Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
TULISAN ini kiranya perlu diawali dengan sebuah pengakuan. Bahwa saya sudah lama tidak nonton sandiwara, dalam makna teater. Untuk itu, saya mohon maaf kepada sahabat Butet Kertaradjasa.
Tidak nonton sandiwara itu rasanya perlu dilanjutkan sampai pemilihan presiden tuntas. Kenapa? Sepertinya dalam rangka pemilihan presiden, saya tidak perlu nonton sandiwara benaran sebab muncul sandiwara-sandiwaraan.
Orang tentu perlu berkampanye menjajakan calon presiden- wakil presiden yang diusungnya. Berkampanye itu dimengerti sebagai upaya untuk memenangkan persepsi pemilih dengan cara menawarkan visi-misi serta program untuk hidup berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Yang dicari pemimpin bangsa dan negara, bukan badut.
Namun, kampanye macam itu dinilai terlalu lurus, steril. Hanya bagus untuk kecerdasan. Padahal, meyakinkan pemilih dengan otak merupakan jalan panjang menuju kegagalan.
Jalan pendek menuju keberhasilan ialah meyakinkan pemilih dengan menyiasati emosinya. Caranya? Berkampanyelah dengan modus bersandiwara dalam sandiwara disertai dengan hoaks. Apakah jadinya bila bersandiwara dalam sandiwara berisi kebohongan? Jawabnya menipu rakyat.
Sandiwara punya beberapa arti. Satu di antaranya ialah kejadian-kejadian (politik dan sebagainya) yang hanya dipertunjukkan untuk mengelabui mata, tidak sungguhsungguh. Itu dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Mengelabui berarti menyesatkan pandangan, yang juga berarti menipu. Itulah sandiwara yang dapat terjadi dalam keinginan mengganti presiden. Sangat berbeda dengan sandiwara yang saya tonton di masa kecil, sandiwara 17 Agustus, cerita real sejarah heroisme pejuang mengalahkan Belanda dengan bambu runcing.
Di masa tua sekarang ini, saya paham orang yang belum pernah menjadi presiden atau wakil presiden tentu saja belum punya kisah nyata untuk disandiwarakan dalam tonil atau teater yang benaran. Di situlah pula bedanya dengan petahana.
‘Bersandiwara’ selain berarti ‘bermain drama (tonil, teater)’, juga punya arti ‘berpura-pura’. Contoh yang dipakai sebuah kamus ialah ‘Di depan ibunya ia pandai bersandiwara seakan-akan pergi belajar, padahal sebenarnya ia pergi menonton film’.
Contoh itu dapat diganti, ‘Di depan rakyat ia pandai bersandiwara seakan-akan dizalimi, padahal sebenarnya ia ingin dikasihani’. Kenapa? Rakyat yang terkelabui karena kasihan lalu diharapkan memilihnya sebagai presidenwakil presiden.
Sesungguhnya sampai sekarang saya terheran-heran, kok bisa di suatu masa ada presiden terpilih karena dia merasa terzalimi. Betapa panjang keheranan itu kalau pada 2019, presiden terpilih berkat pendampingnya, cawapres, mampu bersandiwara dizalimi.
Sesungguhnya saya pun terheran-heran bagaimana mungkin pemimpin yang dicandrakan tegas menyukai pasangan yang berpura-pura? Dalam kampanye sandiwarasandiwaraan, setelah terpilih, bisa terjadi di negara ini ada presiden-presidenan karena pendampingnya yang berpura-pura menjadi wakil presiden, padahal dialah presiden benaran.
Kita perlu pemimpin bangsa yang berterus terang dengan rakyatnya. Untuk itu, sang pemimpin harus lebih dulu mampu berterus terang dengan dirinya sendiri.
Maaf, kiranya di situlah pemimpin perlu stoicism, pandangan yang antara lain bilang ketika seseorang membumi dengan benar dalam hidupnya, dia tidak perlu melihat keluar untuk mendapatkan pengakuan.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved