Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
BERAPA banyak orang yang menghadiri Reuni 212? Prabowo bilang dihadiri 11 juta orang. Dia protes karena jurnalis tidak memberitakan jumlah itu, bahkan ada yang menyebut hanya dihadiri ratusan orang.
Yang diprotes, bahkan dikecam, ialah jurnalis yang dibahasakan sebagai tidak dapat dipercaya. Sebagai jurnalis, kecaman itu menyuruh diri ini berkaca, setulusnya. Kenapa?
Pertama, kecaman tidak perlu dibalas dengan kecaman. Dalam kecam-mengecam, mungkin ada yang terluka. Sesama anak bangsa kenapa mesti ada yang melukai dan yang terlukai?
Kedua, sebuah profesi bukan kompetensi yang 'selesai', demikian sempurnanya. Termasuk jurnalisme. Karena itu, menerima kecaman dengan lapang dada dan pikiran terbuka justru petunjuk sejatinya kaum profesional.
Berapa banyak 'persisnya' orang yang hadir di acara Reuni 212? 'Persisnya' saya yakin tidak ada yang tahu. Juga Prabowo tidak tahu. Tuhan Mahatahu sepersis-persisnya, setepat-tepatnya.
Jurnalisme presisi (precision journalism) mengajarkan reporter di lapangan untuk berupaya secermat-cermatnya, sepersis mungkin. Contoh perkara yang gampang ialah meliput pertandingan sepak bola di Stadion Gelora Bung Karno yang kapasitasnya telah terukur. Jumlah tiket terjual pun bisa persis diketahui. Yang tidak diketahui dengan persis, berapa banyak yang masuk tanpa membayar? Berapa pula karcis palsu terjual?
Untuk liputan di Stadion Bung Karno itu, saya cuma mau bilang jurnalisme sampai pada angka minimal, tetapi tidak sampai pada angka yang persis sekalipun reporter telah dibekali jurnalisme presisi.
Di ruang publik yang terbuka, seperti kawasan Monas, belum pernah ada yang mengukur kapasitas/daya tampungnya. Namun, jurnalis pemula diajari ukuran standar. Di lapangan ia dapat melakukan verifikasi fakta, dengan menghitung jumlah kendaraan yang dipakai.
Sebuah bus besar antarkota antarprovinsi bermuatan 52 orang. Apa artinya? Jika 11 juta orang semua datang menggunakan bus jenis itu, kawasan Monas dan sekitarnya bakal dipenuhi 200 ribu lebih bus besar (tepatnya 211.538 bus). Sebuah jumlah yang dramatis.
Tidak semua datang dengan bus besar. Bila separuh naik bus besar dan separuh lagi naik bus mini yang berpenumpang 32, diperlukan 105 ribu lebih bus besar (tepatnya 105.679 bus) dan 170 ribu lebih bus mini (tepatnya 171.857). Total tepatnya 277.536 kendaraan.
Ada yang naik mobil sendiri, sebutlah Kijang Innova bermuatan delapan orang, termasuk sopir. Jika separuh yang hadir (5,5 juta orang) naik kendaraan itu, seperempat (2,250 juta) naik bus besar dan seperempat lagi naik bus mini, diperlukan 687.500 mobil Kijang, 43.269 bus besar, serta 70.312 bus mini. Total ada 801.081 kendaraan.
Bila naik sedan, lebih banyak lagi sedan diperlukan karena muatannya lebih sedikit. Naik sepeda motor hanya untuk dua orang. Katakanlah ada sejuta orang datang berjalan kaki ke Monas, yaitu mereka yang dari kediaman mereka naik angkutan umum, antara lain naik kereta api atau memarkir mobil mereka di semua gedung di sekitar Monas. Tetap saja Monas dan sekitarnya kiranya tidak cukup untuk menampung 11 juta orang dan ratusan ribu kendaraan.
Perbandingan lain ialah jumlah penduduk DKI Jakarta. Berdasarkan proyeksi pertumbuhan penduduk yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan, Badan Pusat Statistik dan United Population Fund, jumlah penduduk DKI Jakarta mencapai 10,47 juta jiwa. Sulit membayangkan kurang lebih sebanyak semua penduduk Jakarta berada di kawasan Monas merayakan Reuni 212.
Jurnalisme kiranya gagal meyakinkan dirinya sendiri secara objektif karena itu tidak membawanya ke ruang publik, bahwa sebanyak 11 juta orang yang menghadiri Reuni 212. Pertanyaan pokok, dari mana bisa sampai ke jumlah itu?
Kiranya diperlukan semacam pembuktian terbalik dari mereka yang menyebut jumlah 11 juta sebagai jumlah yang benar, yang faktual, yang dapat menjadi pembelajaran bagi jurnalis. Apa perlunya pembelajaran itu?
Jawab yang singkat dan padat ialah karena bagi jurnalis yang sejati, fakta itu suci. Kepada siapa pun, ajarilah kami untuk setia pada yang suci itu.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved