Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMAT komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menyoroti adanya kesenjangan tajam antara keinginan partai politik dengan aspirasi konstituen terkait wacana pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui DPRD. Merujuk pada hasil survei terbaru LSI Denny JA, mayoritas responden termasuk pendukung partai yang pro mekanisme pilkada lewat DPRD justru secara tegas menolak mekanisme tersebut.
Jamiluddin menilai, fenomena ini menunjukkan bahwa partai politik belum menjalankan fungsi idealnya dalam menyerap dan memperjuangkan aspirasi arus bawah.
"Seharusnya partai menjaring aspirasi konstituennya terlebih dahulu sebelum mendukung pilkada melalui DPRD. Jika kesenjangan ini tidak diatasi, konstituen akan merasa frustrasi karena partainya dinilai tidak aspiratif," ujar Jamiluddin melalui keterangannya, Kamis (8/1).
Mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta ini memperingatkan adanya potensi penolakan kolektif dari para pemilih. Jika konstituen dari berbagai partai bersatu menolak, hal itu dapat menghancurkan kepercayaan publik terhadap partai politik yang pada akhirnya akan berdampak buruk pada perolehan suara di pemilu mendatang.
"Bersatunya para konstituen dalam menolak wacana ini dapat menghilangkan kepercayaan mereka terhadap partai pendukung pilkada melalui DPRD. Implikasinya akan sangat terasa pada pemilu yang akan datang," tegasnya.
Dalam peta politik saat ini, Jamiluddin melihat posisi PDI Perjuangan (PDIP) yang konsisten menolak usulan pilkada dipilih DPRD akan mendapatkan nilai tambah di mata publik. PDIP diprediksi akan mendapatkan dukungan karena dianggap sejalan dengan keinginan mayoritas rakyat.
"Partai yang menolak pilkada melalui DPRD akan diuntungkan. PDIP bisa jadi akan mendapat berkah karena menjadi pihak yang menolak usulan tersebut," imbuhnya.
Jamiluddin meminta partai-partai yang tergabung dalam koalisi pendukung pilkada tidak langsung untuk segera melakukan evaluasi diri. Sebagai pilar demokrasi, partai politik semestinya mendahulukan suara rakyat daripada kehendak elite organisasi.
"Partai harus benar-benar mengacu pada aspirasi konstituen dalam membahas RUU. Jika aspirasi rakyat diakomodasi, tidak akan ada gejolak berarti saat masalah pilkada ini diputuskan. Rakyat akan puas dengan kinerja partai pilihannya," pungkas Jamiluddin. (Faj/P-3)
Direktur IPR, Iwan Setiawan, menyebutkan alokasi anggaran umum untuk Pilkada langsung tahun 2024 saja mencapai Rp38,2 triliun.
Kemendagri mendorong evaluasi rekrutmen politik dan sistem pilkada untuk menekan korupsi kepala daerah yang terus berulang meski pengawasan diperketat.
Pengamat politik Citra Institute Yusak Farchan menilai tingginya biaya politik dalam pilkada menjadi persoalan serius dalam demokrasi Indonesia.
Pilkada tak langsung bertentangan dengan semangat demokrasi lokal dan tidak menyelesaikan persoalan biaya politik tinggi.
Kepala Pusat Riset BRIN Mardyanto Wahyu Tryatmoko menilai wacana pilkada tidak langsung lewat DPRD tidak menjamin hilangnya politik uang dan justru berpotensi lebih mahal.
SISTEM pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung yang telah berjalan dua dekade dinilai gagal mewujudkan demokrasi substansial.
Kepala Pusat Riset BRIN Mardyanto Wahyu Tryatmoko menilai wacana pilkada tidak langsung lewat DPRD tidak menjamin hilangnya politik uang dan justru berpotensi lebih mahal.
Peneliti BRIN Siti Zuhro, yang hadir dalam pertemuan tersebut, mengatakan pembahasan pilkada tidak langsung tidak hanya berkaitan dengan mahalnya biaya politik.
Yusril Ihza Mahendra, menilai pemilihan kepala daerah (pilkada) secara tidak langsung melalui DPRD lebih efektif untuk menekan praktik politik uang.
PEMERINTAH menyatakan terbuka terhadap wacana penerapan kembali pemilihan kepala daerah (pilkada) secara tidak langsung melalui DPRD
PEMERINTAH menyatakan terbuka terhadap wacana perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah (pilkada), termasuk kemungkinan mengembalikannya menjadi pemilihan tidak langsung.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved