Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
BERUNTUNGLAH negeri ini ada ATL (Asosiasi Tradisi Lisan). Jika pemerintah kerap bicara soal identitas bangsa, ATL inilah LSM kebudayaan, penjaga identitas bangsa terdepan, yang terus bergerak, beraktivitas di bidang kajian, penelitian, publikasi, dan pentas seni tradisi. Semangat dan dedikasi pada budaya yang plural inilah yang membuat ATL tak pernah surut melangkah selama 25 tahun ini.
Jika di Indonesia LSM kerap diasosiasikan hal yang kurang sedap, ATL justru berteguh di bidang yang mulia, tapi kerap dipandang sebelah mata justru oleh negara. ATL kerap memberi masukan perihal kebudayaan kepada pemerintah, termasuk memberikan masukan draf akademis ketika UU Pemajuan Kebudayaan masih dalam pembahasan.
Embrio ATL ialah Proyek Tradisi Lisan Nusantara (PTLN) yang bermula pada 1992, yang merupakan kerja sama pemerintah Belanda dan Indonesia dengan bantuan The Ford Foundation. Ia bergerak dengan tiga pendekatan: ilmu pengetahuan, publikasi, dan pementasan. Dalam Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan Nusantara I di TIM, Jakarta, 9-11 Desember 1993, disepakati PTLN berganti menjadi lembaga tetap yang disebut Asosiasi Tradisi Lisan.
Kini dalam usianya yang ke-25, ATL mempunyai kepengurusan di 28 provinsi dengan mitra kerja di berbagai negara. ATL diketuai Pudentia MPSS, pengajar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI). Pengurus ATL di daerah umumnya juga diketuai para akademisi, menyusul birokrat, dan aktivis kebudayaan.
Di ATL Pudentia memang telah menjadi ’bunda’. Ia memimpin LSM kebudayaan ini selama 25 tahun, tanpa kenal lelah, wajar jika sangat dekat dengan seluruh pengurus, termasuk di daerah. Duduk sebagai pelindung ATL ialah empat guru besar yakni Fasli Jalal, Edi Sedyawati, HMJ Maier, dan Yus Rusyana.
Di kediaman Pudentia pula, Jl Menteng Wadas Timur, Manggarai, Jakarta Selatan, ATL berkantor. Kapan saja, para pengurus ATL dan mitra luar negeri bisa datang tanpa dibatasi jam kantor. Sebelumnya, meski mendapat bantuan dari Ford Foundation, selama beberapa tahun kantor ATL berpindah-pindah karena tak cukup punya dana untuk sewa tempat.
Dengan totalitas kepemimpinan seperti itu, pemikir kebudayaan Taufik Rahzen pernah berujar, ATL tetap eksis karena ada figur seperti Pudentia. ”Ini memang khas organisasi kebudayaan di Indonesia. Jangan-jangan kalau rutin ada pergantian ketua, ATL malah tidak bisa bertahan,” kata Taufik suatu saat.
Pudentia lahir 8 Mei 1956 di Muntilan, Jawa Tengah, menyelesaikan gelar sarjana sastra modern di Fakultas Sastra (kini FIB UI), dan gelar doktor bidang tradisi lisan melalui program kerja sama UI dengan University of Leiden, Belanda, dan University of California, Berkeley, Amerika Serikat.
Ia juga Ketua Konsorsium Kajian Tradisi Lisan Direktorat Pendidikan Tinggi dan Ketua Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda (Intangiabel Cultural Heritage/ICH) Indonesia.
Dalam Konvensi UNESCO yang ditetapkan 16 Oktober 2003, tradisi lisan yang merupakan bagian dari ICH termasuk warisan budaya yang diutamakan untuk dipertahankan. Dengan posisinya itu, Pudentia kerap menjadi ’duta kebudayaan Indonesia’ karena seringnya hadir memenuhi undangan di perhelatan kebudayaan luar negeri.
Tradisi lisan sebagai karya budaya kreatif bukan hanya meliputi mite, legenda, dongeng, dan berbagai jenis cerita lainnya, tetapi juga sistem nilai, kearifan, dan pengetahuan tradisional. Konvensi itulah yang menguatkan gerakan di seluruh dunia mulai mengakui kebudayaan harus masuk kehidupan secara signifikan. Di masa silam, dunia, termasuk Indonesia, hanya mengutamakan pembangunan bidang ekonomi, politik, pertahanan, dan menafikan kebudayaan.
Kini di ulang tahun ke-25, ATL menggelar acara yang dipusatkan di Pekanbaru, Riau, 10-14 Desember ini, dengan tajuk Seminar Internasional dan Festival Seni Tradisi Se-ASEAN. Hadir sebagai pembicara puluhan akademisi, peneliti, dan penggiat kebudayaan dari dalam dan luar negeri.
ATL juga aktif mengupayakan beasiswa bagi mahasiswa S-2 dan S-3 kajian tradisi lisan di berbagai perguruan tinggi, antara lain di Universitas Indonesia, UGM, Undip, dan USU, yang jumlahnya makin tahun kian meningkat. Sejak 1993 hingga 2018, ATL sedikitnya juga telah menerbitkan 23 buku di bidang tradisi lisan. Tak hanya buku, ATL telah membuat 18 film, termasuk film layar lebar seperti Doa Anak Seorang Pemukul Bel dan Mengejar Embun ke Eropa.
Dirgahayu, Asosiasi Tradisi Lisan. Selamat terus berteguh membangun di ranah kultural. Justru bidang inilah yang amat fundamental dalam membangun karakter bangsa.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved