Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Di Titik Terlemah, Saya Dikuatkan

Deputi Bidang Komunikasi BPJS Ketenagakerjaan, Vidi H Simanjuntak
18/12/2025 13:43
Di Titik Terlemah, Saya Dikuatkan
Imam umat Katolik di Atambua, Romo Yosef Ukat Projo(Dok. Pribadi)

SETIAP hari Minggu, seorang imam umat Katolik bernama Romo Yosef Ukat Projo yang berasal dari Kecamatan Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara, di provinsi Nusa Tenggara Timur, selalu menempuh perjalanan yang tak pendek, dirinya menyusuri jalanan perbukitan perbatasan menuju Stasi Seroja Motaain, untuk memimpin misa bagi umat di wilayah paling timur Indonesia. Sejak tahun 1988 ia menjalani hidup sebagai imam, dan lebih dari tiga dekade itu ia curahkan untuk melayani, terutama di bidang pendidikan dan pastoral.

Namun hari Minggu, 16 Oktober 2022, menjadi titik balik yang tak pernah ia duga. Setelah tugas memimpin misa usai, dalam perjalanan kembali ke Atambua, Romo Yosef mengalami kecelakaan. Ia tiba-tiba kehilangan kesadaran saat mengendarai sepeda motor. Motor melaju sendiri, menabrak got, dan menyeret tubuhnya hingga helm yang ia kenakan hancur.

“Saya betul-betul tidak sadar. Tahu-tahu saya sudah berada di rumah sakit. Kata orang-orang, saya sempat tidak sadarkan diri selama berjam-jam,” kenangnya dengan suara lirih.

Di RSUD Atambua, Romo didiagnosis mengalami kerusakan parah pada lutut kiri, serta diperlukan pengawasan intensif untuk jantung dan kepala. Tim medis pun menyarankan perawatan lanjutan. Dari Atambua ia dirujuk ke RS Leona Kefamenanu, namun kondisi lutut semakin memburuk, bahkan dokter menyarankan untuk diamputasi. Pihak keluarga menolak, dan akhirnya Romo dirujuk lagi ke RS Siloam Kupang. Di sana, operasi tidak dapat dilakukan karena keterbatasan alat.

Hingga akhirnya, ia mendapat rujukan ke Rumah Sakit RKZ Surabaya. Di sinilah perjalanan penyembuhan akhirnya menemukan arah yang lebih jelas.

Operasi dan Rehabilitasi: Dari Nol Kembali Belajar Berdiri

Di Surabaya, tim medis yang menangani Romo bersikap komprehensif. Pemeriksaan ulang menyeluruh dilakukan. Diagnosis dikonfirmasi, dan Romo pun menjalani operasi besar di bagian lutut, dipimpin oleh dr. Glen, seorang dokter spesialis ortopedi.

“Mereka bersihkan semua sisa-sisa tulang yang hancur, lalu dipasangkan komponen baru. Prosesnya mulai jam 10, selesai jam 12 lewat sedikit, waktu itu saya tidak sadar, tahu-tahu operasi sudah selesai,” ucapnya.

Proses penyembuhan tidak selesai di ruang operasi. Setelah seminggu rawat inap, Romo menjalani fisioterapi intensif. Ia harus belajar berjalan dari awal, perlahan, dibantu tongkat, dibimbing naik turun tangga hingga diajak melatih keseimbangan. Semua dijalani dengan sabar, dua kali seminggu selama berbulan-bulan.

Dari bulan Mei 2023 hingga November 2023, hampir setiap minggu Romo keluar masuk fasilitas medis. Namun ia tidak pernah merasa sendiri.

“Saya mendapat banyak dukungan, dari keluarga, dari komunitas gereja, orang-orang terdekat dan yang tidak pernah saya duga sebelumnya, dukungan luar biasa datang dari BPJS Ketenagakerjaan,” katanya.

Perlindungan Sosial yang Tidak Sekadar Formalitas

Romo Yosef mulai menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan pada tahun 2021, setelah diajak oleh seorang relawan Perisai bernama Hieronymus Sumu. Ia tidak banyak bertanya saat itu, hanya merasa bahwa pasti ada hal baik mengikuti program negara ini, terlebih sebagai bentuk perlindungan pribadi. Ia tidak menyangka bahwa hanya dua tahun setelahnya, ia benar-benar membutuhkan perlindungan itu.

Selama seluruh proses perawatan, dari awal di Atambua, pindah ke Kefamenanu, dirujuk ke Kupang hingga harus menyebrang ke Surabaya, biaya pengobatan, rawat inap, operasi, serta penggantian penghasilan selama pemulihan sepenuhnya ditanggung oleh BPJS Ketenagakerjaan. Total biaya perawatan yang digunakan untuk mendukung Romo sembuh mencapai lebih dari Rp272 juta, termasuk santunan cacat dan manfaat JHT.

“Setiap kali ke rumah sakit, mereka (petugas rumah sakit) tanya siapa yang menanggung. Saya jawab: saya sudah terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan. Dan memang benar, saya tidak pernah keluar uang pribadi untuk biaya rumah sakit,” ujarnya.

Bagi Romo, perlindungan ini bukan soal besarannya. Tapi soal rasa aman, dan rasa bahwa ada sistem yang berjalan ketika keadaan darurat terjadi.

“Saya merasa didampingi. Mereka tidak hanya tanggung biaya, tapi juga rutin memantau kondisi saya. Menanyakan kemajuan, membantu proses administrasi. Itu sangat menenangkan saya dan keluarga di tengah kondisi krisis,” katanya.

Dari Pengalaman, Lahir Kesadaran Baru

Kini, setelah melalui fase terberat dalam hidupnya, Romo Yosef kembali ke komunitasnya. Ia belum sepenuhnya pulih, tapi cukup kuat untuk mulai mengajar dan melayani lagi secara terbatas. Dan dalam setiap kesempatan, ia tidak segan untuk berbagi cerita. Cerita bahwa akan selalu ada kekuatan bahkan ketika kita di titik terendah sekalipun.

“Setiap kali saya bertemu umat atau teman kerja, saya bilang: kalau bisa, ikutlah program perlindungan seperti ini. Bukan karena saya diutus promosi, tapi karena saya tahu seperti apa rasanya jika tidak punya perlindungan saat jatuh, ini bentuk lain anugerah Tuhan untuk saya,” tuturnya.

Romo tak menganggap ini sebagai mukjizat. Tapi sebagai bentuk tanggung jawab bersama yang bekerja sebagaimana mestinya.

“Kita hanya perlu satu hal: bersedia melindungi diri. Karena hidup bisa berubah dalam satu detik. Tapi kalau ada yang mendampingi, kita tidak perlu berjalan sendirian,” tutup Romo tersenyum. (RO/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik