Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Melahirkan Entrepreneur melalui Student Company

Biyanto Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antarlembaga, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
21/1/2026 05:00
Melahirkan Entrepreneur melalui Student Company
(MI/Seno)

DALAM pepatah berbahasa Latin dikatakan, ‘Non scholae, sed vitae discimus’. Ungkapan ini berarti, ‘Kita belajar bukan semata untuk sekolah, melainkan juga untuk hidup’. Dalam dunia pendidikan, peribahasa ini tentu sarat makna. Karena itulah, lembaga pendidikan penting menyiapkan kompetensi dan keterampilan yang dibutuhkan murid agar siap menghadapi tantangan dalam kehidupan.

Penyelenggara pendidikan dan pendidik juga penting menelaah hasil survei World Economic Forum (WEF) bertajuk 21st Century Skills: 10 Essential Skills Every Student Will Need for the Future (2025). Survei ini menunjukkan 10 keterampilan yang dibutuhkan abad ke-21. Di antaranya, keterampilan berpikir analitik dan kreatif, daya tahan alias tangguh, adaptif dan lincah, kepemimpinan dan komunikasi, literasi teknologi, empati, motivasi diri, dan rasa ingin tahu.

WEF juga melakukan survei tentang Fastest-Growing Jobs and Fastest-Declining Jobs, 2025-2030. Survei ini menarik karena menunjukkan jenis pekerjaan yang terus bertumbuh. Sebaliknya, ada beberapa pekerjaan yang akan hilang pada 2025-2030.

Pekerjaan yang terus bertumbuh ialah bidang big data, kecerdasan buatan, serta profesional teknologi dan informasi dalam berbagai platform. Hasil survei WEF juga menginformasikan berbagai pekerjaan yang akan hilang, seperti petugas layanan pos, teller bank, kasir, dan staf administrasi.

Hasil survei tersebut penting menjadi rujukan agar materi yang diajarkan kepada murid relevan dengan tantangan zaman. Terasa ironis jika murid diajarkan materi yang berbeda dengan kebutuhan dunia nyata. Dalam suatu kata bijak dikatakan, “Allimu auladakum fainnahum saya’isyu lizamanihim ghaira zamanikum.” Ungkapan ini berarti, “Didiklah anak-anakmu dengan materi dan metode yang relevan, karena mereka akan hidup pada era yang berbeda dengan zaman kamu.”

Pada konteks itulah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan kebijakan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Di antara prinsip pembelajaran mendalam ialah meaningful learning (pembelajaran bermakna). Prinsip ini menekankan pentingnya mengajarkan materi yang berkorelasi dengan kehidupan nyata. Bahkan ditekankan bahwa guru tidak harus mengajarkan banyak materi. Yang penting materi itu dipelajari secara mendalam sehingga murid merasakan manfaatnya.

Pembelajaran mendalam juga meniscakan pentingnya murid memiliki lebih banyak pengalaman nyata. Dalam kaitan ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengenalkan prinsip less but more (sedikit materi pembelajaran, tapi kaya pengalaman). Materi yang dipelajari murid boleh jadi lebih sedikit daripada tuntutan kurikulum. Namun, murid dituntut memiliki lebih banyak pengalaman. Dengan begitu, murid tidak mempelajari sesuatu yang abstrak-mengawang, melainkan sesuatu yang konkret-nyata dalam kehidupan.

 

STUDENT COMPANY

Berkaitan dengan minimnya kompetensi keterampilan lulusan sekolah menengah, maka diperlukan langkah strategis untuk memberikan wawasan di bidang entrepreneurship (kewirausahaan) bagi murid. Penanaman jiwa entrepreneurship salah satunya dapat dilakukan dengan cara mengembangkan student company (SC) di sekolah.

Secara teknis SC dapat dipahami sebagai sekumpulan murid yang memiliki minat dan bakat pada kegiatan kewirausahaan. SC berfungsi sebagai pembelajaran kepada murid mengenai sistim operasi pengelolaan usaha dalam bentuk koperasi atau perusahaan dengan beragam kegiatan bisnis secara riil.

Melalui SC, anak-anak berkesempatan untuk mendapatkan pembelajaran ekonomi bisnis dengan menggunakan pendekatan layaknya sebuah perusahaan. Dalam pelaksanaannya, SC dapat diposisikan sebagai program ekstrakurikuler, seperti halnya unit-unit kegiatan kesiswaan, kerohanian, dan pecinta alam.

Agar dalam pelaksanaan kegiatan dapat berjalan optimal, peran guru pendamping sangat dibutuhkan. Guru pendamping berfungsi sebagai konsultan dalam kegiatan bisnis yang dilakukan anggota SC. Dalam peraturan mengenai laporan kinerja guru, posisi guru pendamping kegiatan murid dapat dikonversi menjadi jam pelajaran. Karena itu, guru tidak perlu khawatir kehilangan waktu mengajar.

Keinginan mengembangkan wawasan kewirausahaan di sekolah melalui pembentukan SC mungkin tidak semudah yang dibayangkan. Sebab, sangat mungkin yang menjadi halangan kegiatan tersebut ialah berkaitan dengan kesiapan murid dan orangtua. Dalam hal ini murid dan orangtua dapat merasa terbebani kegiatan tambahan yang sepintas tidak berkaitan dengan peningkatan kemampuan akademik anak-anak.

Pada konteks itulah, perlu dilakukan sosialisasi yang lebih intensif kepada murid dan orangtua mengenai urgensi kegiatan SC di sekolah. Unit usaha atau unit produksi di sekolah juga penting diperkuat sebagai laboratorium murid untuk mengembangkan SC. Terutama di level SMA dan SMK. Bahkan untuk SMK, keberadaan unit produksi menjadi sebuah keniscayaan. Hal itu karena lulusan SMK sebagian besar memang diproyeksikan untuk bekerja.

Karena itu, sungguh terasa ironis jika kita membaca data jumlah pengangguran lulusan SMK ternyata cukup tinggi, yakni mencapai 8,63%. Sementara tingkat pengangguran lulusan SMA menyusul dengan 6,88%. Lebih ironis lagi, lulusan perguruan tinggi (D-IV, S-1, S-2, S-3) juga memiliki tingkat pengangguran mencapai 5,39% (Badan Pusat Statistik, Agustus 2025).

Untuk meminimalkan kekhawatiran murid dan orangtua, kegiatan SC tidak perlu dianjurkan bagi siswa kelas tiga agar mereka dapat lebih fokus menghadapi studi lanjut di perguruan tinggi. Kegiatan SC dapat dilaksanakan dengan melibatkan murid kelas satu dan kelas dua jenjang pendidikan menengah. Dalam rentang waktu dua tahun itulah, siswa diharapkan memperoleh pengalaman praktis yang berkaitan dengan dunia usaha.

Melalui kegiatan SC, anak-anak memperoleh pengalaman layaknya seorang wirausaha. Pengalaman itu meliputi: cara mendapatkan pekerjaan (getting a job), sukses dalam bekerja (succeeding at a job), memecahkan permasalahan (problem solving), bekerja dengan profesional (acting professionally), menghargai waktu (respecting time), dan membangun kepercayaan diri (building confidence).

Beberapa keterampilan tersebut tentu tidak diperoleh anak-anak tatkala belajar di ruang kelas. Pengalaman itu diperoleh melalui kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan dunia usaha.

Internalisasi nilai-nilai dan praktik berwirausaha yang dimulai dari sekolah pada saatnya akan berdampak pada lahirnya sebanyak mungkin entreprene. Ingat, negeri tercinta dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia ini baru memiliki sekitar 2% entrepreneur

.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya