Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Pembelajaran Mendalam dan Tuntunan Agama

Ali Saukah Guru Besar dan Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur
24/9/2025 05:00

DI banyak ruang kelas di Indonesia, belajar masih sering diidentikkan dengan menghafal. Anak-anak dianggap berhasil bila mampu menjawab soal ujian dengan tepat meskipun kadang tanpa benar-benar memahami apa yang mereka pelajari. Tidak jarang, begitu lembar jawaban dikumpulkan, hafalan pun hilang tidak berbekas.

Di ruang publik, kita sering dipertontonkan tayangan orang yang tidak mampu menghafal lima sila dalam Pancasila, dengan memberikan kesan seolah-olah sosok WNI yang tidak mampu menghafal Pancasila ialah WNI yang tidak Pancasilais. Terbentuklah kesan bahwa belajar identik dengan menghafal dan kesan bahwa kompetensi identik dengan kemampuan menghafal.

Itulah yang ingin diubah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) lewat kebijakan pendekatan pembelajaran yang disebut pembelajaran mendalam (deep learning). Konsep itu tidak sekadar menekankan apa yang dipelajari dan dihafal, tetapi bagaimana peserta didik memahami apa yang dihafal, membangun makna, mengaitkan ilmu dengan kehidupan nyata, dan merefleksikannya dalam sikap dan tindakan.

Selain itu, yang paling banyak menginspirasi munculnya kebijakan pendekatan pembelajaran mendalam ialah laporan Bank Dunia 2018 (terbit 2017) berjudul Learning to Realize Education’s Promise yang menyindir negara-negara berkembang yang mengeklaim peningkatan akses pendidikan yang tidak selalu diikuti peningkatan kualitas pembelajaran dengan sebutan 'schooling without learning', alias sekolah tetapi tidak memperoleh apa-apa selain ijazah saja.

Bagi Indonesia, sindiran itu sangat menyakitkan hati karena mungkin merasa menjadi salah satu negara yang menjadi target sindiran. Hasil PISA 2022 menunjukkan 99% murid Indonesia usia 15 tahun hanya mampu menjawab soal level 1-3 taksonomi Bloom’s, yang dianggap sebagai soal tingkat rendah tuntutan berpikirnya (lower order thinking skills), dan hanya 1% yang mampu menjawab soal level 4-6 taksonomi Bloom’s, yang dianggap sebagai soal tingkat tinggi (higher order thinking skills).

Oleh karena itu, Kemendikdasmen menganggap kebijakan tentang pendekatan pembelajaran mendalam merupakan kebijakan yang sangat strategis dalam memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga muncullah tagline yang saat ini menjadi sangat populer: Pendidikan bermutu untuk semua. Konsep pembelajaran mendalam itu digambarkan dalam kerangka kerja berbentuk empat lapis. Lapis pertama ialah kerangka pembelajaran yang terdiri atas praktik pedagogis, lingkungan pembelajaran, kemitraan pembelajaran, dan pemanfaatan digital.

Lapis kedua ialah pengalaman belajar sebagai proses yang dialami peserta didik dalam pembelajaran, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Lapis ketiga ialah prinsip pembelajaran yang merupakan dasar karakteristik pembelajaran mendalam, yaitu berkesadaran, bermakna, menggembirakan.

Lapis keempat ialah delapan dimensi profil lulusan yang akan dicapai, yaitu keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME, kewargaan, kreativitas, penalaran kritis, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Menariknya, bila kita menengok khazanah Islam, prinsip-prinsip pembelajaran mendalam itu sejalan dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis.

 

KEMITRAAN PEMBELAJARAN, SUASANA PEMBELAJARAN, DAN PEMANFAATAN DIGITAL

Pertama, kemitraan. Pendidikan tidak hanya tanggung jawab guru. Orangtua, masyarakat, dan bahkan sesama murid ialah mitra dalam belajar. Al-Qur’an menegaskan: 'Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa' (QS Al-Maidah [5]:2). Nabi Muhammad SAW pun menggambarkan persaudaraan itu seperti bangunan yang saling menguatkan. Dalam konteks kelas, itu berarti guru bukan lagi 'sumber segalanya', melainkan rekan belajar yang bersama-sama membimbing murid menemukan jalan terbaik mereka.

Kedua, suasana belajar. Banyak riset pendidikan membuktikan anak akan belajar lebih efektif bila ia merasa aman, dihargai, dan diterima. Hal itu sudah diingatkan dalam Al-Qur’an: 'Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik' (QS An-Nahl [16]:125). Rasulullah SAW pun berpesan: “Mudahkanlah dan jangan persulit, gembirakanlah dan jangan buat orang lari.” (HR Bukhari-Muslim). Pesan itu seakan menegur praktik belajar yang penuh ancaman, hukuman, dan tekanan memperoleh nilai hasil asesmen.

Ketiga, pemanfaatan teknologi digital. Zaman sekarang ialah zaman teknologi. Anak-anak tumbuh bersama gawai, internet, dan media sosial. Alih-alih mengutuk teknologi, pendidik diajak memanfaatkannya secara positif. Bukankah wahyu pertama sudah menekankan pentingnya membaca dengan perantara alat? 'Dia mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam' (QS. Al-‘Alaq [96]:4). Ayat itu masih berpeluang untuk dimaknai sesuai dengan perkembangan teknologi zaman sekarang.

 

PRINSIP PEMBELAJARAN: BERKESADARAN, BERMAKNA, MENGGEMBIRAKAN

Belajar dengan berkesadaran juga berarti belajar dengan menyadari tujuan hidup dan hubungannya dengan Allah. Al-Qur’an mengingatkan: 'Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri' (QS Al-Hasyr [59]:19). Pendidikan seharusnya membantu anak mengenali dirinya, bukan hanya melatih otaknya.

Pembelajaran yang bermakna menekankan perlunya ilmu yang relevan dengan kehidupan. Ilmu yang tidak dipraktikkan diibaratkan keledai yang memikul kitab tebal tanpa tahu isinya (QS Al-Jumu’ah [62]:5). Banyak anak bertanya, “Untuk apa saya belajar ini?” Pembelajaran mendalam menjawabnya dengan mengaitkan pelajaran dengan kehidupan nyata.

Pembelajaran yang menggembirakan artinya belajar harus membawa sukacita. Rasulullah SAW mengajarkan: “Mudahkanlah, gembirakanlah.” Pendidikan yang menakutkan hanya akan melahirkan anak yang tertekan, bukan yang cinta ilmu.

 

PENGALAMAN BELAJAR: MEMAHAMI, MENGAPLIKASI, MEREFLEKSI

Memahami ialah inti pertama. Al-Qur’an berulang kali menegur: 'Apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an?' (QS Muhammad [47]:24). Artinya, pemahaman lebih penting daripada hafalan semata. Pengalaman belajar mengaplikasi menegaskan ilmu harus diwujudkan dalam amal. 'Katakanlah: beramallah kamu maka Allah akan melihat pekerjaanmu' (QS At-Taubah [9]:105).

Murid yang belajar biologi, misalnya, diajak menjaga kebersihan lingkungan. Merefleksi memberikan ruang untuk menimbang kembali pengalaman. Al-Qur’an menyuruh kita mengambil pelajaran dari peristiwa: '… ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan' (QS Al-Hasyr [59]:2). Refleksi membantu murid menyadari makna setiap perjalanan belajar.

 

DELAPAN DIMENSI PROFIL LULUSAN

Hasil dari proses pembelajaran mendalam ialah profil lulusan dengan delapan dimensi utama. Menariknya, semua dimensi itu juga memiliki dasar dalam Qur’an dan hadis.

Pertama: keimanan dan ketakwaan, QS Al-Baqarah [2]:2 menegaskan petunjuk hanya bagi orang bertakwa. Kedua: kewargaan, QS Al-Hujurat [49]:13 menegaskan pentingnya hidup bersama dalam keragaman. Ketiga: penalaran kritis, QS Az-Zumar [39]:18 memuji orang yang mendengarkan lalu memilih yang terbaik.

Keempat: kreativitas, QS Al-Mu’minun [23]:14 mengingatkan Allah ialah 'sebaik-baik pencipta', inspirasi bagi manusia untuk berkarya.

Kelima: kolaborasi, QS Al-Maidah [5]:2 menyeru bekerja sama dalam kebaikan. Keenam: kemandirian, QS Ar-Ra’d [13]:11 menegaskan perubahan dimulai dari diri sendiri.

Ketujuh: kesehatan, QS Al-Baqarah [2]:195 melarang menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan. Kedelapan: komunikasi, QS Ar-Rahman [55]:4 menyebut Allah mengajarkan manusia pandai berbicara.

Hadis-hadis Nabi semakin memperkuatnya. Misalnya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR Bukhari-Muslim) menegaskan pentingnya komunikasi santun.

Laporan lembaga internasional seperti OECD dengan tes PISA (Programme for International Student Assessment) mereka menegaskan pentingnya kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, karakter, dan kewargaan global. Keenam keterampilan itu kini populer dengan sebutan 6C’s of 21st century skills. Delapan dimensi profil lulusan dalam konsep pembelajaran mendalam menambah dua dimensi lagi menjadi delapan setelah menyesuaikan dengan kekhasan filosofis yang berlaku di Indonesia.

Walaupun mungkin belum teridentifikasi adanya sekolah di Indonesia yang telah melakukan kajian dan mengimplementasi konsep pembelajaran mendalam yang dikaitkan dengan kitab suci agama, contoh yang menginspirasi datang dari Noori Muslim School di Sydney, Australia. Sekolah Islam itu dengan sadar mengintegrasikan profil keterampilan abad ke-21 dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis Nabi. Mereka tidak hanya mengajarkan murid untuk cakap secara intelektual, tetapi juga menumbuhkan spiritualitas yang kukuh.

Dari sekolah tersebut, dapat dikatakan bahwa keterampilan abad ke-21 bukanlah sesuatu yang sekuler semata, melainkan hal yang dapat dirangkai dengan nilai Islam. Jadi, yang biasa disebut sebagai keterampilan atau kompetensi abad ke-21 akan juga dapat dinyatakan sebagai keterampilan atau kompetensi sepanjang hayat sesuai dengan 'kesepanjanghayatan' ajaran kitab suci agama. Noori Muslim School mengembangkan kurikulum mereka, dengan menempatkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis sebagai fondasi moral dalam mengajarkan keterampilan modern.

 

PEMBELAJARAN YANG MEMBUMI DAN MENJULANG

Dengan kerangka seperti itu, pembelajaran mendalam bukanlah konsep asing yang datang dari luar. Ia justru menemukan akarnya dalam nilai-nilai Islam yang sejak awal menekankan keseimbangan antara akal, hati, dan amal. Bayangkan sebuah kelas bahasa Inggris, misalnya. Guru tidak hanya melatih murid menghafal kosakata, tetapi juga memberikan proyek membuat kampanye lingkungan dalam bahasa Inggris.

Di sana ada kolaborasi, kreativitas, komunikasi, dan refleksi. Nilai itu sejalan dengan sabda Nabi: “Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR Ahmad). Pendidikan semacam itu tidak hanya membentuk anak yang mampu menjawab soal ujian, tetapi juga membentuk pribadi yang cerdas, beriman, bertakwa, sehat, dan peduli.

Kerangka pembelajaran mendalam dengan kerangka pembelajaran, prinsip, pengalaman, dan delapan dimensinya ialah konsep yang berperanan sebagai penguatan yang bersifat holistis dalam pendidikan nasional karena sifatnya yang memperkuat praktik-praktik baik pembelajaran di semua mata pelajaran dalam kurikulum. Yang lebih penting lagi, kerangka kerja pembelajaran mendalam mengandung nilai-nilai filosofis yang selaras dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis, yang dapat menginspirasi kajian-kajian serupa untuk sekolah-sekolah yang memiliki kekhasan agama lainnya.

Integrasi itu membuktikan pembelajaran mendalam dapat sekaligus membumi—relevan dengan konteks global dan kebutuhan masyarakat—dan menjulang—berakar pada nilai wahyu yang luhur. Jika pembelajaran mendalam benar-benar dijalankan sesuai dengan konsepnya, diharapkan akan lahir generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga bijak; tidak hanya cakap global, tetapi juga kukuh spiritual; tidak hanya mengejar karier, tetapi juga menebar manfaat. Itulah yang dimaksud Al-Qur’an sebagai 'umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia' (QS Ali Imran [3]:110).

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik