Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMPONEN pendapatan dan belanja dalam suatu APBN telah umum diketahui dan cukup familiar bagi masyarakat. Itu karena dua komponen tersebut tecantum jelas dalam kepanjangannya, yaitu anggaran pendapatan dan belanja negara.
Sejauh ini, proporsi belanja juga selalu lebih besar dari pendapatannya. Selisih antara belanja dan pendapatan inilah yang kemudian diisi oleh komponen ketiga dalam APBN, yaitu Pembiayaan.
Dalam struktur kenegaraan, pengelolaan pembiayaan untuk APBN dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan. Unsur pembiayaan tersebut terdiri dari sejumlah instrumen seperti pinjaman, hibah, serta surat berharga negara (SBN).
Secara sederhana, surat berharga didefinisikan sebagai dokumen yang mempunyai nilai ekonomis dengan fungsi utamanya sebagai pengesahan atas kepemilikan hak tertentu dan dapat digunakan untuk bertransaksi. Dengan begitu dapat diartikan bahwa SBN merupakan surat berharga yang secara resmi diterbitkan oleh negara.
SBN dibagi menjadi dua kelompok, yaitu surat utang negara (SUN) dan surat berharga syariah negara (SBSN). Berdasarkan UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara, adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia, sesuai dengan masa berlakunya.
Sementara SBSN atau dapat disebut sukuk negara, adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing, seperti yang dijabarkan dalam UU Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.
Selain sebagai komponen pembiayaan APBN, penerbitan SBN juga bertujuan untuk menutup kekurangan kas jangka pendek serta mengelola portofolio utang negara. SBN juga menjadi salah satu alternatif instrumen investasi yang relatif bebas risiko gagal bayar, dan memberikan peluang bagi investor dan pelaku pasar untuk melakukan diversifikasi portofolionya guna memperkecil risiko investasi.
Anak muda berminat
Poin inilah yang menjadi daya tarik utama SBN di antara instrumen investasi lainnya. Di situ ada kemudahan, keamanan, kepastian serta tingkat risiko yang rendah menjadikan SBN sebagai instrumen investasi yang semakin diminati berbagai kalangan, terutama generasi muda dalam rentang usia 25-40 tahun.
Kalangan yang merupakan usia produktif ini belakangan selalu mendominasi jumlah investor yang membeli SBN, baik yang berbentuk konvensional seperti obligasi negara ritel (ORI) dan savings bond ritel (SBR), maupun yang berbasis syariah seperti sukuk ritel (SR), sukuk tabungan (ST) dan cash waqf linked sukuk (CWLS) ritel.
Berbagai jenis SBN ini menawarkan kupon atau tingkat imbalan tertentu yang akan diperoleh oleh investor setiap bulannya. Beberapa jenis SBN bahkan bisa lebih fleksibel karena dapat dijual kembali di pasar sekunder atau 'ditarik' dana pokoknya sebelum jatuh tempo. Investor juga tidak perlu khawatir akan keamanan dan risiko gagal bayar atas investasi di SBN karena penjaminnya adalah negara sendiri.
Generasi muda dikenal sebagai kalangan yang melek teknologi dan familiar dengan berbagai sistem digital. Ini juga menjadi alasan mengapa SBN semakin banyak dipilih menjadi instrumen investasi mereka. Sebab, para investor muda ini dapat mengaksesnya dengan cepat dan praktis melalui gawai yang dipakai sehari-hari, tanpa perlu repot mengurus beragam aturan, dan tanpa perlu berpindah ke sana ke mari.
Jika menyelisik lebih dalam, popularitas SBN di kalangan generasi muda ini juga turut dipengaruhi oleh unsur kebanggaan dan cinta Tanah Air. Sebab, para investor muda akan merasa dilibatkan dan ikut andil dalam pembangunan nasional serta memperkuat ketahanan perekonomian negara. Hasil penerbitan dan penjualan SBN ini tentunya akan dimanfaatkan untuk menyejahterakan bangsa melalui APBN, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi dan lainnya.
Pada akhirnya, SBN menjadi salah satu solusi yang tepat untuk pembiayaan di APBN dan akan sama-sama bermanfaat bagi kedua belah pihak. Negara mendapatkan sumber pembiayaan, dan masyarakat pun mendapatkan opsi investasi yang aman, praktis serta menguntungkan.
Kepala Anggota Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Rudianto Setiawan, menyampaikan pandangannya terhadap prospek industri perdagangan berjangka.
Prediksi harga emas Senin 23 Februari 2026 diperkirakan masih dalam tren positif. Simak faktor dolar AS, suku bunga, dan sentimen global yang memengaruhi pasar.
Lanskap pasar keuangan global pada 2026 diperkirakan memasuki fase baru yang lebih kompleks.
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS. Penguatan dolar dan naiknya probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Maret 2026 menekan pergerakan rupiah.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk meninggalkan sikap wait and see atau bereaksi menunggu terhadap dinamika pasar.
Pasca penunjukan Thomas Aquinas Muliatna (AM) Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), pasar keuangan domestik menunjukkan respons positif.
Berdasarkan data Bappenas, kebutuhan investasi infrastruktur nasional mencapai lebih dari Rp6.000 triliun, namun baru sekitar 40% yang bisa dibiayai lewat APBN dan APBD.
Pencatatan sukuk ini merupakan hasil dari konsistensi dan komitmen bank dalam menjawab tantangan industri perbankan syariah yang semakin kompetitif dan dinamis.
PT Bank Negara Indonesia (BNI) terus berupaya memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk berinvestasi.
Dana hasil penerbitan akan digunakan untuk penguatan struktur permodalan dan ekspansi pembiayaan berbasis akad murabahah kepada nasabah pada segmen produktif dan konsumtif.
Perusahaan juga mencatat peningkatan signifikan dalam total nilai penjaminan emisi obligasi dan sukuk sebesar Rp14,6 triliun pada 2024.
Pasar obligasi Indonesia dipandang memiliki tingkat likuiditas yang tinggi. Sejumlah sektor pun menawarkan potensi yang cerah untuk para investor, seperti asuransi dan dana pensiun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved