magnet wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke sana. Seperti kita, mereka pun menjual budaya, alam, dan kuliner sebagai kekuatannya. Namun, setiap tahun Thailand mampu meraup sedikitnya US$50 miliar dari pariwisatanya.

Bahkan yang luar biasa, Thailand cukup mengandalkan dua produk saja untuk bisa menghasilkan devisa sampai US$100 miliar. Satu lagi yang benar-benar mereka andalkan ialah industri otomotif. Dengan menjadikan negerinya sebagai ‘Detroit ASEAN’, Thailand membuka sepenuhnya negaranya sebagai basis produksi mobil-mobil Jepang. Setiap tahun ada 2,3 juta mobil yang diproduksi dan 70% diekspor ke negara-negara ASEAN termasuk Indonesia.

Yang pantas membuat kita kagum, arah kebijakan industri yang jelas membuat Thailand tidak sekadar menjadi tempat perakitan. Industri pendukung mereka juga berkembang pesat sehingga 95% komponen kendaraan diproduksi juga di Thailand.

Kalau kita becermin kepada ekonomi kita sekarang ini, ekspor terbesar kita disumbangkan kelapa sawit yang setiap tahun memasukkan devisa US$20 miliar. Untuk mendapatkan devisa sebesar itu, kita harus mengolah lahan sekitar 14 juta hektare. Kalau kita ingin mendapatkan devisa sebesar US$50 miliar seperti industri otomotif Thailand, artinya kita harus menanam lagi kebun sawit seluas 20 juta hektare.

Dengan jumlah luasan sekarang saja, kita sudah dimusuhi seluruh dunia, apalagi kalau kita harus menambah luasan lahan sampai 20 juta hektare. Oleh karena itu, pilihan untuk mengembangkan industri yang mempunyai nilai tambah tinggi atau pariwisata jauh lebih realistis dalam upaya meningkatkan devisa.

Apakah kita mampu melakukan terobosan itu? Kita sudah melihat bagaimana Banyuwangi mampu menjadi tujuan baru pariwisata. Hal yang sama berhasil dilakukan Bintan. Kita memiliki kepala daerah yang kreatif dan paham untuk memanfaatkan pariwisata sebagai kekuatan ekonomi daerahnya. Kita hanya butuh lebih banyak kepala daerah yang berpikir out of the box.

Selanjutnya, yang dibutuhkan ialah bagaimana membangun sinergi. Kita harus menyusun konsep yang lebih menyatukan semua kekuatan itu. Kehadiran wisatawan mancanegara harus mampu memberikan keuntungan kepada operator penerbangan, industri perhotelan, industri makanan dan minuman, usaha kecil dan menengah, dan juga masyarakat secara bersamaan.

Sepanjang promosi pariwisata hanya menjadi beban satu pihak, kita tidak pernah bisa optimal memanfaatkan potensi pariwisata yang kita miliki. Masak Indonesia kalah dari Singapura yang hanya sebuah kota dalam menarik wisatawan? Begitu banyak cara untuk menutup defisit neraca transaksi berjalan, sekarang tinggal kreativitas untuk melaksanakannya.

 



Berita Lainnya
  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.